Klick (Puisi-Puisi Pilihan Bali Politika 2025)
By Moch Satrio Welang- 11 September 2026
Melalui puisi, klik tidak lagi hanya menjadi tindakan mekanis. Klik berubah menjadi simbol. Klik menjadi metafora tentang pi lihan-pilihan hidup yang kita ambil setiap hari. Tentang hubungan yang kita bangun. Tentang informasi yang kita percayai. Tentang cinta yang kita pilih untuk dipertahankan. Atau, tentang keberanian membuka diri atau sebaliknya, kecenderungan untuk menutup diri. Sejatinya, setiap manusia hidup dari satu klik ke klik berikutnya. Setiap keputusan, pertemuan, persetujuan dan penolakan adalah klik. Bahkan kehidupan batin kita tak lepas dari klik. Kita bisa me milih harapan ketimbang putus asa dan frustasi. Memilih mema afkan daripada membenci, atau memilih terus bergerak ketimbang berhenti dan menyerah. Karena itu, kumpulan puisi-puisi yang dimuat di “Bali Politika” sepanjang tahun 2025 ini, kami beri judul “Klick”. Buku ini me muat 114 puisi karya 114 penyair yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Ada puisi-puisi dari penyair yang telah terkenal, ada pula puisi-puisi dari penyair pemula. Seperti Chairil Anwar bilang: (semua)…harus dicatat, (semua)…dapat tempat.” “Klick” bisa menjadi penanda dan semangat zaman. Sebagaimana puisi, klik adalah bunyi kecil yang terus berdengung dan “meng ganggu” kehidupan, meresap ke sela-sela pikiran dan perasaan ma nusia. Klik adalah gambaran dunia yang makin terkoneksi sekaligus makin rumit. Klik adalah tanda bahwa kehidupan hari ini berlang sung di antara layar, jaringan, algoritma, pertemanan, percintaan, kesepian, keramaian, dan pencarian jati diri yang tak pernah selesai. Kumpulan puisi ini berusaha merekam hal-hal tersebut. Di dalamnya ada kegelisahan manusia di era medsos dan AI, kerin duan akan hubungan yang tulus, kegembiraan merayakan hal-hal sederhana, kritik terhadap kehidupan hari ini, perenungan ten tang kemoderenan, pertanyaan tentang identitas, dan upaya-upaya menemukan kemanusiaan di tengah karut-marut dunia. Buku ini memeram harapan sederhana bahwa di tengah miliaran klik yang tiap hari memenuhi dunia, kita tidak kehilangan jati diri sebagai manusia.


Komentar