Di Bawah Bayang-bayang Tuhan

  • By I Made Sugianto
  • 20 Januari 2026
cover buku

Jika dilihat secara keseluruhan, sajak-sajak dalam buku ini memperlihatkan sebuah dunia yang hidup di bawah bayangbayang Tuhan. Tuhan selalu masih disebut, masih diseru, tetapi tidak lagi memberi jaminan keadilan dan keselamatan. Di bawah bayang-bayang itu, manusia dan alam menanggung luka. Puisipuisi ini tidak menawarkan jalan keluar yang jelas. Tidak ada jawaban teologis atau solusi sosial. Yang mereka lakukan adalah menunjukkan kenyataan bahwa dalam dunia yang penuh ritual dan doa tetap dipenuhi perang, kemiskinan, dan kehancuran.

Dengan cara yang sederhana tetapi tajam, Sthiraprana Duarsa menempatkan pembaca di hadapan pertanyaan-pertanyaan yang tidak mudah tentang Tuhan, kekuasaan, dan nasib manusia. Sajak-sajak dalam buku ini tidak meminta pembaca untuk percaya atau tidak percaya. Sthiraprana Duarsa mengajak pembaca untuk melihat tubuh yang terluka, alam yang rusak, dan wajah Tuhan yang muncul di tengah semua itu. Dari sanalah pembacaan terhadap buku kumpulan puisi ini sebaiknya dimulai.


TAGS :

I Made Sugianto

I Made Sugianto lahir di Banjar Lodalang, 19 April 1979 bertepatan Wraspati Wage Sungsang (Sugian Jawa). Kini istirahat sejenak dari pekerjaan sebagai wartawan NusaBali untuk mengbadi sebagai Kepala Desa di tanah kelahirannya, Desa Kukuh, Kecamatan Marga, Tabanan.

Komentar