Puisi-puisi Ida Ayu Putu Gde Wiardani
By Ida Ayu Putu Gde Wiardani - 02 Juli 2026
Gema Bisu yang Membakar
Di balik senyum yang ku bangun kokoh
Ada lautan sunyi yang tak bertepi
Teriakan jiwa tercekik dan tersembunyi
Menari pilu di ruang hati yang lusuh
Ini bukan lagi duka, ini adalah AMARAH dingin..
Membatu, membekas, di baik dinding tenggorokan.
Mengapa aku harus menjadi patung yang terasing?
Saat di dalam, neraka sedang berpijakkan
LEPASKAN! Aku ingin suara ini meledak
Menghancurkan lapisan kulit yang menahan racun
Bukan bisikan, bukan rintihan, aku butuh teriak
Sampai nadi ini putus, sampai aku runtuh!
Ribuan kata telah menjadi bilur di lidahku,
Di paksa diam, di paksa tertelan ke dasar sumur
Aku merangkak di bawah beban pilu,
Yang tak pernah di izinkan melihat fajar jujur
TERCEKIK! Ya, aku tercekik oleh udara yang sama
Yang kau hirup dengan lega tana beban
Setiap emosi menjadi beban baja yang menggema
Menghancurkan tulang, tanpa sedikit pun belas kasihan
Aku ingin BERTERIAK pada langit yang tuli!
Aku ingin merombe tirai kepalsuan yang melilit
LIHATLAH AKU! LIHAT AKU!
Aku adalah ledakan yang tertunda
Puing-puing jiwa yang menunggu izin untuk hancur
Tolong, biarkan aku meluapkan segala yang ada
Atau aku akan meledak dalam bisu yang paling getir!
Hilangnya Sahabat Masa Kecil
Pagi yang begitu sunyi
Sang surya menyinari bumi
Gemericik air hujan yang menyejukkan
Di situlah langkah awal kisah di masa kecil.
Kebersamaan selalu menjadi cerita
Memori indah masih tersimpan utuh
Tak pernah sepintas pun untuk melupa
Kini, hanyalah sebatas kenangan di masa lalu
Entah apa yang membuat kita sejauh ini
Segala harsa telah tercipta di dalam nestapa
Menghapus tangis, nan mengukir kebahagiaan bersama
Saling bertukar cerita nan melalui segala proses berdua
Namun mengapa kini kita melangkah tak searah lagi?
Namun mengapa kini kau hilang tanpa sebuah kata?
Bagai dua insan yang tak pernah bersatu
Rasa canggung sangat terasa
Kerinduan yang terus bergejolak
Masih tak terpikir akan akhir yang seperti ini.
Cerita tinggalah cerita
Kenangan tinggalah kenangan
Berdiam di lautan kebingungan
Setetes demi setetes air mata terjatuh
Kuungkap kesedihanku melalui tulisan
Kan kuabadikan dirimu dalam karyaku
Kutuliskan puisi ini,
Untukmu yang sudah hilang, sahabat masa kecil.
Kembali Pulang
Andai kamu bisa merasakan,
Apa yang sedang aku rasakan.
Seberapa hancurnya,
Aku di sini
Sebarapa berantakannya,
Aku di sini
Rumit
Semuanya terasa rumit.
Bahkan aku tak bisa
Untuk mengungkapkannya
Kata demi kata
Berusaha untuk aku lontarkan.
Jujur saja,
Aku tak bisa untuk
Membohongi perasaanku,lebih dalam.
Aku merindukan
Sosok yang slalu memeluk
Raga kecilku
Yang selalu memahami
Di setiap aliran dalam diriku
Di mana lagi aku akan
Mendapat rumah seteduh dirimu
Aku telah hilang arah
Aku hanya ingin kembali pulang, bersamamu.
Usaha Tumbuh
Di taman sunyi, di antara kerikil tajam,
Kaulah Bunga yang selalu kuusahakan diam-diam.
Aku benih pertama yang kau tatap cemas,
Yang kuperjuangkan agar akarmu tak terhempas.
Kuberi air di kemarau yang panjang membakar, kuletakkan penghalang saat badai mulai bergetar.
Bahkan saat tanganku terluka, jatuh, dan pilu,
Kau tak melihat, tak peduli, tetap berlalu.
Jiwaku rapuh, di terendah yang sepi mendalam, kau sibuk berpaling, menikmati mentari yang terbenam.
Tak ada sapa, tak ada genggam di sisi terpurukku, hanya aku, yang setia mencatat setiap garis mekar di kelopakmu.
Aku saksi bisu, peluh dan air mata,
Dari tunas kecilmu, hingga jelita yang mempesona.
Aku tahu perjuanganmu, di balik senyum yang kau simpan,
Karena aku, selalu di sini, meski kau tak anggap peran.
Aku yang peduli, yang tak lelah mendampingi,
Tapi entah, hatimu berbunga untuk siapa?
Sampai kapan harus kutawarkan keberadaan?
Akankah ada masa, kau sungguh menghargai usaha tumbuh ini?
Maukah kita berdua tumbuh, saling mengisi?
Atau bahkan, aku yang tak kau pilih?


Komentar