Di Bawah Bayang-bayang Gerbang Scaean
By Aditiya Widodo Putra- 14 Juli 2026
Lalat hijau menetap di sela kuku tanganku yang patah, menghisap sisa lemak domba kering dari dapur tenda. Mereka mungkin satu-satunya makhluk di pantai ini yang tidak perlu menghunus pedang untuk kenyang. Di luar kain rami tebal tenda ini, tiga ribu kapal Yunani bersandar di pasir, lambungnya yang hitam legam tampak laksana barisan peti mati raksasa yang sengaja dijajarkan menantang ombak Laut Aegea.
Bau laut di sini entah bagaimana tidak berbau garam murni seperti di dermaga Lyrnessus, kampung halamanku yang mereka bakar dua purnama lalu. Di sini, laut terasa berbau lemak babi yang membusuk, kencing ribuan serdadu yang tidak pernah mandi, dan jelaga dari tungku pembakaran mayat yang apinya tidak pernah dibiarkan mati sejak tahun kesembilan.
Aku adalah Briseis. Putri dari Briseus, yang kini kepalanya mungkin sudah menjadi sarang semut di reruntuhan kuil Apollo.
Di bawah tiang-tiang tumpuan kamp Akhaia yang legap, tubuhku bukan lagi milik rahim ibuku, bukan pula milik tanah Lyrnessus yang telah jadi abu. Di sini, Aku lebih ingin menyebut diriku sebagai geras. Sekeping piala perunggu yang ditempa dari keringat ketakutan, sebuah rampasan perang yang bernyawa.
Mereka memandangku sebagai takaran atas kleos—sejauh mana sebilah pedang telah menembus urat leher musuh hari ini, sejauh itulah nilayaku meroket di atas meja-meja perjamuan para raja. Sebuah benda yang digeser dari altar minyak zaitun milik sekerumunan pria berzirah daun, dipindahkan ke atas hamparan kulit singa milik penguasa lain, hanya karena satu ayunan kapak perunggu bertaji dua telah berhasil membelah dada seorang pangeran di gerbang Scaean.
Di atas tanah yang pekat oleh sisa lemak sesajen dan amis darah lembu ini, nasibku ditentukan oleh seberapa banyak ichor manusia yang tumpah ke bumi.
Tatkala fajar menyapa, jemari para raja yang masih berlumur jelaga pembakaran mayat akan menunjuk ke arahku, menimbang-nimbang apakah kesucianku sebanding dengan sepuluh kuali berkaki tiga atau dua puluh ekor kuda jantan dari Thrace.
Kain tenda tersingkap. Angin asin membawa masuk bau keringat kuda dan uap darah yang masih hangat.
“Berdiri,” kata Patroklos. Suaranya datar, parau karena terlalu banyak berteriak di garis depan. Tangannya yang dipenuhi bulu-bulu hitam kasar itu sedang memegang baskom perunggu berisi air keruh. “Dia terluka lagi. Bersihkan zirah dadanya sebelum darahnya mengeras dan mengunci engselnya.”
Aku tidak menjawab. Di tanah Mycenaean ini, budak wanita yang terlalu banyak bicara biasanya berakhir dengan lidah yang dipotong atau dilempar ke para pendayung di kapal paling belakang. Aku berlutut di atas tikar jerami yang lembab, mengambil kain rami kasar, lalu mendekat ke sudut tenda yang paling gelap.
Di sana, di atas ranjang kulit singa, Akhilles duduk telanjang dada.
Pria yang mereka sebut setengah dewa itu tidak tampak seperti dewa. Kulitnya pucat, dipenuhi garis-garis putih bekas luka cambuk latihan masa kecil dan parut tombak yang baru menutup. Rambut kuningnya yang terkenal itu lepek oleh minyak rambut murah dan debu tanah Troya. Ketika aku mendekat, matanya—yang sewarna dengan air laut sebelum badai—menatapku tanpa melihat. Dia melihat menembus kepalaku, mungkin melihat tembok Troya yang masih berdiri kokoh di balik bukit.
“Kau lambat, perempuan,” desis Akhilles. Suaranya terdengar layaknya suara seorang pemuda sembilan belas tahun yang bosan karena telah membunuh terlalu banyak orang.
“Airnya harus kuambil dari sumur belakang, Tuanku. Antrean para pembawa air sangat panjang,” kataku, menjaga nadaku tetap sedatar papan kayu.
Aku mulai menggosokkan kain basah ke bahunya. Ichor? Tidak. Darah yang menempel di kulitnya merah, kental, dan berbau besi tua yang berkarat. Sama persis dengan darah sepupu-sepupuku yang dia bantai di gerbang kotaku. Ketika kainku menyentuh luka robek kecil di tulang selangkangnya, dia tidak meringis. Ototnya keras seperti batu kali.
“Agamemnon mengirim utusan lagi tadi siang,” Patroklos berbicara sambil duduk di atas peti kayu berisi jarahan emas. Dia sedang mengasah belati dengan batu kali. Suara srek... srek... itu meliuk-liuk di dalam tenda, memotong kebisuan dengan ritme yang memuakkan. “Dia meminta tiga puluh kuali perunggu baru dan sepuluh kuda dari Thrace. Sebagai gantinya, dia ingin kau memimpin sayap kiri besok pagi.”
Akhilles mendengus. Air ludahnya yang bercampur sirih jatuh ke tanah kering. “Katakan pada si serakah dari Mycenae itu, aku tidak akan mengangkat perisai bahkan jika Hector membakar kapalnya sendiri sampai jadi abu. Dia mengambil hakku. Dia mengambil bagian jarahanku.”
Matanya mendadak turun, mengunci wajahku yang berada tepat di bawah dagunya. Tangannya yang kasar menyambar daguku, mencengkeramnya begitu kuat hingga aku bisa merasakan tulang rahangku berderit.
“Dia menginginkanmu, Briseis,” bisik Akhilles. Bau napasnya adalah bau anggur asam dan daging kambing bakar yang tersangkut di gigi. “Si tua bangka itu berpikir dengan mengambilmu dari tendaku, dia bisa menunjukkan pada seluruh Akhaia bahwa dialah raja dari segala raja.”
Aku tidak mengedipkan mata. Aku membiarkan mataku tetap kosong, seolah-olah tubuh yang sedang dicengkeramnya ini hanyalah seonggok daging tiruan. “Jika Raja Agamemnon memerintahkan, saya akan pergi ke tendanya, Tuanku.”
Akhilles melepaskan cengkeramannya dengan sentakan kasar hingga kepalaku terantuk tiang kayu tenda. Dia tertawa, tawa yang kering dan mengerikan.
“Lihat wanita ini, Patroklos,” kata Akhilles sambil menunjukku dengan jarinya yang bernoda darah. “Dia tidak takut padaku. Dia juga tidak takut pada Agamemnon. Dia tahu, siapapun yang memiliki tenda ini, dia tetap akan mencuci pakaian yang penuh nanah setiap malam.”
“Perang ini membuat kita semua gila,” Patroklos berdiri, memasukkan belatinya ke dalam sarung kulit. “Rakyat kita mati terkena wabah di pantai. Panah-panah Apollo membuat paru-paru para prajurit membengkak dan memuntahkan cairan hitam. Dan kalian berdua bertengkar soal siapa yang berhak memiliki budak dari kota mati.”
Surealisme perang ini meliuk semakin gila ketika malam jatuh. Dari celah tenda, aku bisa melihat bayangan ribuan prajurit Yunani menari mengelilingi api unggun. Mereka mabuk anggur murahan yang dicampur air laut agar volumenya bertambah. Beberapa dari mereka memperkosa gadis-gadis tawanan di atas pasir, sementara beberapa langkah dari sana, sekelompok dukun sedang memotong leher sapi jantan untuk meramal apakah besok mereka akan hidup atau mati.
Mereka bilang semua di sini demi Helena. Demi membalas kehormatan Menelaos yang istrinya dilarikan oleh Paris. Ironi yang begitu pekat hingga rasanya bisa dikunyah: sepuluh ribu pria mati membusuk di tanah asing, saling bantai demi seorang wanita yang bahkan tidak pernah mereka lihat wajahnya, sementara para raja di dalam tenda sutra sibuk menimbang berat emas dan piala perunggu.
“Besok,” kata Akhilles tiba-tiba sambil merebahkan badannya yang raksasa ke ranjang. “Jika utusan Agamemnon datang membawa rantai untukmu, pergilah. Jangan melawan. Tapi ingat ini, Briseis...ketika aku menarik pasukanku dari medan laga, tembok Troya akan menelan mereka semua. Dan Agamemnon akan merangkak di atas lututnya di depan tenda ini, meminta kain ramimu untuk menyeka kencingnya sendiri.”
Aku berdiri, membawa baskom berisi air yang kini telah berubah warna menjadi merah pekat, warna yang sama dengan tanah yang besok pagi akan kembali meminum darah manusia.
“Baik, Tuanku,” kataku pelan.
Aku berjalan keluar tenda. Di bawah kegelapan pantai, angin malam meniup bau amis perunggu ke wajahku. Aku melihat ke arah timur, ke arah benteng Troya yang berdiri angkuh di bawah bayang-bayang gunung. Di sana, mereka mengira mereka aman karena dewa-dewa berdiri di atas tembok mereka. Di sini, orang-orang Yunani mengira mereka akan menang karena Akhilles memiliki darah abadi.
Mereka semua salah. Di tanah yang terkutuk ini, dewa-dewa hanyalah penonton yang duduk di barisan paling depan sambil mengunyah buah ara, menikmati tarian kematian yang kami, manusia-manusia bodoh, tarikan untuk mereka setiap hari.
...
Pagi itu, suara sangkakala dari tanduk kerbau liar telah membelah kabut laut bahkan sebelum lalat-lalat selesai mengitari luka Akhilles. Di luar tenda, gemerincing rantai dan derit roda-roda kereta perang beradu dengan teriakan para mandor yang membagikan jatah roti gandum keras dan bawang putih kepada para pendayung. Bau minyak zaitun rancang yang digosokkan ke dada para prajurit bercampur dengan uap kotoran kuda, mewujudkan lapisan udara yang begitu pekat hingga rasanya bisa disayat dengan belati.
Aku berdiri di ambang fajar, meremas sehelai kain wol kasar yang baru kusikat di air payau. Di depanku, barisan pria-pria Myrmidon sedang mengikat pelindung tulang kering mereka dengan tali kulit lembu. Wajah-wajah mereka legap, tanpa ekspresi, bagai deretan patung batu yang dipahat hanya untuk memegang tombak abadi.
Lalu, mereka datang.
Talthybios dan Eurybates—dua herald, bentara resmi Agamemnon yang membawa tongkat kayu bertatahkan perak, simbol hukum yang sah dari Mycenae. Jubah mereka berwarna ungu tua, terseret di atas pasir yang basah oleh pasang malam. Kehadiran mereka membuat para prajurit Akhilles berhenti mengasah pedang. Suasana mendadak senyap, hanya menyisakan deburan ombak Laut Aegea yang memukul lambung kapal-kapal hitam.
“Kami datang menjemput geras yang menjadi hak Raja Agung,” suara Talthybios terdengar parau, namun bergetar oleh ketakutan yang disembunyikan di balik janggutnya yang tebal. Mata bentara tua itu beralih ke arahku, lalu dengan cepat menunduk, seolah-olah melihatku adalah sejenis nasib buruk.
Dari dalam kegelapan tenda, Patroklos melangkah keluar terlebih dahulu. Wajahnya muram, matanya merah karena kurang tidur. Di belakangnya, perlahan namun pasti, bayangan raksasa Akhilles muncul.
Sang pahlawan hanya memakai selembar kain linen putih yang diikat di pinggang, membiarkan dadanya yang bidang mengepulkan uap hangat di udara pagi yang dingin. Rambut kuningnya berantakan, menutupi sebagian matanya yang menatap kedua utusan itu dengan dinginnya mata seekor serigala yang mendapati sarangnya diusik gagak.
“Ambil dia,” kata Akhilles. Suaranya begitu pelan, namun berbobot. “Aku tidak menyalahkan kalian, hai para bentara. Kalian hanya anjing yang menggonggong demi perintah tuan kalian. Agamemnon-lah yang gila. Dia mengira dengan mengambil perempuan ini, dia bisa mengenyangkan egonya yang lapar.”
Eurybates maju satu langkah, tangannya yang gemetar terjulur untuk meraih pergelangan tanganku. Sentuhan kulitnya dingin dan kasar, berbau tembaga lama. Ketika jemarinya mengunci lenganku, aku tidak menarik diri. Seorang putri Lyrnessus jelas tidak memohon di depan sekelompok serigala yang sedang berebut sisa daging.
Aku menatap Akhilles untuk terakhir kalinya dari balik bahuku. Pria setengah dewa itu kembali duduk di atas peti kayunya, membelakangiku, meraih sebuah lira kecil yang terbuat dari tempurung kura-kura, lalu mulai memetik senarnya dengan liar. Nada-nada yang keluar dari jemarinya terdengar sumbang, memotong udara pagi bagai suara tulang yang patah.
Aku dituntun menyusuri garis pantai, berjalan di antara barisan kapal-kapal hitam yang barisannya seolah tiada habisnya. Setiap kali aku melewati tenda-tenda faksi lain—pasukan Ithaka di bawah Odysseus, atau tenda-tenda besar orang-orang Locris—mata para prajurit mengikuti langkahku. Bagi mereka, aku adalah tontonan yang hidup. Aku adalah tanda nyata bahwa retaknya hubungan antara raja tertinggi mereka dan prajurit terhebat mereka telah dimulai. Beberapa dari mereka meludah ke tanah, menggumamkan doa kepada Apollo agar wabah panah hitam segera dihentikan karena persembahan tebusan telah disiapkan.
Tenda Agamemnon berdiri di pusat kamp, paling tinggi, dilapisi kulit beruang hitam dan sutra ungu yang dijarah dari tanah timur. Di dalamnya, bau kemenyan membubung tinggi, mencoba menutupi bau busuk dari luka-luka infeksi para perwira yang sekarat di ranjang belakang.
Agamemnon duduk di atas kursi takhta kayu cedar yang dihiasi gading gajah. Tubuhnya tambun, wajahnya kemerahan oleh terlalu banyak meminum anggur tanpa campuran air. Janggutnya yang berminyak dikepang rapi dengan benang emas. Ketika matanya yang kecil dan serakah mendarat di tubuhku, seulas senyum kemenangan terkembang di bibirnya yang tebal.
“Bawa dia ke altar,” perintah Agamemnon kepada para pelayannya. “Biarkan seluruh Akhaia melihat bahwa apa yang diinginkan Akhilles, bisa kuambil dalam satu kedipan mata. Akulah gembala dari manusia-manusia ini!”
Aku dipaksa berlutut di atas lantai tanah yang ditutupi permadani tenun yang kasar. Di dekatku, sebuah kuali perunggu besar berisi minyak wangi sedang dipanaskan di atas bara api.
Surealisme besi dan darah kembali menyergapku. Di luar sana, beberapa ratus langkah dari tenda ini, jeritan manusia yang menembus perisai perunggu mulai terdengar saat pertempuran pagi pecah di dataran datar Troya. Di sini, di dalam tenda ini, seorang raja sedang menghirup wewangian dari piala barunya, sementara ribuan rakyatnya mulai merayap di lumpur, mati demi sekeping kehormatan yang tidak akan pernah mereka bawa pulang ke kubur.
Aku memejamkan mata, membiarkan asap kemenyan mengaburkan pandanganku, sementara tarian kehancuran Zaman Perunggu ini terus berputar di sekelilingku, menanti giliran siapa lagi yang akan hancur berikutnya.


Komentar