Saking Hulu Resik Luhu

  • By I Made Sugianto
  • 18 Desember 2025
Cover buku Saking Hulu Resik Luhu

Bali sebagai pulau yang dikenal dengan keindahan 
alam dan kekayaan budayanya kini menghadapi tantangan 
serius, yaitu meningkatnya jumlah sampah dan menurunnya 
kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan. 
Sampah yang menumpuk di sungai, jalan, dan pesisir pantai 
bukan hanya mengganggu keindahan, tetapi juga mengancam 
keseimbangan alam yang selama ini menjadi sumber kehidupan 
dan spiritualitas masyarakat Bali.
Sebagai generasi penerus, para siswa memiliki peran 
penting dalam menumbuhkan kesadaran dan tindakan nyata 
untuk menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan. Salah 
satu cara menumbuhkan kesadaran tersebut adalah melalui 
karya sastra berbahasa Bali yang mencerminkan nilai-nilai 
budaya, kearifan lokal, serta kepedulian terhadap alam.
Buku antologi cerpen dan puisi berbahasa Bali “Saking 
HULU Resik LUHU” hadir sebagai bentuk konkret pendidikan 
karakter dan literasi ekologis di lingkungan sekolah. Melalui 
sastra, peserta didik diajak berpikir kritis, berperasaan halus, 
dan berbudaya, sehingga mampu menanamkan nilai-nilai Tri 
Hita Karana, keseimbangan antara manusia, alam, dan Tuhan.
Dengan demikian, penulisan buku ini bukan sekadar 
wadah ekspresi seni dan bahasa, tetapi juga gerakan kecil untuk 
membangun kesadaran bersama menjaga kebersihan dan 
kelestarian Bali agar tetap ajeg, suci, dan lestari.


TAGS :

I Made Sugianto

I Made Sugianto lahir di Banjar Lodalang, 19 April 1979 bertepatan Wraspati Wage Sungsang (Sugian Jawa). Kini istirahat sejenak dari pekerjaan sebagai wartawan NusaBali untuk mengbadi sebagai Kepala Desa di tanah kelahirannya, Desa Kukuh, Kecamatan Marga, Tabanan.

Komentar