Mengungkap Sisi Liar Manusia dalam Buku Kumpulan Puisi Hewaniaku
By Ni Putu Intan Cahyani- 29 Mei 2026
|
Judul Buku : HewaniaKu |
|
Penulis : I Nyoman Wirata |
|
Jenis Buku : Kumpulan Puisi |
|
Penerbit : Pustaka Ekspresi |
|
Tahun Terbit : 2025 |
|
Jumlah Halaman : 81 |
|
Cetakan : Pertama, Desember 2025 |
|
ISBN : 978-634-7225-29-0 |
“Hewan-hewan terjaring dalam sajak-sajak menghewaniaku dan berpesan; jangan lupa menjadi manusia.”
Kutipan tersebut langsung memperlihatkan arah utama puisi Hewaniaku, yaitu sebuah usaha memahami manusia melalui dirinya sendiri dengan cara yang tidak biasa. Wirata mengajak pembaca memasuki dunia yang dipenuhi berbagai hewan, yang sesungguhnya adalah gambaran representasi sifat, kebiasaan, dan pengalaman manusia.
Manusia tidak sepenuhnya makhluk rasional. Di dalam dirinya masih terdapat dorongan-dorongan liar dan sering kali saling bertentangan. Puisi pembuka pada buku ini berjudul “Taman Margasatwa” menjadi kerangka utama bagi keseluruhan dari bagian-bagian puisi dalam buku ini. Melalui puisi tersebut, manusia digambarkan bukan sebagai satu identitas tunggal, melainkan kumpulan berbagai sifat yang hidup bersamaan, ada yang jinak, buas, rapuh, maupun penuh kuasa. “Taman Margasatwa” berfungsi sebagai pengantar dari keseluruhan puisi yang ada dalam buku, sehingga dengan menafsirkan sajak dari puisi “Taman Margasatwa” saja sebenarnya kita sudah mulai diajak masuk ke dalam rangkaian puisi yang lain, dan agar kita dapat membayangkan bahwa gaya bahasa dan isi yang terkandung di dalam HewaniaKu juga pasti tidak jauh dari puisi “Taman Margasatwa”. Dua sisi manusia, yakni sisi kemanusiaan dan sisi kebinatangan, tampak jelas pada peringatan “jangan lupa menjadi manusia” dalam “Taman Margasatwa”, bahwa manusia selalu berada dalam risiko kehilangan kemanusiaannya sendiri.
Hewan-hewan dalam buku ini digunakan sebagai simbol yang mampu merepresentasikan sifat dasar manusia secara tidak langsung. Salah satu contohnya terdapat dalam puisi “Kelelawar Varigata”. Kelelawar digambarkan sebagai sebuah makhluk yang sangat cerdas dalam berkamuflase, pencuri buah manis, penggoda dengan lidah bercabangnya. Larik “Menghisap hingga kambiumnya kemudian rasa manis kau sesap” menghadirkan citra makhluk yang memanfaatkan sesuatu demi kepentingannya sendiri. Melalui simbol tersebut, segala hal negatif terhadap laki-laki disimbolkan dalam lariknya, ciri dan sifatnya digambarkan seperti Kelelawar Varigata, “Lirikan mata julingmu, mulut sumbing suka bersiul-siul sepanjang waktu tak jemu-jemu adalah rayuan sumbang sesungguhnya peluru omong kosong”. Sosok yang hadir dalam puisi ini adalah laki-laki yang senang menggoda, mempermainkan, dan menipu dengan rayuan yang tidak didasari ketulusan cinta. Di akhir terdapat sajak “Tak memerlukan sebuah penjelasan; tak semua laki-laki adalah kelelawar.” Kalimat tersebut menjadi penyeimbang yang menunjukkan bahwa sifat-sifat negatif tersebut tidak dapat digeneralisasikan kepada seluruh laki-laki.
Sejumlah puisi lain seperti “Sapi yang Puisi”, “Kota Gagak”, hingga “Tuan Origami” mengarah ke ranah sosial. Di sini, hewan berubah menjadi sarana kritik, kritik tentang kasta dan ketidakadilan, kehidupan kota yang keras dan kemiskinan, kekuasaan dan cara manusia memanipulasi keadaan, hingga abstraknya kehidupan urban. Ada kesan bahwa manusia modern justru lebih menyerupai hewan dibandingkan hewan itu sendiri karena kehilangan kesadarannya sebagai manusia normal, yang berakal dan bermoral. Kehidupan kota digambarkan sebagai gagak yang penuh kebisingan, manipulasi, dan kepalsuan. Wirata menunjukkan bahwa bagaimana kehidupan modern dipenuhi oleh penipu, janji yang tidak ditepati, dan sistem yang membuat manusia kehilangan kejujurannya. Bahkan kemiskinan dan ketidakadilan dihadirkan secara lugas dan langsung dalam beberapa puisinya.
Tidak dibahas lagi suatu agama secara eksplisit, tetapi lebih pada pengalaman batin manusia dalam mencari makna hidup. Dalam bagian “Merayu Tuhan”, terlihat gambaran hubungan manusia dengan Tuhan seperti layaknya hubungan percintaan yang dipenuhi rayuan, harapan, dan kekecewaan yang panjang. Bulan menjadi simbol kehadiran-Nya, “Apa kau berani merayu bulan?” mengisyaratkan bahwa mendekatkan diri kepada Tuhan bukanlah dosa, melainkan bentuk kerinduan manusia akan cahaya di tengah kegelapan hidup. Sementara itu, puisi “Seekor Udang” menghadirkan kritik terhadap manusia yang merasa dirinya paling benar. Ia melarang pemulung masuk dan menganggap pemulung sebagai pencuri. Padahal kepalanya sendiri dipenuhi sampah seperti korupsi, kebohongan, dendam, dan nafsu buruk. Kalimatnya terasa kotor, pahit, dan sesak.
Wirata secara konsisten menggunakan hewan sebagai cermin untuk menunjukkan bahwa manusia adalah makhluk yang paling kompleks sekaligus paling berbahaya, karena ia bisa lebih buas daripada binatang buas, tapi juga mampu menyadari kebuasannya sendiri. Itulah mengapa meskipun puisi-puisinya membahas hal yang sangat berbeda seperti cinta, sosial, politik, spiritual, semuanya tetap koheren di bawah payung tema besar Hewaniaku.
Sampul buku ini sebenarnya sudah sangat mengimajinasikan dari judulnya, HewaniaKu, berisi gambar representasi hewan berkaki empat dengan wajah abstrak yang disertai beberapa helai daun. Dominasi warna hitam yang sederhana membuat tampilan sampul menjadi terlihat tegas dan berkarakter. Penggunaan tata letak pada larik pertama sangat unik, ditaruh di tengah agak ke kanan sehingga di awal mata tidak merasa monoton hanya membaca tulisan dari kiri saja.
Dalam beberapa puisi seperti “Kuda Putih Papan Catur”, “Prairi”, “Selamat Pagi Sapi”, dan “Nil” terdapat suatu catatan kecil di bagian kanan bawah yang berisi penjelasan istilah tertentu. Misalnya sajak “Kuda Putih Papan Catur” dijelaskan sebagai transformasi dari lukisan “Sabana” (karya pribadi) sekaligus terinspirasi dari sajak “Sabana” karya Umbu Landu Paranggi. Salah satu kekuatan utama dalam HewaniaKu terletak pada konsistensi penggunaan metafora hewan sebagai representasi kehidupan manusia. Wirata berhasil menjadikan hewan bukan sekadar objek dalam puisi, melainkan cermin yang memantulkan berbagai sisi manusia, baik yang jujur maupun yang paling gelap.
Hanya saja puisi-puisi ini masih banyak kekurangannya yang bisa dilihat dan dirasa. Dari segi bahasa, HewaniaKu menggunakan gaya bahasa yang padat dan kalimat-kalimatnya tidak selalu langsung, sering melompat dari satu gambaran ke gambaran lain. Hampir di setiap barisnya memuat suatu simbol yang jika dibaca sekilas kita bisa kehilangan pegangan karena makna yang ditafsirkan terlalu banyak. Ibaratnya penuh, padat, tapi tidak menajam melainkan melengkung kembali, sehingga terkadang membacanya hingga akhir justru melelahkan karena intensitasnya tinggi di awal. Semuanya menggunakan metafora yang bertumpuk, judul dan isi berbanding terbalik, judulnya mudah untuk diartikan sedangkan isinya sangat sulit diterjemahkan jika pembacanya kurang menggunakan rasa batiniah. Kebanyakan puisinya menjelaskan terlalu banyak dalam satu napas, tanpa tanda baca koma dan titik. Jadi terkadang menafsirkannya sangat sulit karena kehilangan fokus dari kalimat-kalimat yang terlewat sebelum mencapai tanda titik. Dari segi gaya, puisi-puisi ini memang tidak mudah dibaca cepat. Kalimatnya kadang melompat-lompat, seperti mimpi. Tidak selalu jelas, tapi terasa. Jadi cara menikmatinya bukan dengan mencari arti per baris, tapi merasakan suasana besarnya. Dan jika pembacanya adalah orang-orang yang belum pernah memahami suatu istilah dalam tradisi Bali, akan kebingungan juga membaca istilah-istilahnya seperti ngingel, padma asana, nyungsang, barong landung, daha ayu, dan balawadwa.
Secara keseluruhan, HewaniaKu merupakan kumpulan puisi yang cocok untuk dibaca oleh pembaca yang memang menyukai karya sastra dengan gaya bahasa yang padat dan penuh pemikiran serta penafsiran. Bagi pembaca khususnya pemula, buku ini akan terasa cukup melelahkan dan sulit dipahami karena penggunaan bahasanya yang padat, bertumpuk-tumpuk, dan gaya bahasa yang kompleks. Oleh karena itu, buku ini lebih tepat dinikmati secara perlahan dengan penghayatan, bukan dibaca secara tepat. Meskipun demikian, buku ini tetap memiliki nilai lebih sebagai karya yang berani dan konsisten dalam mengangkat hewan sebagai cerminan kehidupan.


Komentar