Puisi-puisi Amanda Amalia Putri
By Amanda Amalia Putri- 19 Agustus 2026
Abu-Abu di Ujung Jalan Buntu
Malam ini duduk di ujung jalan buntu
Dimana segala sesuatunya terasa abu-abu
Dimana diam, tawa, tatapan menjadi lebih dingin
Menimbulkan seribu tafsir
Sekali baca langsung terbayang
Detail kecil pada tinta hitam yang menjadi titik terang
Merasa tak aman jika asal lawan, asal gerak
Sedangkan otak rusak parah
Tak ada pilihan lain, selain dipaksa mati mendadak
Ingin berteriak sekeras mungkin
Namun mulut disumpal kain putih
Ingin berlari menuju lorong waktu
Namun kaki diikat kuat-kuat
Di dalam kehancuran pun masih tergoda
untuk mengambil gambar tanpa izin
Ketapang, 03 Mei 2026
Inkrah Diri
Mengenali setiap gerak-gerik di titik masuk
Menggali tanah berbatu untuk mengubur firasat buruk
Menyimpan satu kalimat di atas meja kerja
Beberapa kata sengaja dipotong di tengah
Membuat pikiran berkecamuk di kepala
Mengamati setiap bacaan yang baru lahir kembali di pembuka halaman
Semakin pedih melihat catatan penderitaan
Mengancam, mengadili diri sendiri
Tak ada saksi, tak ada yang peduli
Kekerasan berdalih kebaikan
Hidup tanpa tujuan yang pasti
Semakin mempersulit urusan administrasi
Ketapang, 04 Mei 2026
Medan Perang Dalam Kepala
Lelah sebelum hari mulai
Gagal sebagai manusia
Tiap hari mengulang kasus yang sama
Tiap hari tanpa libur
Debat kusir tanpa ujung
Lebih dari sekedar ribut
Pertumpahan darah mengoyak kain kafan
Memenggal kontak senjata harian
Menetap di rumah tahanan
Sepi tanpa pengunjung
Tak ada jeda bebas bersyarat
Ketapang, 06 Mei 2026
Jangan Datang Lagi
Mengapa kau selalu memilihku?
Bukankah di luar sana banyak yang sedang menanti kehadiranmu?
Perihal apa yang kau tunggu disini?
Kau tak akan menemukan jawabannya jika masih berdiam diri
Percuma kau tetap singgah karena akan menjadikannya sia-sia
Meski dibungkam kau akan tetap berbicara
Maafkan aku jika sering mengecewakanmu
Kau terlalu baik untuk aku yang tak pandai menyimpan rahasia
Mengapa harus kau yang menanggung kesialan atas apa yang telah kuperbuat?
Seharusnya kau tak menjumpai rasa sakit yang berkali-kali lipat
Sudah kubilang jangan datang lagi
Jika hanya untuk menutupi semua kesalahanku
Ketapang, 09 Agustus 2026
Di mana Cahaya yang Sempat Tinggal di Hatiku?
Dulu aku sempat mengira kita akan selalu bersama
Setiap menit aku melihat buku-buku lama yang pernah kita tulis di taman pustaka
Apakah kau masih ingat tentang kenangan yang telah kita ukir bersama?
Atau jangan-jangan kau sengaja melupakannya?
Andai kau tahu, aku sangat senang bisa mengenalmu
Hatiku menggebu-nggebu saat kau melambaikan tangan ke arahku
Namun sejauh ini aku masih belum menemukan keberadaanmu
Sebenarnya kau bersembunyi dimana?
Ketapang, 09 Agustus 2026


Komentar