Malam Jumat Kliwon Cerpen: Akhmad Fatoni

  • By Akhmad Fatoni
  • 25 Oktober 2025
ilustrasi Chat GPT

DI rumah baru itu, pintu, jendela, perabotan, plafon, tembok, sudah tampak usang seperti rumah yang tak terawat. Memang rumah itu, lama tak dihuni. Ngatemi tiduran di lantai, tanpa dipan. Untung saja masih ada karpet dan kasur yang melapisi tubuhnya sehingga tubuhnya tak langsung terjamah oleh dinginnya lantai. Ngatemi masih terkulai seperti puluhan tahun yang lalu. Sudah lama Ngatemi merasakan pesakitan seperti itu. Rambut, wajah, dan busananya bagai menunjuk penyakit yang menua, sinar matanya menyiratkan luka yang mendalam.

Pintu bergeryet. Ngatemi tersentak bangun, melihat siapa yang datang. Disingkapnya selambu yang menyekat ruang tengah dan kamar tamu. Ternyata yang datang Paimen – suaminya – pulang kerja. Ngatemi dengan langkah gontainya melangkah ke dapur menggambil kopi yang tadi sudah disediakan. Paimen jika tak minum kopi, kepalanya pusing apalagi bila tak tersedia kopi sepulang kerja, ia akan memarahi Ngatemi dengan gaya bicaranya yang tak jelas, seperti uap air di saat mendidih.

“Apa sudah kau bawa baju-baju yang di lemari.” Menegur Paimen dengan menyodorkan secangkir kopi.

“Itu di depan, hanya sebagian. Tidak bisa membawa semua.” Terdiam sejenak lalu disambung lagi ucapannya, “Rumahnya mulai banyak nget dan rayap. Bagaimana kalau kita jual saja rumah itu, kau juga tak mau kan kembali pulang ke sana?”

Ngatemi tak menimpali, hanya duduk terdiam di kursi sambil melihat ke arah Paimen duduk. Lantas berucap lirih.

“Aku tidak rela kalau rumah dijual, boleh dijual kalau harganya 200 juta, dan aku tak perduli siapa yang membeli.”

“Siapa yang mau beli dengan harga segitu? Itu terlalu mahal untuk ukuran rumah di desa,” Paimen menyeringai.

Memang itu niat Ngatemi, supaya rumah tak dijual karena rumah itu adalah rumah kenangan, rumah satu-satunya. Ngatemi tidak mau menjual karena ibunya Paimen makamnya juga di sana. Jika mau berziarah, Ngatemi tidak mau nantinya Paimen merasakan kecewa bila melihat rumahnya telah menjadi milik orang lain. Ujung-ujungnya nanti Ngatemi yang menjadi sasaran kemarahannya. Selain itu, yang juga membuat berat Ngatemi bila rumah itu dijual karena Ngatemi dulu ikut membangun rumah itu. Uang Paimen hanya cukup untuk mendirikan rumah saja, ngadek boto. Rumah itu menjadi rumah yang layak karena jerih payah Ngatemi, sedikit demi sedikit uang hasil kerja Ngatemi ditabung, hingga cukup untuk memasang porselen, plafon, dan juga dibangunkan teras kecil seperti rumah-rumah orang Batak. Juga diberi emperan untuk menaruh sepeda atau menaruh jemuran.

Paimen berjalan meninggalkan Ngatemi dengan wajah musam. Sembari berkata, “Tidak! Tidak mungkin, ngelantur saja kau ini! Rumah minta harga segitu, kalau di kota wajar. Tapi ini...?”

Ngatemi memandang ke arah Paimen, setelah mendengar perkataan itu. Kemudian menimpalinya, “Rumah terjual murah kalau yang punya dibeli dengan harga murah mau saja, tapi kalau nolak dan minta harga tinggi, ya lain ceritanya. Kau itu dikatakan bodoh tidak mau, tapi mengambil keputusan saja tidak becus.” Paimen hanya diam saja, melihat itu Ngatemi seolah tak terima dan berkata, “Terserah! Kalau kau bersikeras ingin menjual rumah itu, jual saja tapi ceraikan aku.”

Ngatemi menghela napas, ruangan mendadak sunyi.

“Sudah lebih dari dua puluh tahun aku sakit seperti ini. Tapi kau tak pernah percaya kalau aku merasakan sakit.”

Dipandangnya Paimen penuh amarah. Suasana tiba-tiba memanas, seakan-akan di mana-mana ada api yang menceruat. Di wajah Ngatemi, di wajah Paimen. Di rumah reot itu.

“Apa kau ingin pernikahan ini berakhir di sini? Aku sudah berusaha sabar mengimbangi. Selalu mengikuti pemikiranmu yang dangkal. Aku tak akan berkata seperti ini jika yang kau katakan itu logis dan masuk akal.” Sejenak Ngatemi terdiam, kemudian berkata lagi dengan suara bergetar dan air mata menetes dari kedua matanya.

“Kadang-kadang aku bermimpi tentang hidup yang bahagia, tak ada lagi sakit. Bisa berkumpul dengan anak. Tapi semua itu sungguh jauh dari kenyataan dan terlalu muluk-muluk, Nining tidak mau tinggal bersama kita karena mertuanya tidak mengizinkan, tidak mau kalau nanti cucunya ikut sakit-sakitan seperti aku. Sehingga Nining diboyong dan disuruh tinggal di sana. Tapi mungkin semua itu sangat mustahil, ya paling setidaknya kau bisa mengerti aku, perasaanku, juga sakit yang kurasakan ini. Uh... tapi itu tak mungkin sebab pikiranmu tak mampu menjangkau penyakit yang tak kasat mata.”

Orang-orang pun tak akan pernah percaya bila melihat kenyataannya. Ngatemi tak pantas menjadi orang sakit. Sebab tubuhnya seperti orang yang sehat, badannya gemuk. Sehingga setiap orang mendengar cerita Ngatemi, semua lantas tak percaya. Tapi rasa sakit itu benar-benar dirasakan oleh Ngatemi sejak berpuluh-puluh tahun lalu, sejak menikah dan tinggal bersama Paimen. Memang penyakit yang aneh, kalau kata orang Jawa penyakit angin. Dan bila penyakit itu datang, seluruh tubuh Ngatemi terasa senut-senut.

Ngatemi mendadak berhenti bicara, menutup wajahnya. Nada bicaranya menjadi dingin. “Apakah kau ingin aku mati dulu, baru kau percaya?”

Karsono, adik Nining, yang mendengar pertengkaran itu dari sore tadi hingga tengah malam, tak kuat menahan amarah, tapi Karsono tak kuasa melakukan apa pun untuk melerai pertengkaran orang tuanya, ia hanya bisa terdiam, mengintip dari kamar mendengarkan pertengkaran ibu dan bapaknya. Karsono ingin keluar dan melerai pertengkaran itu, tapi segala kekuatan dan keberaniannya tak cukup untuk melerai pertengkaran itu. Di balik pintu itu, Karsono membiarkan rasa perih menyebar ke seluruh hatinya, sehingga tanpa disadari air matanya meleleh.

“Aku ingin membenci bapak… tapi itu tak bisa kulakukan, dia adalah bapakku. Tapi ia telah banyak melukai hati ibu. Aku juga tidak bisa menahan bila terus-terusan melihat ibu disakiti seperti itu. Anak mana yang tega melihat ibunya terus menderita dan meneteskan air mata. Walaupun ada, anak itu adalah anak yang durhaka,” Karsono bergumam sambil mengintip kedua orang tuanya.

            Malam semakin sepi, hanya suara dentang jam memecah kesunyian. Tetapi malam bagaikan lebih malam dari malam. Ngatemi masih berbicara sendiri, dan Paimen tak mampu menimpalinya. Karsono membuka kamar pintunya dengan keras untuk menarik perhatian kedua orang tuanya, lalu ia melintas di depan mereka seolah Karsono tak melihat mereka, tidak mengetahui pertengkaran itu. Karsono menuju pintu depan, membuka pintu dan menutupnya dengan keras, lambat laun suara langkah kakinya pun tak terdengar, termakan oleh angin malam.

***

Tak biasanya Ngatemi tidur begitu nyenyak, biasanya sebelum Karsono mematikan motornya, Ngatemi sudah membukakan pintu. Ngatemi selalu terjaga, sebab pesakitan itu tak pernah bisa membuatnya tidur dengan pulas. Tapi malam ini berbeda, Ngatemi tidur sangat nyenyak. “Tumben ibu tak segera membukakan pintu, biasanya setiap malam ia selalu terjaga, mungkin ibu tidak merasakan sakit malam ini,” Gumam Karsono dalam hati. 

Keesokan harinya, Karsono  tetap memikirkan keanehan itu. Tapi kegelisahan itu sedikit berkurang karena Mbah Sumo nanti malam akan datang ke rumahnya, dan nanti ia berencana menanyakan tentang keganjilan itu.

Ngatemi di belakang sibuk menyiapkan beberapa makanan ringan, kembang telon, tiga butir telur angsa, dan dupa.

Paimen, Ngatemi dan Karsono cemas menunggu kedatangan Mbah Sumo, hanya Nining yang tidak ikut menyumbangkan debar di rumah reot itu. Suasana rumah begitu sunyi tanpa ada percakapan, semua keperluan sudah diletakkan di ruang tengah oleh Ngatemi. Mbah Sumo berjanji setelah Isya akan datang. Malam semakin larut tapi tidak ada juga tanda-tanda dari kedatangan Mbah Sumo.

Hanya suara jam dinding yang sedari tadi mengusik ketenangan mereka. Pukul dua belas malam. Mbah Sumo tak juga datang, melihat waktu sudah malam Ngatemi berpikir Mbah Sumo mungkin tidak bisa datang, mungkin ada keperluan yang harus diutamakan, dan menyuruh Karsono untuk berangkat tidur.

“Kenapa Mbah Sumo tidak datang, beliau tidak pernah mengingkari janji,” Karsono bergumam sambil melangkahkan kaki menuju kamarnya.

Keesokan harinya, Serono menelepon Karsono – orang yang memberi tahu agar Karsono membawa ibunya berobat ke Mbah Sumo – soal ketidakdatangan Mbah Sumo kemarin ke rumahnya. Katanya Mbah Sumo meninggal kemarin malamnya. Karsono terdiam sejenak, lalu mengakhiri teleponnya. Ia mondar-mandir, kemudian menceritakan hal itu kepada kedua orang tuanya.

Karsono bertanya-tanya dalam hati, ia mondar-mandir akhirnya menghentikan langkahnya di depan kalender yang menggantung di ruang tenggah, “Ya Allah, kemarin adalah malam Jumat Kliwon, dan kemarin ibu bisa tidur sangat nyenyak, tidak seperti malam-malam Jumat Kliwon sebelumnya yang selalu membuat ibu merasakan sakit yang luar biasa bahkan bergulung-gulung dan merintih, tapi kemarin ibu tidur dengan pulasnya.”


TAGS :

Akhmad Fatoni

Perajin stick drum tinggal di Mojokerto, suka menulis cerpen dan puisi. Beberapa karyanya telah mengisi beberapa koran minggu dan juga majalah. Beberapa puisinya terkumpul dalam, Duka Muara (KRS, 2008), Kapas Nelayan dan Nabi yang Kesepian (KKL_Publishing, 2009), Si Pencari Dongeng (Dewan kesenian Surabaya, 2010), Pesta Penyair Jawa Timur (Dewan Kesenian Jawa Timur, 2010).

Komentar