I Wayan Widia Pengembala Itik Menjadi Komposer

  • By I Wayan Dibia
  • 02 Februari 2025
Pustaka Ekspresi

Penulis: I Wayan Dibia

Tata Letak: I Made Sugianto

Cover: Repro 

Tebal: 77 halaman

Ukuran: 14 x 20 cm

 

Buku ini ditulis dengan tujuan utama untuk mendokumentasikan kisah-kisah perjuangan menarik dan unik seorang seniman dalam mengarungi jagat seni yang selama ini belum banyak terungkap. Selaku penulis saya merasa bahwa kisahkisah seperti ini perlu diungkap agar bisa dijadikan cermin terutama oleh para seniman muda agar mereka bisa lebih siap dalam menghadapi berbagai rintangan dan tantangan yang mungkin mereka alami dalam berkesenian.

I Wayan Widia, seniman yang saya angkat dalam tulisan ini, adalah seorang teman baik, seniman karawitan serba bisa, pemain/penabuh hebat dan komposer andal, yang dalam kiprahnya di jagat seni telah berhasil melewati berbagai rintangan yang sungguh tidak ringan. Sejak usia belia ia menjadi penabuh dan pembina yang sudah melatih ke banyak desa, setelah dewasa ia menjadi komposer yang mampu menghasilkan sejumlah karya musik gamelan, dan setelah memasuki usia tua ia masih tetap berkarya walaupun lebih banyak memosisikan diri sebagai pembina dan pengamat seni.

Tulisan ini dirangsang oleh sebuah percakapan bebas ketika saya dan Wayan Widia ditunjuk menjadi juri Festival Mapang Barong dan Makendang Tunggal Superstar ke 7 di Pura Taman Ayun, tanggal 23-24 Agustus 2024. Sebelum festival dimulai, secara santai saya minta Wayan Widia untuk mengirimkan biografi singkatnya untuk dimasukkan ke sebuah tulisan yang sedang saya siapkan. Di luar dugaan, permintaan saya diresponnya dengan kiriman cerita yang cukup panjang melalui WhatsApp. Setiap pertanyaan yang saya ajukan, dengan tujuan minta klarifikasi, dijawabnya dengan cerita-cerita tentang dirinya yang selama ini belum pernah saya dengar. Setelah menerima informasi yang cukup banyak, walau melalui WhatsApp dan dengan kalimat-kalimat yang sederhana, termasuk ada beberapa kalimatnya yang agak sulit saya pahami apa maksudnya, saya merasa bahwa kisah perjalanan panjang seorang Wayan Widia perlu ditulis walaupun hanya ke dalam sebuah buku kecil.

Sebagai penulis, dalam menulis buku kecil ini, saya berusaha secara obyektif dan kritis menuangkan semua informasi yang saya terima dari Wayan Widia melalui WhatsApp. Beberapa informasinya yang saya rasa agak meragukan saya konfirmasikan lagi dengan sumber-sumber yang dapat dipercaya, termasuk anggota keluarga kecil dan teman-teman dekatnya. Juga perlu saya sampaikan bahwa dalam tulisan ini tidak ada maksud saya untuk mengkultuskan seorang Wayan Widia, atau seperti ungkapan sekarang “membuayakan seekor kadal” melainkan untuk “membuayakan seekor buaya.’


TAGS :

I Wayan Dibia

I Wayan Dibia, guru besar purna bakti Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar kelahiran Desa Singapadu-Gianyar. Pelaku, pengamat, penulis, dan pencipta seni pertunjukan, ia telah berguru dengan sejumlah empu untuk memperdalam seni pertunjukan Bali. Ia memperoleh gelar Seniman (setingkat) Sarjana Tari (SST) dari Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI) Yogyakarta pada tahun 1984, gelar M.A. di bidang tari tahun 1992 dan gelar Ph.D di bidang seni pertunjukan Asia Tenggara, keduanya dari University of California, Los Angeles (UCLA), Amerika Serikat.

Komentar