Taksu Dodyong: Legitimasi Ritual dan Seni dalam Pertunjukan Calonarang

  • By I Made Sugianto
  • 27 Juli 2026
Pustaka Ekspresi

Buku ini bukan sekadar dokumentasi tertulis, melainkan sebuah upaya sungguh-sungguh untuk membedah kedalaman filosofis dari sosok fenomenal Topeng Dodyong dalam ranah dramatari Calonarang. menjadi napas utama dalam kesenian Bali. Penulis berusaha memotret bagaimana Topeng Dodyong bukan hanya sekadar estetika panggung, melainkan simbol legitimasi ritual yang mengikat kerekatan sosial masyarakat. Di Abiansemal, seni adalah jembatan antara yang sakral (niskala) dan yang profan (sekala), yang dibangun di atas fondasi kesadaran komunal.

Buku ini memperlihatkan dengan sangat baik bahwa Topeng Dodyong tidak dapat dipahami hanya sebagai properti atau karakter dramatik dalam pertunjukan Calonarang. Lebih jauh daripada itu, Topeng Dodyong merupakan simbol yang memperoleh legitimasi melalui proses ritual, pengalaman spiritual, serta penghayatan komunal yang berlangsung secara berkesinambungan. Keberadaannya menjadi bagian dari sistem nilai yang menghubungkan dimensi sekala dan niskala, sekaligus memperlihatkan bagaimana masyarakat adat membangun, menjaga, dan mentransmisikan pengetahuan budaya melalui praktik seni pertunjukan. Inilah hakikat taksu yang sesungguhnya, yaitu kekuatan spiritual yang lahir dari perpaduan antara penguasaan teknik, kesucian niat, disiplin menjalankan laku yadnya, serta pengabdian tanpa pamrih kepada masyarakat dan kebudayaan.


TAGS :

I Made Sugianto

I Made Sugianto lahir di Banjar Lodalang, 19 April 1979 bertepatan Wraspati Wage Sungsang (Sugian Jawa). Kini istirahat sejenak dari pekerjaan sebagai wartawan NusaBali untuk mengbadi sebagai Kepala Desa di tanah kelahirannya, Desa Kukuh, Kecamatan Marga, Tabanan.

Komentar