Novel "Lampah Sang Pragina" Raih Hadiah Sastra Rancage 2026
By I Made Sugianto- 01 Februari 2026
Novel Lampah Sang Pragina (Perjalanan Sang Penari) karya Ketut Sugiartha ditetapkan menerima Hadiah Sastra Rancage 2026 untuk sastra Bali. Menurut rilis Panitia Yayasan Kebudayaan Rancage, tahuan 2026 ini hanya ada tiga daerah yang memenuhi kriteria untuk dinilai dalam Hadiah Sastera Rancagé, yaitu sastra Sunda, Jawa, dan Bali.
"Buku-buku dalam sastra Lampung, Batak, Madura, dan Banjar, belum ada yang memenuhi syarat untuk diberi hadiah tahun ini. Semoga di tahun-tahun mendatang lebih banyak lagi buku yang terbit dari daerah-daerah tersebut,” kata Etti RS dalam pembacaan keputusan Hadiah Sastera Rancagé 2026 di Gedung Perpustakaan Ajip Rosidi pada Sabtu (31/1/2026).
Selanjutnya Etti mengungkapkan bahwa tahun ini merupakan pengumuman ke-38 sejak Hadiah Sastera Rancagé. Setelah melewati perjalanan 38 tahun, Yayasan Rancagé tetap optimis bahwa sastra daerah akan terus berkembang mengikuti zaman. Pasang-surut perhatian masyarakat terhadap sastra daerah adalah hal biasa.
“Bagi kami, yang terpenting adalah memberi komitmen dan menjaga konsistensi agar hadiah ini tidak terputus, bagaimanapun keadaannya. Mungkin untuk ke depan, naskah yang dinilai tak hanya buku, melainkan manuskrip atau calon buku. Hal ini untuk mengantisipasi kesulitan pengarang dalam menerbitkan buku,” ungkapnya. Selain itu, mulai tahun 2025, Yayasan Kebudayaan Rancagé memberikan lagi hadiah untuk kategori jasa setelah sebelumnya terhenti tahun 2018.
Nominasi Sastra Bali
Jumlah buku sastra Bali yang terbit pada tahun 2025 adalah 12 judul, turun dua judul dibandingkan jumlah terbitan tahun sebelumnya, 2024, yang berjumlah 14 judul. Jumlah terbitan 12 judul ini (lihat Tabel) sama dengan jumlah terbitan buku sastra Bali tahun 2023. Memang, dapat dikatakan bahwa terbitan antara 10-12 judul dalam setahun merupakan tren normal dalam kehidupan sastra Bali dalam dua dekade terakhir. Kedua belas karya yang terbit 2025 ini diterbitkan oleh dua penerbit, yaitu Pustaka Ekspresi (11 judul) dan Nila Cakra (1 judul)
Jika dilihat dari segi jenisnya, terbitan 12 judul buku ini terdiri dari 1 novel, 6 antologi puisi (termasuk puisi tradisional Bali berupa pupuh), dan 5 kumpulan cerita pendek. Dari segi genre, sebaran puisi dan cerpen yan seimbang menunjukkan tren normal. Untuk jenis novel rata-rata satu atau dua judul. Penulis novel umumnya orang yang sudah lama menekuni dunia penciptaan alias sudah established sebagai penulis. Untuk jenis drama memang sesekali saja muncul. Penulis naskah drama biasanya memiliki minat khusus, misalnya mereka yang berlatar belakang pemain teater atau sutradara. Kecenderungan dominannya cerpen dan kumpulan puisi, minimnya novel dan apalagi drama, adalah tren normal dalam sastra pada umumnya, termasuk kiranya dalam sastra Indonesia.
Tiga tema menonjol yang muncul berulang dari satu karya ke karya lain, terutama dalam cerpen dan novel, adalah persoalan konflik kasta, ilmu hitam (leak) atau black magic, serta kerusakan alam Bali akibat alih fungsi lahan atau eksploitasi. Ketiga tema ini muncul berulang dari waktu ke waktu, dari satu pengarang ke pengarang lain, baik dalam karya sastra berbahasa Bali maupun bahasa Indonesia.
Tiga Keunggulan Novel "Lampah Sang Pragina"
Menurut juri Hadiah Sastra Ramcage untuk Sastra Bali, Prof. I Nyoman Darma Putra, setidaknya ada tiga keunggulan novel Lampah Sang Pragina sebagai dasar ditetapkan sebagai peraih penghargaan.
Pertama, novel mengangkat fenomena sosial 'klasik' yang tetap aktual di Bali, yaitu konflik kasta (wangsa). Dalam mengangkat tema perbedaan kasta (wangsa) yang telah banyak ditulis dalam karya-karya para penulis Bali lainnya, novel Lampah Sang Pragina mampu menawarkan cerita yang orisinal: seorang penari laki-laki dari wasang jaba (bawah) dipisahkan paksa dengan pacarnya seorang penari dari triwangsa oleh ayah perempuan yang konservatif, kemudian di akhir cerita sang penari kembali bertemu pacar penari triwangsa namun orang tua si perempuan cukup modern.
Kedua, dalam mengangkat isu perbedaan kasta (wangsa) novel memilih memotret realitas di masyarakat: perbedaan posisi antara yang konservatif dan modern dalam menerapkan adat; tanpa menonjolkan posisinya. Dengan kata lain, novel membebaskan pembaca untuk memilih posisi sebagai kelompok yang kaku atau modern fleksibel dalam memelihara adat.
Ketiga, novel memiliki alur yang menarik dengan kisahan terjadi di Bali, Jakarta, dan kembali ke Bali. Keempat, novel tersaji dengan bahasa yang lancar, lugas, dan juga aktif menghidupkan metafora dalam bahasa Bali seperti ungkapan "weruh ring aran tan weruh ring rupa" atau "buka kebo mabalih gong" yang memperkuat estetika cerita.
Karya Nominasi
Dari 12 judul buku sastra Bali yang terbit, semuanya masuk dalam nominasi penilaian. Berikut adalah ulasannya per judul buku, dimulai dari novel Lampah Sang Pragina.
1. Lampah Sang Pragina (Perjalanan Sang Penari)
Novel Lampah Sang Pragina (Perjalanan Sang Penari) menyajikan dua pandangan tentang kasta (wangsa) sebagai penanda perbedaan status sosial berdasarkan kelahiran dalam masyarakat Bali. Pertama, kelompok konservatif yang berpandangan bahwa perbedaan kasta harus ditegakkan secara utuh; misalnya, laki-laki dari kasta rendah tidak diperbolehkan menikah dengan perempuan dari kasta yang lebih tinggi. Kedua, kelompok modern yang memandang bahwa perbedaan kasta tidak perlu ditegakkan karena hanya akan menimbulkan penderitaan.
Dalam novel ini dikisahkan perjalanan hidup seorang penari laki-laki Bali yang cintanya kepada seorang penari perempuan kandas akibat sikap konservatif orang tua pihak perempuan karena perbedaan kasta (kutipan teks: antuk linggih sane ten pateh pamuputne tiang sareng dane palas. Dane saking puri, tiang wantah wong jaba; artinya: karena perbedaan status sosial, akhirnya kami dipisahkan. Dia daari Puri, saya orang jaba [luar/ bawah]; hlm. 114). Namun, pada akhirnya penari tersebut menemukan penari lain yang juga dicintainya dan berasal dari kasta berbeda, tetapi hubungan mereka direstui oleh orang tua pihak perempuan yang berpandangan modern.
Novel setebal 116 halaman ini menarik dalam tiga hal, yaitu latar, alur, dan tema. Dari segi latar, cerita dikisahkan di dua tempat, yakni Bali dan Jakarta, yang masing-masing merepresentasikan ruang tradisional dan modern (metropolitan). Perjalanan hidup tokoh penari tersebut tergambar dalam alur cerita yang paralel, dengan nuansa berbeda antara bagian pertama (awal) yang berakhir sedih (sad ending) dan bagian kedua (akhir) yang berakhir gembira (happy ending).
Tema konflik kasta memang lazim dan banyak diungkap oleh sastrawan Bali. Namun, Ketut Sugiarta mampu menyajikan konflik perbedaan status sosial berdasarkan keturunan ini secara kreatif dan orisinal. Dengan mengangkat tema konflik kasta, pengarang menjadikan novelnya sebagai semacam kamera yang memotret kehidupan sosial masyarakat Bali modern yang masih terbelah antara sikap modern dan konservatif. Uniknya, pengarang membebaskan pembaca untuk menentukan pendiriannya sendiri.
2. Tenget (Angker)
Kumpulan puisi Tenget (Angker) karya Ida Bagus Pawanasuta memuat 50 judul puisi dengan beragam tema. Namun, sebagaimana tersirat dalam judulnya, tema dominannya adalah tentang keangkeran. Batasan makna angker tidak dituangkan secara konklusif dalam satu pengertian tunggal dalam satu melainkan tersebar dalam berbagai puisi. Pengertian angker berkaitan dengan beberapa hal, yakni sesuatu yang menakutkan; benda atau tumbuhan yang memiliki roh; taksu; keangkeran sebagai sesuatu yang harus dijaga dan dihormati karena berguna bagi kehidupan; atau sesuatu yang bersifat magis. Jika yang angker tidak dihormati, apalagi dinodai, maka bencana menjadi keniscayaan.
Puisi-puisi yang bertema angker antara lain mengangkat hutan, danau, samudra, bumi, serta unsur-unsur budaya seperti sesajen dan canang. Puisi “Gunung” (hlm. 7), misalnya, menggambarkan bahwa jika keangkeran gunung tidak dihormati, niscaya gunung akan murka dan meletus, sehingga menimbulkan bencana. Contoh lain, puisi “Engsap” (Lupa, hlm. 11) yang mengingatkan jika keangkerannya tidak dijaga, hutan akan rusak dan menyebabkan banjir.
Orang Bali, berbeda dengan masyarakat lain—misalnya masyarakat Barat—sangat percaya pada konsep angker. Di Bali, pohon besar yang diberi kain poleng dipandang angker dan karena itu dijaga agar tetap lestari. Alih-alih menebangnya, masyarakat justru mengaturkan sesajen sebagai bentuk penghormatan serta permohonan perlindungan dan keselamatan.
Antologi puisi ini sangat khas Bali karena membicarakan konsep keangkeran, tema lumrah dalam alam pikiran orang Bali. Namun, bagi pembaca non-Bali yang menjunjung rasionalistas, tema angker yang irrasional ini akan relatif sulit dipahami, kecuali mereka tinggal dan hidup cukup lama di Bali.
3. Gumi Inguh tan Pasuluh (Dunia Gelisah tanpa Pelita)
Kumpulan puisi Gumi Inguh tan Pasuluh (Dunia Gelisah tanpa Pelita) karya I Wayan Dibia memuat 80 puisi dan menunjukkan bahwa penyairnya sangat produktif. Selain menulis buku sastra Bali, Prof. Dr. I Wayan Dibia, M.A., juga menulis karya lain, seperti biografi seniman dan novel berbahasa Indonesia Satu Kapal Dua Cinta (2025). Karena ditulis dalam bahasa Indonesia, novel tersebut tidak masuk dalam nominasi sastra daerah.
Profesinya sebagai guru besar tari, pencipta tari, dan seniman panggung turut memberikan inspirasi bagi puisi-puisi yang termuat dalam buku ini. Banyak puisi yang mengangkat tema tari dan dunia pertunjukan, seperti terlihat pada puisi “Legong Putih”, “Jauk Manis”, “Jauk Keras”, “Arja”, “Pejogedan”, “Joged”, “Joged Pingitan”, dan “Monjong Sadru” (dua tokoh punakawan dalam Arja yang pernah populer di Bali). Karya-karya Wayan Dibia ini menegaskan kembali bahwa sastrawan termasuk penyair pastilah menulis apa yang diakrabi, disajikan dengan rasa kagum dan/ atau kecewa dalam puisi tergantung posisi yang diambil.
Jelas terbaca bahwa puisi-puisi Wayan Dibia tidak hanya melukiskan keindahan kesenian Bali, tetapi juga menyuarakan kritik sosial, misalnya terhadap kebiasaan masyarakat Bali bermain judi dalam puisi “Bebotoh Kalah” dan “Branangan”, serta kritik terhadap pengibing dan penari joged yang menampilkan erotisme berlebihan dalam puisi “Igel Buang”, “Joged Jaruh”, dan “Jero Mangkukan”.
Dalam beberapa puisi, penyair juga menggali perumpamaan khas Bali untuk mengungkapkan keindahan atau kecantikan, seperti pada puisi “Bunga Sandat” (hlm. 50) yang melukiskan keharuman yang tetap bertahan meski bunga telah layu, serta “Nyuh Gading” (hlm. 53) yang menjadi ungkapan metaforis tentang keindahan payudara gadis.
Jika dikaitkan dengan judul antologi Gumi Inguh tan Pasuluh—meskipun tidak ada puisi dengan judul yang sama di dalamnya—penyair tampaknya hendak meluapkan kekecewaannya terhadap realitas sosial, sebagaimana tergambar dalam puisi “Gumi Buduh” (‘Dunia Gila’). Kekhasan ungkapan yang terasa dari awal hingga akhir antologi ini adalah perpaduan antara sindiran yang menghibur dan hiburan yang menyindir, persis seperti ciri khas seni pertunjukan Bali.
4. Nyujuh Joh (Menjangkau Jauh)
Kumpulan puisi Nyujuh Joh (Menjangkau Jauh) karya I Made Derata berisi 54 judul puisi. Seperti tertulis dalam kata pengantarnya, kehadiran antologi puisi ini agak unik karena penyairnya telah meninggal dunia. Penerbitan buku ini didasarkan pada arsip yang ditinggalkan, sebagian diketik dan sebagian lagi ditulis tangan dengan pensil atau pulpen di atas kertas yang sudah rusak.
Anak almarhum I Made Derata, yakni penyair I Nyoman Wirata, mengumpulkan puisi-puisi tersebut dan mengajukannya ke lomba penerbitan puisi Gerip Maurip yang diinisiasi oleh Pustaka Ekspresi. Akhirnya terbitlah buku puisi yang semula tanpa judul ini, kini tampil dengan judul Nyujuh Joh, diambil dari judul puisi yang sama pada hlm. 4.
Puisi satu bait tersebut mengungkapkan kesulitan manusia menjangkau kebenaran (mawasta sujati). Bukan maksud penyair mengajak pembaca bersikap pesimistis bahwa kebenaran mustahil dijangkau karena jaraknya yang jauh, melainkan memberi kesadaran bahwa kebenaran harus tetap dicari meskipun jauh.
Selain bentuk puisinya yang pendek-pendek, kekhasan antologi ini terletak pada banyaknya puisi yang berjudul buah-buahan, tumbuhan, atau bunga-bungaan, seperti buni, kaliasem, ceroring, gedang, nyuh (kelapa), wani (mangga putih), tebu, gatep, celagi (asam), sandat, cempaka, kepuh, jaka, tiying (bambu), dan lain-lain. Isi puisi-puisi tersebut tidak semata-mata menjelaskan ciri atau kegunaan buah, tanaman, bunga, atau kayu-kayuan, melainkan memanfaatkan unsur-unsur tersebut sebagai sindiran atau metafora.
Misalnya, puisi “Tebu” (hlm. 25) mengungkapkan rasa manis jenis tebu hitam yang berguna sebagai sesajen untuk dewa maupun untuk ritual kremasi. Di akhir puisi ini terdapat ungkapan tebutuh, yang berarti tebu kering sekaligus merupakan plesetan dari buah pelir laki-laki sebagai lambang kejantanan. Puisi lain berjudul “Gedang” (pepaya), yang hanya terdiri atas satu bait, digunakan penyair untuk mengungkapkan mitologi Calonarang.
Antologi ini sangat inspiratif dalam menghadirkan gaya ungkap khas serta pencarian tema-tema sederhana namun memesona dalam perkembangan puisi Bali modern.
5. Pupuh Bhuta Yadnya (Puisi Ritual Bhuta Yadnya)
Kumpulan puisi Pupuh Bhuta Yadnya (Puisi Ritual Bhuta Yadnya) merupakan karya I Wayan Lugraha yang masuk dalam kategori sastra Bali tradisional karena ditulis dalam bentuk pupuh, yaitu puisi tradisional yang diikat oleh padalingsa (aturan baris, bait, dan suara akhir yang berkaitan dengan tembang). Sesuai dengan judulnya, antologi puisi ritual bhuta yadnya ini mengulas upacara berupa korban suci menurut kepercayaan Hindu yang disajikan untuk bhuta (atau buta), yakni spirit dengan kekuatan destruktif.
Puisi-puisi dalam antologi ini membahas jenis-jenis upacara bhuta yadnya, jenis sesajen yang diperlukan, serta nilai atau makna ritual yang dikandungnya. Tema-tema yang berkaitan dengan hal-hal buruk yang harus dihindari manusia juga muncul dalam antologi ini. Misalnya, topik mengenai Sad Ripu (Enam Musuh) (hlm. 19–21), yaitu kama (hawa nafsu), loba (tamak), kroda (marah), moha (kebingungan), mada (mabuk), dan matsarya (iri hati), yang perlu dikendalikan untuk mencapai kebahagiaan dan keharmonisan spiritual.
Antologi ini berguna bagi masyarakat penekun gita shanti yang menembangkan puisi-puisi di dalamnya untuk mengiringi ritual. Puisi tradisional seperti ini lebih menonjolkan nilai didaktiknya daripada orisinalitas, karena puisi atau tembang yang terdapat dalam buku ini—sebagaimana karya sejenis—banyak dibaca dan dinyanyikan sebagai pengiring ritual. Sebagai bagian dari tradisi lisan, orisinalitas bukanlah prioritas.
6. Kawruhan Guna Dusun (Pengetahuan Orang Desa)
Kawruhan Guna Dusun (Pengetahuan Orang Desa) karya I Putu Wahya Santosa memiliki kemiripan dengan Pupuh Bhuta Yadnya (Puisi Ritual Bhuta Yadnya) karya I Wayan Lugraha. Keduanya lebih lazim dimasukkan ke dalam kategori sastra Bali tradisional karena ditulis dalam bentuk puisi tradisional geguritan dengan menggunakan beragam pupuh, seperti ginada, sinom, pucung, dan ginanti, masing-masing memiliki ketentuan jumlah baris dalam satu bait, jumlah suku kata dan bunyi akhir untuk mengakomodasi tembang.
Puisi-puisi dalam antologi setebal 67 halaman ini dikelompokkan menjadi dua bagian, yaitu “Kawruhan Guna Dusun” (Pengetahuan Orang Desa) yang dituangkan dalam tujuh pupuh berbeda, serta “Gita Wyanjana Sastra” yang dituangkan dalam tiga pupuh berbeda. Tiap bagian diberi judul berdasarkan nama pupuh yang digunakan, bukan berdasarkan isi atau tema. Namun demikian, keseluruhan puisi dalam kelompok pertama memang menguraikan pengetahuan yang berguna bagi kehidupan di desa.
Ungkapan guna dusun bersifat multimakna, karena selain berarti pengetahuan orang desa (dengan konotasi sikap merendah demi kemuliaan), juga bermakna pengetahuan yang berguna untuk diterapkan di desa (versus di kota, juga konotasi merendah). Dalam bagian pertama, kata kawruhan (pengetahuan) muncul berulang kali. Melalui kata kawruhan penyair dapat mengeksplorasi tema dan menyajikan makna dengan kental. Sinonim kawruhan yang juga digunakan antara lain kawikanan (kepandaian), kepatutan (kebenaran), dan perbuatan baik (sadu budi). Sumber pengetahuan yang berkali-kali ditekankan adalah sastra dan agama, keduanya memang menjadi orientasi universal bagi penulis Bali dan lainnya.
Dalam bagian kedua, banyak dieksplorasi berbagai hal dengan kata kunci luwih (benar, baik). Yang dimaksud luwih meliputi sastra (sastra luwih), perbuatan, tingkah laku manusia, karakter, perkataan, dan seterusnya. Sama seperti antologi puisi tradisional lainnya, karya ini bersifat didaktik, yakni mendidik pembaca agar dapat mengakumulasi pengetahuan (wruh) untuk digunakan dalam kehidupan sehari-hari, khususnya dalam konteks kehidupan di desa.
7. Boya Nyuwun Tanah (Bukan Menjunjung Tanah)
Kumpulan cerita pendek Boya Nyuwun Tanah (Bukan Menjunjung Tanah) karya Ni Wayan Kristina (1991) berisi delapan cerita pendek yang dominan bertema tentang tanah dengan segala konotatif dan denotatifnya. Cerpen-cerpen dalam antologi ini dilukiskan terjadi dalam interaksi antara anak dan orang tua dengan berbagai latar belakang dan masalah yang berkaitan dengan masalah adat dan budaya Bali. Cerpen "Boya Nyuwun Tanah" yang menjadi judul antologi ini mencoba membantah mitos atau olok-olok yang menyindir laki-laki Bali yang mau menikah dengan sistem nyentana (tinggal di rumah istri) adalah tergiur karena warisan (misalnya tanah). Dikisahkan, seorang perempuan anak tunggal, didorong menikah oleh ibunya karean sudah usia, namun menolak karena ingin memenuhi pesan ayahnya mencari sentana (laki-laki yang mau menjadi suami tinggal menjadi bagian keluarga istri). Laki-laki calon suami ini menyatakan bahwa dia mau nyentana karena cinta, bukan tanah. Kisah cukup menarik, tapi alur kurang kompleks. Secara keseluruhan, cerita-cerita dalam antologi ini disajikan dalam bahasa yang menarik, tema beragam, namun plot-plotnya masih amat sederhana. Diperlukan pengalaman panjang bagi pengarang untuk menjadikannya tema biasa menjadi cerita dengan sajian menarik dan orisinal dibandingkan karya pengarang lain.
8. Kidung Lodha
Kumpulan puisi Kidung Lodha memuat 56 puisi karya Mas Ruscitadewi, sastrawan Bali yang produktif menulis sejak remaja, baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Bali, berupa cepen, puisi, drama, dan naskah monolog. Karya puisinya sudah ada yang diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang.
Puisi-puisi dalam antologi ini menunjukkan bahwa penyairnya memiliki pengalaman dalam mengungkapkan gagasan tentang heroisme, kritik sosial budaya, ekokritik, sinisme, dan nasihat simbolik-alegoris. Dengan ungkapan dan diksi pendek bersyair, penyair mampu menyajikan gagasan setajam sembilu. Hal ini terasa dalam tujuh sajak berseri berjudul “Kidung Lodha 1” sampai “Kidung Lodha 7”. Dalam puisi-puisi ini, I Lodha adalah nama sosok yang menjadi subjek sekaligus objek puisi dalam melantunkan misi heroisme di balik serangan Belanda yang mengancurkan Kerajaan Badung (Welanda mlegendah/.../ Badunge pejah). Puisi-puisi ini disusul oleh tiga seri puisi berjudul “Nengah Jimbaran 1” sampai “Nengah Jimbaran 3”.
Bagi pembaca yang memahami sejarah Perang Puputan Badung (1906) dan latar belakang Raja Denpasar yang memimpin Badung sebagai pengarang, akan bisa melihat bahwa kedua seri puisi Lodha dan Nengah Jimbaran saling berkaitan. Raja Denpasar adalah pencipta Geguritan Nengah Jimbaran tiga tahun sebelum puputan meletup. Namun, seperti juga puisi-puisi lainnya, penyair piawai menggunakan puisi-puisi pendek untuk menyampaikan aneka kritik dan kegelisahan, misalnya berbagai kesenjangan dalam kehidupan sastra dan budaya Bali dengan nada sinisme (ombeh soleh-soleh/.../ aksara kalah lalah campah).
Selain tema heroisme-kolonialisme, puisi-puisi dalam antologi ini juga menyajikan tema hilangnya perikemanusiaan, seperti dalam puisi “Ngitung" (artinya ‘menghitung’) dengan latar pandemi Covid-19, ketika penderita diolok-olok dan ditantang membayar berapa jika ingin hidup dari virus Covid (hlm. 16); serta tema lingkungan dalam puisi “Kelem” (‘tenggelam’) (hlm. 59) sebagai kritik atas kegagalan manusia menjaga kelestarian alam.
Membaca puisi-puisi dalam buku ini menimbulkan rasa gelisah atas berbagai ketidakberesan dalam kehidupan sosial akibat kelobaan manusia, sehingga Kidung Lodha mungkin juga dapat disebut sebagai “Kidung Loba”, tentang kerakusan dan dampaknya.
9. Blabur ring Pasisi Sanur (Hujan di Pesisir Sanur)
Antologi cerpen Blabur ring Pasisi Sanur (Hujan di Pesisir Sanur) memuat 13 cerpen yang diciptakan 2023-2024 oleh pengarangnya, Carma Mira (1991), penulis muda yang karyanya meraih Hadiah Sastra Rancage 2024. Ada ciri baru dalam antologi cerpen ini, yakni pencantuman kutipan dari karya sastra klasik Bali/ Jawa Kuna yang dianggap memiliki kemiripan ide dengan tema cerita pendek. Misalnya, cerpen "Blabur ring Pasisi Sanur" yang mengisahkan sedih-duka tokoh utama karena cintanya kandas akibat perbedaan kasta (tema utama novel Lampah Sang Pragina, lihat di atas), diawali kutipan Kakawin Ramayana dengan teks bahasa Jawa Kuna dan terjemahan bahasa Indonesia (mengapa bukan bahasa Bali?) yang berbunyi "Hujan tidak berbelas kasihan kepada orang yang sedang berpisah....tiada henti-hentinya justru bertambah lebat). Diksi "blabur" (hujan yang menyuburkan) di judul dan di isi cerita dengan diksi "hujan" dan variannya "makin lebat" dalam kutipan Kakawin Ramayana dihadirkan untuk menunjukkan intertekstualitas sastra baru dan sastra klasik. Semua cerpen berisi kutipan dari berbagai sastra klasik seperti "Geguritan Sucita Subudi", "Geguritan Tamtam", dan "Sumanasanta". Intertekstualitas ini bisa dibaca sebagai usaha memperkenalkan dua jenis karya sastra dengan cara resiprokalitas. Walau tema-tama yang digarap adalah yang lazim seperti konflik kasta, kemampuan menyusun alur cerita dan menghidupkan metafora dalam nrasai dan dialog, mencerminkan pengarangnya memiliki literasi sastra yang berguna, menambah ciri orisinalitas karyanya.
10. Austin Ngajak Takashi Ngibing di Subak Made Barni (Austin dan Takashi Menari di Subak Made Barni)
Antologi cerpen Austin Ngajak Takashi Ngibing di Subak Made Barni (Austin dan Takashi Menari di Subak Made Barni) memuat 10 cerita pendek karya IBW Widiasa Keniten (1967), penulis yang lebih dari sekali sudah mendapat Hadiah Sastra Rancage. Dia sangat produktif, setiap tahun pasti minimal satu kumpulan cerpen terbit, dengan tema-tema aktual, termasuk covid dan interaksi antara orang Bali dan wisatawan dalam konteks pariwisata dan kelanjutannya. Ada banyak kisah yang ditulis yang menggambarkan pernikahan orang Bali dengan orang Barat, seperti dalam antologi karyanya Mekele Paris (Madame Paris) (2012). Dalam cerpen Austin Ngajak Takashi Ngibing di Subak Made Barni ini pun, IBW Widiasa Keniten selalu menggunakan tokoh Barat untuk memuji dan mengritik seni dan budaya Bali serta lingkungan. Kisah turis ke Bali untuk belajar menari dan senang menabuh gamelan Bali ("Austin", hlm. 6-11 dan "Tamara Ubud", hlm. 24; "Mister Toris", hln. 52) dilukiskan oleh pengarang untuk memuji bahwa Bali memiliki kesenian yang adi-luhung yang patut dilestarikan, namun sosok wisatawan juga digunakna untuk menyampaikan kritik tajam atas kondisi Bali, misalnya uangkapan "Tanah Baline suba tusing gelah anak Bali buin." (Tanah Bali sudah bukan milik anak Bali lagi) (hlm. 7). Ciri khas cerpen Widiasa Keniten adalah plot tunggal, jika dibuat lebih kompleks dengan konflik lebih rumit, akan menjadi lebih dalam dan enak dibaca.
11. Bulan Magantung (Bulan Menggantung)
Kumpulan cerpen Bulan Magantung (Bulan Menggantung) karya DN. Sarjana (1964) ini memuat 19 cerpen yang relatif pendek-pendek tentang cinta dan lukisan kegelisahan petani melihat alih-fungsi lahan pertanian. Cerita kisah cinta tak sampai karena perbedaan kelas terungkap dalam cerpen pertama yang juga menjadi judul antologi ini, yaitu ""Bulan Magantung" (Bulan Menggantung). Dalam kisah cinta remaja ini, dilukiskan anak majikan perempuan (Gek Bulan) dan sopir laki-laki saling jatuh cinta karena sering bersama dalam penjemputan. Plot mendadak dihentikan karena Gek Bulan akan melanjutkan sekolah ke Singapura. Cerita berakhir dengan duka-cita sang sopir memikirkan nasibnya merana, seperti tanah dan langit, simbol perbedaan kelas yang tak akan pernah bertemu, sebuah tema universal yang diangkat dalam konteks Bali. Kisah-kisah alih fungsi lahan yang terjadi akibat kemajuan pariwisata dilukiskan dalam beberapa cerpen, seperti "Mebalih Temuku" [Menonton Empang Sawah"] ("Carik asibak ene, anak kematiang. Makejang suba laku", hlm. 32) dan cerpen "Megarang Yeh" (Memperebutkan Air) (hlm. 83) yang melukiskan irigasi menghadapi disrupsi sehingga menimbulkan rasa putus asa petani yang sinistik menyampaikan hancurkan saja irigasi, daripada bertani sawah-sawah lebih baik dibangun BTN (kompleks perumahan yang dibiayai Kredit Pembangunan Rumah [KPR] Bank Tabungan Negara). Antologi ini mencerminkan bagaimana perubahan sosial radikal terjadi di Bali dan bagaimana masyarakat Bali merespon perubahan yang tak terelakkan itu. Tafsir ini menunjukkan bahwa sastra bukan sekadar hiburan tetapi padat akan eskpresi kondisi sosial.
Seperti dikomentari I Made Sugianto, sastrawan dan pengelola penerbitan Pustaka Ekspresi, kumpulan cerpen ini memiliki fenomena bahasa yang menarik dikaji secara sosiolingusitik atau dialektologi, mengingat penulis adalah kelahiran Tabanan dan sempat tinggal di Jembrana. Kedua daerah ini memiliki gaya bahasa atau dialek yang berbeda, dalam ucapan dan penulisan, yang kiranya merupakan fenomena yang menarik dikaji.
12. Suryak Suwung (Sorak Sunyi)
Kumpulan cerita pendek Suryak Suwung (Sorak Sunyi) ini memuat 13 judul cerpen karya Ari Pebriyani (1989). Hampir seluruh karyanya menyajikan tema alam mistis, seperti persoalan black magic—yang di Bali dikenal dengan leak—kesurupan, serta hal-hal yang berkaitan dengan dunia tak terlihat atau niskala.
Tema-tema seperti ini tentu familiar bagi pembaca Bali, namun bagi pembaca non-Bali kiranya akan mengernyitkan dahi dalam memahaminya, karena tidak mudah dipahami kecuali mereka telah lama hidup dan mendalami sistem kepercayaan masyarakat Bali. Cerpen “Surya Suwung” (hlm. 20), misalnya, merupakan kisah abstrak dan irasional mengenai kematian seorang perempuan tanpa sebab-akibat yang jelas. Namun, melalui tokoh laki-laki dijelaskan bahwa sorak-sorak sunyi semalam itu adalah proses pencabutan nyawa si perempuan. Tokoh utama mencoba mengaitkan hal-hal yang bagi orang awam tampak tidak saling berkaitan.
Hampir semua cerita dalam kumpulan ini bergerak dalam pola serupa, terutama cerita bertema black magic (leak), yang melukiskan adanya orang-orang yang memiliki kesaktian tanpa disadari karena diwariskan oleh kakek atau leluhurnya. Tanpa sadar, tokoh tersebut menguasai ilmu hitam dan melakukan tindakan sebagaimana disarankan oleh ilmunya itu, sehingga kematian misterius seseorang dapat dijelaskan sebagai akibat dari peristiwa pemangsaan pada malam sebelumnya secara mistis atau melalui black magic.
Masyarakat yang tidak memiliki pengetahuan dan sistem kepercayaan tentang leak tentu akan sulit menerima logika bahwa seseorang meninggal karena ilmu hitam. Ari Pebriyani memang memiliki kegemaran sekaligus kelebihan khusus dalam menulis cerpen bertema alam niskala, mistis, dan black magic. Walaupun sejumlah penulis sebelumnya telah mengangkat tema serupa—misalnya kumpula cerpen periah Rancage berjudul Leak Pamorongan (2008) karya I Wayan Sadha—Ari memiliki kemampuan untuk menyusun bentuk-bentuk cerita yang berbeda, sehingga memperkaya khazanah kisah-kisah tentang black magic di Bali. Kisah-kisah abstrak semacam ini juga menuntut penggunaan gaya bahasa yang khas, sehingga pengayaan tidak hanya terjadi dalam ranah sastra, tetapi juga dalam aspek linguistik.
Tabel Buku Sastra Bali Terbitan Tahun 2025
|
No |
Judul |
Pengarang |
Jenis Karya |
|
1. |
Lampah Sang Pragina (Perjalanan Sang Penari) |
Ketut Sugiartha |
Novel |
|
2. |
Tenget (Angker) |
Ida Bagus Pawanasuta |
Puisi |
|
3. |
Gumi Inguh tan Pasuluh (Dunia Gelisah tanpa Pelita) |
I Wayan Dibia |
Puisi |
|
4. |
Nyujuh Joh (Menjangkau Jauh) |
I Made Derata |
Puisi |
|
5. |
Pupuh Bhuta Yadnya (Puisi Ritual Bhuta Yadnya) |
I Wayan Lugraha |
Pupuh |
|
6. |
Kawruhan Guna Dusun (Pengetahuan Orang Desa) |
I Putu Wahya Santosa |
Pupuh |
|
7. |
Boya Nyuwun Tanah (Bukan Menjunjung Tanah) |
Ni Wayan Kristina |
Cerpen |
|
8. |
Kidung Lodha (Kidung Lodha) |
Mas Ruscitadewi |
Puisi |
|
9. |
Blabur ring Pasisi Sanur (Hujan di Pesisir Sanur) |
Cama Mira |
Cerpen |
|
10. |
Austin Ngajak Takashi Ngibing di Subak Made Barni (Austin dan Takashi Menari di Subak Made Barni) |
IBW Widiasa Kenitan |
Cerpen |
|
11. |
Bulan Magantung (Bulan Menggantung) |
DN. Sarjana |
Cerpen |
|
12. |
Suryak Suwung (Sorak Sunyi) |
Ari Pebriyani |
Cerpen |


Komentar