Sepotong Surga Catatan Neraka
By I Made Sugianto- 08 Januari 2026
Puisi-puisi Made Edy Arudi dalam buku ini memperlihatkan kematangan seorang penyair (berprofesi guru bahasa Indonesia) yang telah lama menekuni puisi dengan bersinggungan pada tradisi lokal, dan lanskap Buleleng yang membentuk dirinya. Penyair menjadikan Buleleng sebagai latar, ruang batin, ruang sejarah lokal dan ingatan pribadi yang tajam, sekaligus ruang spiritual yang menjadi salah satu kunci hakiki puisi
Tema-tema spiritual yang berkonsekuensi religius dan tradisi lokal Buleleng menjadi nadi dalam karya-karya ini. Dalam sajak ”Pendakian Gunung Lesung”, misalnya, perjalanan mendaki berubah menjadi ziarah batin, doa, dan perjumpaan dengan “pecalang alas” serta Dewa-Dewa penjaga gunung. Sementara dalam ”Tamba Eling” dan ”Lelaki Bertubuh Air”, unsur kesucian air, pemujaan terhadap sumber-sumber taksu, serta ritus penyucian diri menjadi episentrum yang menyeimbangkan antara realitas hidip dan spiritualisme.
Kedekatan penyair dengan tradisi, mitologi, dan ritus masyarakat Bali Utara tampak kuat. Ia tidak hanya menuliskan tradisi, tetapi menjalankan tradisi sebagai pengalaman puitik—misalnya dalam ”Nyakan Diwang”, ”Manak Salah”, ”Di Kelenteng Ling Gwan Kiong”, atau ”Sembiran” yang memperjumpakan mitos tua yang bersemayam di relung-relung masa lalu, sejarah desa, dan (sejatinya) getir kehidupan modern. Melalui bahasa puisi yang berbeda dengan bahasa sehari-hari (tidak umum atau tidak biasa) dengan tanda-tanda lokal, ia menghidupkan kembali memori budaya yang terkikis dan kerap terlupa oleh masyarakatnya sendiri


Komentar