Geguritan Sraya Kanti Atma Luwih

  • By I Made Sugianto
  • 06 Juni 2023
Pustaka Ekspresi

GEGURITAN Sraya Kanti Atma Luwih mengisahkan empat orang tokoh, I Wayahan Sraya, I Madé Kanti, I Nyoman Atma, I Ketut Luwih yang membelajarkan dirinya pada seorang suci, Sang Maha Maha Dwija di sebuah perguruan yang sepi. Keempatnya diberikan kesempatan untuk mengungkapkan hasil permenungannya terhadap kehidupan. Kehidupan dengan beragam isinya dan beragam pula wujudnya perlu direnungkan dalam kehidupan agar selalu berjalan di jalan kebenaran. I Wayahan Sraya mengisahkan seorang tokoh I Baru yang setiap hari mendampingi seorang suci. Vibrasi kesucian tentulah juga dirasakan oleh I Baru karena teramat sering bersemuka dengan tokoh suci. I Made Kanti menceritakan perubahan zaman juga nilai-nilai kehidupan yang bisa diteladani. I Nyoman Atma mengisahkan seseorang yang mandi menyucikan diri agar tetap suci dalam diri. I Ketut Luwih mengisahkan dua tokoh Sri Singha yang mengusai hutan yang tidak puas dengan kekuasaannya hingga ingin merebut kekuasaan Sri Kania Kidang Kancana. Sri Singha dibantu oleh para mantri seperti harimau, gajah, warak, dan ular. Dikisahkan kerajaan Sri Kania Kidang Kencana yang tertata dan dalam setiap hari suci melakukan diskusi sastra dan beberapa karya sastra tercipta. Melihat kenyataan itu, semakin bertambah keinginan Sri Singha untuk menikahi Sri Kania Kidang Kancana. Sri Kania Kidang Kancana vi GEGURITAN į¹ RAYA KANTI ATMA LUWIH tidak bersedia menikah dan pertempuran tidak bisa dielakkan. Keduanya berkelahi dan keduanya mati. Dua kerajaan tidak ada rajanya. Datanglah manusia berhati jahat membabat hutan hingga gundul dan dampaknya panas berkepanjangan, saat bulan keempat kalender Bali (Sasih Kapat/Kartika) terjadi bencana semua pohon-pohon hanyut penyakit pun mulai muncul. Setelah keempatnya merasa cukup memiliki ilmu pengetahuan, dipersilakan untuk mencari tempat masingmasing. Tempat yang benar, tempat yang memunculkan kesucian dan kebenaran


TAGS :

I Made Sugianto

I Made Sugianto lahir di Banjar Lodalang, 19 April 1979 bertepatan Wraspati Wage Dungulan (Sugian Jawa). Kini istirahat sejenak dari pekerjaan sebagai wartawan NusaBali untuk mengbadi sebagai Kepala Desa di tanah kelahirannya, Desa Kukuh, Kecamatan Marga, Tabanan.

Komentar