Makna Simbolik di Balik Lirik Lagu Bali Klasik (Menguak Makna Kumpulan Tembang Rare Bali Klasik)

  • By I Made Sugianto
  • 02 Januari 2026
Cover Makna Simbolik di Balik Lirik Lagu Bali Klasik

Buku ini hadir sebagai wujud pelestarian warisan ‘adiluhung’ budaya Bali, khususnya dalam bentuk tembang rare atau lagu-lagu anak klasik Bali. Dalam setiap bait lagu klasik Bali tersimpan nilai-nilai luhur, petuah bijak, serta makna simbolik yang menggambarkan filosofi kehidupan masyarakat Bali yang sarat akan kearifan lokal. Sayangnya, di tengah arus modernisasi dan derasnya pengaruh lagu-lagu populer masa kini, keberadaan lagu klasik Bali mulai terlupakan dan kehilangan tempat di hati generasi muda.

Di balik irama lembut dan syair sederhana tembang rare, tersimpan mutiara nilai kehidupan yang mengajarkan kesantunan, cinta kasih, ketekunan, hingga penghormatan pada alam, sesama, dan leluhur. Lagu-lagu ini bukan sekadar hiburan masa kecil, tetapi warisan sastra lisan yang mengandung nilai-nilai etika dan spiritualitas yang mendalam.

Pada masa kini, ketika budaya global merambah setiap ruang kehidupan, lagu-lagu modern hadir dengan irama yang memikat namun sering kali kosong makna. Di tengah gemerlap itu, tembang rare Bali klasik seolah suara lirih yang nyaris terlupakan. Namun justru dalam kelirihannya, tersimpan kekuatan, kekuatan untuk mengingatkan, mendidik, dan menuntun kita kembali pada akar budaya dan jati diri.

Melalui buku ini, penulis mengajak pembaca untuk tidak sekadar menikmati keindahan bunyi dan irama dari tembang rare, tetapi juga menyelami makna-makna simbolik yang terkandung di dalamnya. Setiap lagu yang dibahas merupakan jendela kultural yang memuat ajaran etika, pendidikan karakter, serta panduan hidup yang relevan lintas zaman


TAGS :

I Made Sugianto

I Made Sugianto lahir di Banjar Lodalang, 19 April 1979 bertepatan Wraspati Wage Sungsang (Sugian Jawa). Kini istirahat sejenak dari pekerjaan sebagai wartawan NusaBali untuk mengbadi sebagai Kepala Desa di tanah kelahirannya, Desa Kukuh, Kecamatan Marga, Tabanan.

Komentar