Tapak Samar
By I Wayan Dibia- 06 Agustus 2026
Terbitnya buku Tapak Samar, hasil kerja keras dari I Nyoman Agus Sugama Giri (Mang Agus), seorang seniman muda penuh bakat, pencinta seni seni pertunjukan Bali dengan berbagai variannya, patut disambut dengan rasa suka cita. Ada sedikitnya 3 (tiga) hal penting yang perlu dipahami para pembaca terkait dengan diangkatntya mitos pedesaan yang hingga sekarang masih dipertahankan oleh warga masyarakat setempat. Pertama, melalui buku ini, masyarakat pembaca akan bisa mengenal kekayaan nilai-nilai kearifan lokal yang ada, dan masih dipertahankan sampai sekarang, khususnya di Kabupaten Tabanan. Seperti telah disebutkan sebelumnya, mitos ini merupakan sebuah strategi khususnya bagi masyarakat Desa Pujungan yang kehidupan warga masyarakat hidupnya sangat tergantung dengan alam. Kedua, buku ini menjadi sebuah dokumen penting yang mengulas kisah Nang Dudu, yang mungkin saja sudah banyak dilupakan terutama oleh para generasi Desa Pujungan, Kecamatan Pupuan. Pengangkatan mitos Nang Dudu ini merupakan suatu upaya revitalisasi terhadap nilai-nilai kearifan lokal dari masyarakat Pujungan. Ketiga, jika ditangani dengan baik dan benar, diangkatnya mitos Nang Dudu menunjukkan bahwa mitos lokal kedaerahan tidak kalah menariknya dengan sumber-sumber cerita lain seperti Ramayana, Mahabharata, Babad, Calonarang, Panji dan lain sebagainya yang selama ini menjadi sumber-sumber lakon dominan dari berbagai dramatari di Bali.
Ketika membaca naskah buku ini, saya teringat kembali akan cerita rakyat Bali seperti Pan Balang Tamak, I Bungkling, I Krerek, yang dalam banyak hal mengajarkan masyarakat pembaca terhadap bentuk-bentuk perlawanan dari warga masyarakat kecil terhadap kebijakan semena-mena dari para penguasa. Dalam kaitannya denga kisah Nang Dudu, kita bisa melihat bagaimana sosok wang samar bernama Nang Dudu berjuang dengan caranya sendiri untuk menjaga alam dengan segala isinya agar tidak dirusak semaunya oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.


Komentar