PEMASUPATIAN DAN PENGEREHAN (Sakralisasi, Petapakan, Taksu, dan Kesadaran Niskala dalam Tradisi Bali

  • By I Made Sugianto
  • 06 September 2026
Pustaka Ekspresi

Pemasupatian dan pengerehan hidup di dalam ruang tradisi yang tidak dapat dipahami hanya melalui definisi kamus atau urutan upacara. Keduanya berhubungan dengan dresta, kewenangan ritual, sejarah sebuah petapakan, hubungan masyarakat dengan pura dan setra, disiplin seorang pemangku atau sulinggih, pengetahuan aksara, cara suatu komunitas memaknai taksu, serta pengalaman sekala dan niskala yang diwariskan melalui praktik. Karena alasan itu, buku ini tidak berusaha membuat satu rumus yang dipaksakan berlaku bagi seluruh Bali. Kesamaan pola tetap dibahas, tetapi perbedaan dresta ditempatkan sebagai kenyataan penting yang justru menunjukkan bahwa tradisi Bali bertahan melalui kesinambungan, penyesuaian, dan tanggung jawab komunitas. Sumber yang digunakan di dalam buku ini dipilih berdasarkan keterlacakan. Kajian mengenai Pasupati dan pretima dibandingkan dengan penelitian tentang sakralisasi Barong-Rangda, kajian taksu, studi teks lontar, penelitian mengenai ruang setra, penelitian pertunjukan Calonarang, serta karya filologi yang membahas susastra Kawi dan tradisi Śiwa-Buddha di Nusantara. Dengan cara ini, pembahasan tentang dunia niskala tidak dipaksa menjadi laporan laboratorium, tetapi juga tidak dibiarkan menjadi kumpulan cerita tanpa batas. Pengalaman religius dihormati sesuai kerangka masyarakat pemilik tradisi, sementara klaim sejarah, etimologi, teks, dan struktur ritual diperiksa dengan ukuran akademis yang berbeda.

Buku ini juga mengambil sikap tegas terhadap mantra. Formula yang beredar tanpa naskah, tanpa edisi, tanpa keterangan pemilik tradisi, atau tanpa konteks tidak dimasukkan sebagai mantra otoritatif. Petikan Kawi yang hadir pada bagian tertentu dipilih sebagai bahan pembacaan filologis dan pemahaman istilah, bukan sebagai petunjuk pelaksanaan ritual tertutup. Sikap tersebut penting sebab kesakralan tidak bertambah hanya karena sebuah kalimat diberi label mantra; kesakralan bertumpu pada sumber, pewarisan, kelayakan, konteks, dan kewenangan yang menghidupkannya.


TAGS :

I Made Sugianto

I Made Sugianto lahir di Banjar Lodalang, 19 April 1979 bertepatan Wraspati Wage Sungsang (Sugian Jawa). Kini istirahat sejenak dari pekerjaan sebagai wartawan NusaBali untuk mengbadi sebagai Kepala Desa di tanah kelahirannya, Desa Kukuh, Kecamatan Marga, Tabanan.

Komentar