Ketika Semua Orang Ingin Viral

  • By Heri Isnaini
  • 04 Juli 2026
Pexels

"Berapa views-nya?" Pertanyaan itu kini terdengar jauh lebih akrab daripada, "Apa yang bisa kita pelajari?" Dalam berbagai ruang (mulai dari media sosial, ruang kelas, hingga forum-forum diskusi) ukuran keberhasilan semakin sering ditentukan oleh seberapa banyak perhatian yang berhasil diraih, bukan seberapa bermakna gagasan yang disampaikan. Kita hidup pada masa ketika sebuah video berdurasi tiga puluh detik dapat menjangkau jutaan orang dalam semalam, sementara hasil penelitian yang dikerjakan bertahun-tahun hanya dibaca oleh segelintir akademisi.

Fenomena ini bukan sekadar perubahan teknologi. Ia adalah perubahan cara masyarakat memandang nilai. Sejak 1971, ekonom dan ilmuwan kognitif Herbert A. Simon (1916-2001) telah mengingatkan bahwa kelimpahan informasi akan melahirkan kelangkaan perhatian. Menurutnya, semakin banyak informasi tersedia, semakin terbatas kemampuan manusia untuk memberikan perhatian secara mendalam. Gagasan inilah yang kemudian berkembang menjadi konsep attention economy, yakni kondisi ketika perhatian manusia menjadi komoditas yang diperebutkan oleh berbagai platform digital, media, perusahaan, hingga individu.

Hari ini, ramalan Simon terasa semakin nyata. Yang diperebutkan bukan lagi sekadar informasi, melainkan waktu dan fokus kita. Setiap notifikasi, video pendek, judul sensasional, hingga unggahan yang memancing emosi dirancang untuk memenangkan beberapa detik perhatian. Dalam lanskap seperti itu, viral bukan lagi sebuah kebetulan, melainkan tujuan.

Tidak mengherankan jika banyak orang mulai menyusun hidupnya mengikuti logika algoritma. Sebelum bertanya apakah sebuah gagasan benar atau bermanfaat, pertanyaan yang muncul justru, Apakah ini akan ramai? Apakah ini akan dibagikan? Apakah ini akan masuk For You Page?

Tentu tidak ada yang salah dengan memanfaatkan media sosial. Berkat teknologi digital, banyak penulis menemukan pembacanya, banyak guru menjangkau murid lebih luas, dan banyak pelaku usaha memperoleh kesempatan yang sebelumnya tidak tersedia. Persoalannya muncul ketika perhatian berubah menjadi tujuan utama, sementara kualitas menjadi urusan belakangan.

Ahli media Tim Wu dalam The Attention Merchants menjelaskan bahwa sejarah media modern pada dasarnya adalah sejarah perebutan perhatian manusia. Perusahaan media, industri hiburan, hingga platform digital terus mengembangkan strategi agar pengguna bertahan selama mungkin. Semakin lama perhatian diberikan, semakin besar nilai ekonomi yang dihasilkan. Dalam sistem seperti ini, konten yang memancing emosi, kontroversi, atau sensasi cenderung lebih diuntungkan dibandingkan konten yang mengajak pembaca berpikir perlahan.

Fenomena tersebut juga diamati oleh filsuf Korea Selatan-Jerman, Byung-Chul Han. Menurut Han, masyarakat digital mengalami krisis perhatian (crisis of attention). Arus informasi yang terus-menerus membuat manusia semakin sulit berkonsentrasi dalam waktu lama. Kita terbiasa berpindah dari satu gambar ke gambar lain, dari satu video ke video berikutnya, tanpa sempat mengolah makna secara mendalam. Akibatnya, kemampuan untuk merenung, membaca dengan saksama, dan memahami persoalan yang kompleks semakin melemah.

Gejala itu terasa dekat dengan dunia pendidikan. Sebagai dosen, saya beberapa kali menjumpai mahasiswa yang mengaku kesulitan menyelesaikan bacaan artikel ilmiah sepanjang dua puluh halaman. Sebaliknya, mereka mampu menghabiskan waktu berjam-jam menggulir media sosial tanpa merasa lelah. Persoalannya bukan semata-mata rendahnya minat baca. Yang berubah adalah cara perhatian bekerja. Membaca menuntut kesabaran dan konsentrasi, sedangkan media sosial melatih perpindahan perhatian secara cepat.

Laporan-laporan dari Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) juga menunjukkan bahwa lingkungan digital membawa peluang besar bagi pembelajaran, tetapi sekaligus menghadirkan tantangan berupa distraksi yang terus meningkat. Teknologi dapat memperluas akses terhadap pengetahuan, tetapi tidak otomatis memperdalam pemahaman. Tanpa kemampuan mengelola perhatian, informasi justru berubah menjadi kebisingan.

Di tengah situasi seperti itu, sastra menawarkan pelajaran yang berbeda. Membaca puisi tidak dapat dilakukan dengan tergesa-gesa. Sebait puisi karya Sapardi Djoko Damono, misalnya, sering kali baru memperlihatkan kedalaman maknanya setelah dibaca berulang-ulang. Novel-novel besar juga tidak lahir dari hasrat untuk menjadi viral dalam semalam. Ia lahir dari proses panjang: membaca, mencatat, merevisi, membuang halaman-halaman yang gagal, lalu menulis kembali dengan kesabaran yang hampir tidak pernah terlihat oleh publik.

Hal yang sama berlaku dalam dunia ilmu pengetahuan. Tidak ada disertasi yang selesai dalam semalam. Tidak ada penelitian yang matang tanpa proses panjang mengumpulkan data, menguji hipotesis, menerima kritik, lalu memperbaikinya kembali. Namun, proses-proses seperti ini jarang menarik perhatian algoritma. Yang terlihat hanyalah hasil akhirnya, bukan jalan panjang yang ditempuh untuk mencapainya.

Budaya viral secara perlahan membentuk ilusi bahwa keberhasilan selalu datang secara instan. Kita menyaksikan seseorang mendadak terkenal, tetapi tidak melihat bertahun-tahun latihan yang mungkin mendahuluinya. Kita membaca kisah seorang penulis yang bukunya laris, tetapi tidak mengetahui berapa naskah yang pernah ditolak penerbit. Kita mengagumi seorang dosen yang piawai berbicara di depan publik, tetapi lupa bahwa kemampuan itu dibangun melalui ratusan jam membaca, mengajar, dan berdiskusi.

Di sinilah letak bahayanya. Ketika perhatian menjadi ukuran utama, proses menjadi kehilangan nilainya. Padahal, hampir semua pencapaian yang bertahan lama justru dibangun oleh pekerjaan-pekerjaan yang sunyi.

Dalam tradisi pesantren, misalnya, seorang santri tidak dinilai dari seberapa terkenal ia, melainkan dari kesungguhannya menekuni ilmu. Tradisi sorogan mengajarkan kedisiplinan, kesabaran, dan tanggung jawab intelektual. Nilai-nilai semacam itu tampak sederhana, tetapi justru menjadi fondasi pembelajaran yang mendalam. Di ruang-ruang yang tenang seperti itulah pengetahuan tumbuh, bukan sebab sorotan kamera, melainkan sebab ketekunan.

Barangkali, yang sedang kita butuhkan hari ini bukanlah semakin banyak konten, melainkan semakin banyak ruang untuk memberi perhatian. Kita memerlukan keberanian untuk membaca lebih lambat, mendengar lebih utuh, dan berpikir lebih panjang. Dunia digital telah memudahkan kita menemukan informasi, tetapi belum tentu membantu kita menemukan kebijaksanaan.

Viral hanyalah sebuah peristiwa. Ia datang bersama gelombang perhatian dan menghilang ketika gelombang itu berpindah. Sebaliknya, kompetensi adalah hasil dari proses yang panjang. Integritas lahir dari kebiasaan yang dilakukan berulang-ulang, bahkan ketika tidak ada seorang pun yang menyaksikannya.

Sebab itu, mungkin pertanyaan yang perlu kita ajukan bukan lagi, "Bagaimana agar saya menjadi viral?" Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah, "Apa yang sedang saya bangun ketika perhatian orang lain sudah berlalu?"

Sejarah menunjukkan bahwa peradaban tidak dibangun oleh mereka yang paling ramai dibicarakan, melainkan oleh mereka yang tekun bekerja, sabar belajar, dan setia menjaga kualitas. Popularitas mungkin dapat diperoleh dalam hitungan jam. Namun, kepercayaan hanya lahir dari waktu yang panjang. Dan pada akhirnya, yang bertahan bukanlah apa yang paling sering muncul di linimasa, melainkan apa yang paling bermakna bagi kehidupan manusia.

 


TAGS :

Heri Isnaini

Heri Isnaini adalah dosen sastra di IKIP Siliwangi, Kota Cimahi, Jawa Barat. Heri lahir di Subang pada 17 Juni dan memiliki minat yang mendalam terhadap dunia sastra beserta berbagai kajiannya. Tulisan-tulisannya telah dipublikasikan di beragam media massa, baik daring maupun cetak. Heri merupakan kontributor media RNSI dan Literatura Nusantara.

Komentar