Gadis yang Bercerita pada Bulan Cerpen: Gede Aries Pidrawan

  • By Gde Aries Pidrawan
  • 27 Oktober 2025
ilustrasi Chat GPT

MENJADI kebiasaan Rani bila malam tiba, bersama sepeda mini ia terseok memanjati bukit, mencari batu pipih secepatnya, duduk di situ, mendongak, mencari bulan untuk menceritakan keluhnya seharian tadi. Bulan bak diari baginya, tempat menorehkan segala yang dialami, menceritakan prestasi sekolahnya yang merosot tajam, menceritakan tubuhnya berpenyakit, atau menceritakan kisah ayahnya, ibunya, dan orang asing yang sering mereka gunjingkan di ruang tamu. Jelas, tak satu pun ada cerita yang membuat dirinya bisa tersenyum. Bulan memandang Rani. Cahayanya menerpa wajah oval anak mungil itu, wajah Rani pun kelihatan. Sayu. Rani memang tampak layu, warna mukanya berat.

            “Malam ini bulan tersenyum padaku,” bisik Rani. Wajahnya tenang ketika ia mulai meletakkan pantatnya di batu pipih metamorfik. Mungkin ketenangan itu datang karena  ia sudah mendapatkan tempat mengadu, berbagi kesedihan bersama bulan.

            “Bulan...,” bisik Rani lagi. “Maukah kau memberikanku senyum terindahmu, seperti malam-malam lalu, karena hanya darimu aku mendapat senyum itu.” Rani menengadah menghadap bulan, bagai pengemis mengharap sepotong kue, rona mukanya penuh pinta

            Belum banyak yang Rani ceritakan, tetapi malam semakin larut. Rani jelas kecewa karena larut artinya harus pulang. Apalagi ia tadi pergi menyelinap, tanpa pamit meninggalkan ibu bapaknya yang masih bertengkar hebat. Tentu kepergian ilegal ini tak manut di hati orang tua Rani.

            Aku adalah jiwa yang selalu menyertai Rani, sang peragan begitulah orang Bali bilang.  Jadi,  aku sangat tahu segalanya tentang dia. Juga musabab kemurungan yang dibawanya.

            Sebulan belakangan ini tak ada lagi canda tawa dalam keluarga Rani. Sepi. Pembantu rumahnya pun sepertinya mencari untung atas ketidakharmonisan keluarga itu, perempuan setengah baya yang biasa dipanggil Bi Putu itu dengan leluasa dapat membelanjakan uang dapur. Toh… sebulan belakangan ini semua kegiatan di rumah itu tanpa pengawasan.

Tak satu pun orang terdekatnya mampu memberi Rani hidup. Rani memang masih memiliki paru-paru, kaki tangan, serta jantung bersama atrium dan ventrikelnya yang masih berfungsi baik. Tapi, ibarat gurun pasir hatinya teramat gersang, sedikit pun tidak ada percikan cinta kasih.

            Tanpa cinta orang terdekatnya, sedikit pun tak ada semangat dalam hari-hari Rani. Apalagi keinginan untuk makan. Seminggu ini tak ada rasa lapar dalam perut Rani. Toh… tak ada juga yang memaksanya makan, apalagi disuapi atau dimanja selayaknya anak-anak lain yang seumuran.

Tentang kesehatannya, siapa yang peduli? Orang seisi rumah seakan tak mau tahu kalau Rani sering merasakan nyeri di sekitar perutnya. Tampaknya ia sudah menderita maag akut. Asam klorida sudah menggerogoti dinding lambungnya sebagai akibat tidak adanya makanan yang harus dicerna.

Sama seperti malam-malam lalu, kini pun ia tetap sendiri.

“Ah... sudah malam,” Rani bergumam. Baru sadar akan siang yang sudah dilewati.

            “Mengapa bulan tak tampak?”

            Rani merenung.

            “Atau... malam ini bulan memang tak mau mendengar ceritaku?” Dia menerka sendiri akan ketidakhadiran bulan.

            Rani tak lagi dapat menerka. Dalam benaknya ia ingin secepatnya melihat bulan. Bercerita banyak padanya tentang kisah hari ini, tentang waktu yang sudah dilaluinya, yang pekat itu. Bersama sepeda Polygon miliknya, Rani kembali memanjati bukit, lebih tinggi dari tempat semula. Ia mengayuh sepedanya menembus malam, menjamah ilalang, hingga di beberapa bagian kulit putihnya terluka, tergores ujung ilalang yang menghalangi.

            Dari sana pun bulan tetap tak muncul. Di mana bulan? Apa benar semua perkiraan Rani, bulan tak mau lagi mendengar ceritanya? Rani jelas sedih dengan ketidakdatangan bulan. Kepala Rani mendongak, seperti kebiasaannya berkisah pada bulan malam-malam kemarin. Rani sadar bahwa malam ini tak ada bulan, tapi ia tak tahu lagi pada siapa ia harus bercerita dan ia pun bercerita sendiri. Seperti drama monolog, cahaya muka Rani kadang sayu, sedih, kadang juga ketakutan, kemudian menangis. Tangis itulah yang membawa Rani pada ingatan sebulan lalu, sebuah awal malapetaka yang menimpa dirinya. Rani berusaha membuka kembali lembaran kejadian itu. Malam sebulan lalu.

            Dalam kegelapan yang amat senyap saat itu hampir tak terdengar suara apa pun, selain kibasan selimut, suara tarikan napas, dan dengkuran Bi Putu yang tertidur nyenyak menemani Rani. Entah mengapa, Rani malam itu tak bisa tidur. Sepertinya ada yang ganjil dengan malam dan ia pun duduk, merenung. Tubuhnya dibungkus selimut untuk mengusir dinginnya udara malam yang menggigit. Lututnya menyangga bantal tak bersarung dan dagunya menempel pada bantal itu. Kemudian Rani mendengar sesuatu. Masih ada di benak Rani tentang derik itu. Belum hilang dalam ingatan Rani dengan suara aneh itu, suara yang tak teratur. Kadang ada desah juga erang, kadang juga seperti ringkik tangis, dan kemudian bunyi sesuatu, semacam suara meja yang ditarik paksa. Siapa itu? Manusiakah, setankah, atau perpaduan keduanya. Yang ada dalam rumah itu cuma Rani dan pembantu. Seperti kesibukan biasanya, ayah dan ibu Rani ke luar kota untuk urusan duit.

            Rani melangkah, meninggalkan Bi Putu dalam nyenyak. Menyibak gelapnya ruang tamu untuk sampai di dapur. Setidaknya dari dapur Rani dapat melihat dan mencari tahu suara aneh itu. Itulah awal petaka buat Rani. Ada pergumulan di atas sofa. Tubuh telanjang yang ia lihat tak asing baginya. Tubuh itulah yang melahirkannya ke dunia. Tubuh itu kini sudah bugil, tak satu pun benang membalut tubuhnya. Namun aneh, karena Rani merasakan ada hal yang kurang wajar atas kejadian itu. Siapa yang mendekap ketelanjangan ibunya? Orang lain. Ah.. yang jelas bukan ayahnya.

            Di suatu malam yang berbeda, seperti biasa Rani kembali mendengar suara aneh itu, namun kali ini lebih keras. Suara itu seperti sebuah koor yang dihuni berpuluh orang dan dominan laki-laki. Arisankah ibunya? Tapi, tentu tidak wajar karena malam sudah begitu tinggi. “Mengapa semua harus berakhir seperti ini?” Rani bergumam sendiri setelah kembali dalam kesadarannya, membiarkan ingatan akan ibunya itu berlalu.

“Aku benar-benar tak mengerti, mengapa Aku harus tercipta dalam ruang yang tidak ada keharmonisan?”

“Mengapa ketika orang lain yang berdebat dan mengego demi kepentingannya sendiri, justru diriku yang menjadi korban.”

“Sebagai seorang anak, tentu aku berhak mendapatkan kasih sayang. Tentu aku berhak mendapatkan senyum di saat bangun pagi?” Rani meratap seperti tidak terima akan situasi yang dialaminya.

“Ketika keluarga tidak mampu lagi memberiku kedamaian, pada siapa Aku bisa berpijak, menyampaikan hari-hariku di sekolah?”

“Bulan… telanlah tubuhku sehingga Aku benar-benar keluar dari gurun ini. Sebuah tempat yang gersang, yang sedikit pun tidak terdapat percikan kasih sayang. Bagiku… kaulah oase yang mampu menyejukanku.”

Rani menghempas tubuhnya di batu, membiarkan ingatannya mengelana kembali dengan kisah-kisah kelamnya itu, tetapi ia sungguh tak kuat. Apa yang diingatnya seperti gumpalan lemak yang menyumbat sel darah dalam otaknya. Tubuhnya tiba-tiba menggigil.

            Di bawah temaram bulan, dingin mengintai tubuh Rani yang mulai sesak itu, merayap pada tulang tengkoraknya, kemudian ke leher, dan ke punggungnya. Rani menggigil hebat. Denyut nadinya pelan, semakin pelan dan dingin terus saja meraba tubuh Rani yang tak berdaya itu. Tubuh Rani pun roboh tak sadarkan diri.           


TAGS :

Gde Aries Pidrawan

Lahir di Amlapura 2 April 1988. Menulis puisi sejak SMP. Juga menulis cerpen, esai, dan opini. Puisi, cerpen, esai, dan opini-opini singkatnya dimuat di Bali Post, majalah Ekspresi, dan lain-lain. Bekerja sebagai guru. 

Komentar