Bukan Salahku, Ayah Seorang Koruptor Cerpen: Trudonahu Abdurrahman Raffles
By Trudonahu Abdurrahman Raffles- 24 Oktober 2025
SUCI, anak perempuan cantik dan ceria itu kini duduk sendirian di bangku paling pojok. Sementara waktu istirahat sekolah baru saja dimulai berapa menit lalu. Tidak ada lagi teman mengerubunginya, untuk beberapa potong coklat atau makanan lain. Juga untuk sekadar mendengar ceritanya tentang perburuan barang mahal atau tempat-tempat ekslusif yang sering dikunjunginya. Ia kini terlihat lesu, lusuh, pucat, kosong, dan kesepian. Sekolah SMU berpredikat SBI ini sekarang seolah menjadi kolam penuh air untuk dirinya yang merasa jadi minyak. Ia terisolasi.
Seperti anak SMU biasa yang membentuk diri menjadi pecahan komunitas kecil. Ia pun punya geng sendiri. Dan kelompoknya termasuk amat berpengaruh di antara kelompok lain. Masih teringat bila ia dan kelompoknya memasuki sudut tertentu di kawasan sekolah, maka kelompok lain perlahan akan bergeser. Tak lama lalu mereka pergi walau dengan cara yang tidak terang diperlihatkan. Di area manapun sekolah itu, di kantin, laboratorium, aula, mereka seperti selalu mendapat tempat kosong walaupun sedang dipenuhi orang.
Entahlah, teman-teman di luar kelompoknya merasa segan pada mereka. Mulai dari bicara, sikap, dandanan, ponsel paling canggih serta tas laptop yang mereka tenteng untuk memasuki area hotspot lingkungan sekolah. Mereka terlihat lebih bergaya meskipun dalam hal otak, mereka belum tentu segemerlap tampilan luarnya. Namun tetap saja mereka terlihat berbeda. Seolah kelompok Suci itu paling eksklusif di antara lainnya.
Terkadang memang menyenangkan buat Suci dan kelompoknya dianggap seperti itu, walau sesekali mereka juga merasa minder jika berhadapan dengan geng anak-anak pintar di sekolah tersebut. Sebab kelompok kutu buku tersebut tak banyak tingkah juga terlihat amat sederhana namun mempunyai otak cemerlang.
Tanpa terasa bel masuk berbunyi. Suara ini sementara membuyarkan lamunan Suci. Kelas kembali ramai. Para siswa berebut paling cepat menuju kursi meski tentu sudah punya tempat duduk masing-masing. Suci masih tetap tak tersentuh. Tetap dalam kesendiriannya. Tak lama seorang guru perempuan pun masuk kelas untuk memulai pelajaran.
Berapa bulan lalu, ayahnya seorang pejabat kota itu, pernah sekadar bertanya tentang sekolah. Hal yang belum tentu terjadi walaupun dalam setahun sekali. Biasanya jangankan obrolan antara seorang bapak dan anaknya, bertemu muka saja jarang sekali terjadi. Namun waktu itu bapaknya sengaja menunggunya di ruang keluarga hanya untuk bicara berdua. Sebenarnya ini merupakan sebuah kejutan. Kehormatan besar baginya.
“Ayah tadi mendapat telepon dari urusan siswa di sekolahmu. Mereka bilang prestasimu dalam pelajaran, tata tertib, dan sikap sangat mengkhawatirkan. Begitu beratkah bebanmu untuk bersekolah secara wajar?”
Tanpa prolog, sang ayah mulai mengingatkan tentang kekuasaan di rumah itu. Satu karakter baru menampakkan diri dalam sikap ayahnya yang dulu tak pernah terlihat sebelumnya. Mungkin ini muncul karena memang ia terbiasa memandang dalam dua cara, yaitu saat berhadapan dengan atasannya atau bawahan.
“Jawab! Jangan hanya menatap kosong begitu.”
Suci terlihat tenang saja. Anak itu tak terlihat terkejut dengan suara keras ayahnya. Dahinya mengernyit seperti menahan perasaan kesal. Sekejap saja ia bereaksi demikian. Sambil menarik napas agak panjang mulutnya lalu mulai terdengar membuka kalimat.
“Saya merasa tak ada yang salah dengan semuanya. Mungkin gurunya saja yang lebih ingin diperhatikan oleh ayah,” Suci menjawab datar.
“Suci! Ayah tahu, tidak semua guru di sekolahmu itu tulus, benar-benar menjadi pahlawan tanpa tanda jasa. Terkadang mereka mengajarkan nilai-nilai ideal dalam kehidupan, namun tidak melaksanakannya, tetapi kali ini kau yang keterlaluan! Sebenarnya mereka telah berapa kali menghubungi ayah, namun tertahan di ponsel ajudan. Dan tadi mereka menceritakan langsung pada ayah tentangmu dengan fakta yang bisa dipertanggungjawabkan!”
Suara bergetar ayahnya mempertegas peta kekuasaan. Sambil menatap tepat ke mata ayahnya, Suci kemudian menuturkan bahwa dia tak bisa mengontrol dirinya untuk berbuat sesukanya. Ia seolah tak punya beban apa pun melakukan apa yang dianggapnya menyenangkan. Sekolah sesukanya, jalan-jalan bersama gengnya semaunya, pulang malam, bicara seenaknya, pokoknya apa pun tanpa ada pertimbangan. Terkadang ia sendiri juga heran kenapa begitu tak peduli pada segalanya.
“Apa pernah ayah mengajak bicara padaku tentang apa yang aku butuhkan selain menitipkan setumpuk uang pada bibi. Apa ayah pernah mengajak kami keluar bersama sekadar saling berbagi tawa dalam keluarga ini. Apa ayah pernah mencium kening ibu di depan kami seperti yang biasa dilakukan dulu saat kami masih kecil. Kami merasa kosong, yah, kosong….”
Dan kalimat-kalimat tenang serta lancar itulah yang membuat sang ayah terdiam. Seolah semua kemarahan yang siap diledakkan hilang begitu saja. Keduanya tertunduk. Diam dalam keheningan. Sama sekali ayahnya tak menyangka Sucilah yang mengucapkannya. Terkadang dalam kehidupan “tamparan” memang tidak selalu datang dari hal yang dianggap lebih berkuasa, lebih hebat. Melainkan juga dari hal yang dipandang remeh. Tapi kejadian ini sungguh di luar perkiraan, si ayah merasa dijewer oleh anaknya sendiri. Hanya satu kalimat kemudian terucap lemah dari mulut si ayah: “Pergilah, masuk kamarmu.”
Masih dalam keterkejutan akan penututuran anaknya, laki-laki yang di luar rumah dipandang sukses ini memandang sekeliling ruang besar yang sedianya diperuntukkan buat menjalin kehangatan dalam keluarga. Lukisan mahal perempuan setengah telanjang di antara hamparan pasir pantai seakan mengejeknya. Entah kapan terakhir terdengar tawa lepas dari semua penghuni rumah di ruangan ini. Persis saat ini lelaki tersebut tiba-tiba rindu ditemani istrinya untuk berbagi pendapat tentang keadaan anak mereka sekarang. Keheningan rumah ini, walau sebenarnya telah berlangsung lama namun tak pernah ia perhatikan, membuatnya semakin butuh untuk ditemani.
Hanya saja perasaan ini seolah tidak cukup membuatnya beranjak dari tempat duduk favoritnya, sebuah kursi goyang dari kayu jati berlapis kulit, menuju kamar membangunkan istrinya. Menurut pembantu rumah, majikan perempuannya tersebut baru saja datang dan langsung pulas tertidur. Istrinya memang sering mengisi kegiatan sehari-hari dengan mengikuti berbagai pengajian bersama ibu-ibu lainnya dari beragam lingkungan. Kadang mereka sengaja melakukan perjalanan ke luar kota mengisi kegiatan pengajiannya.
Sebetulnya hal ini bagus, pikir lelaki itu. Paling tidak, kebosanan yang istrinya rasakan di dalam rumah disalurkan dalam cara yang terarah. Hanya ada hal mengganjal dalam hatinya. Rasanya semakin jarang saja keluarga ini bertemu satu sama lain. “Keluarga apa sebenarnya yang dibangunnya,” sebuah pertanyaan sederhana mengusik kepala rumah tangga ini. “Apakah semua karena uang yang dibawa ke rumah ini bukan dari proses wajar. Bukan dari upah yang semestinya.”
Kata-kata anak tadi begitu menghujam sang ayah. Seperti mengulitinya, atau malah menceritakan tentang keadaan dirinya, bukan keadaan anaknya. Perasaan anaknya tadi persis seperti yang ia rasakan. Ia baru menyadari bahwa sebenarnya selama ini perilakunya pun tak terkontrol, malah mungkin jauh lebih rusak. Entah sudah berapa banyak anak gadis seumur anaknya ia lahap, bahkan ia bagikan pada relasinya, berapa banyak orang menjadi semakin getir nasibnya karena hak mereka telah ia telan.
Suatu waktu, pernah ia menyempatkan diri berkumpul dengan para tetangga dalam kegiatan kerja bakti semacam itulah. Sebenarnya niatnya menghadiri kegiatan ini ialah ingin menancapkan bendera, mengumumkan siapa sekarang ini dirinya. Pada saat yang lain berinisiatif membeli makanan kecil untuk disantap bersama, ia lemparkan setumpuk uang ke arah mereka agar cukup ia saja yang menanggung biaya konsumsinya. Ya, ia lemparkan tumpukan uang yang sebenarnya bukan miliknya itu.
Mengingat itu ia merasa bersikap seumur anaknya, dengan kekuasaan serta daya rusak beberapa kali lebih hebat dari anaknya. Malam semakin larut. Lelaki ini pun akhirnya tertidur dengan membawa segumpal besar kegusaran.
***
Adzan Dhuhur terdengar dari mushola sekolah pertanda sebentar lagi sebagian siswa bubar sekolah. Termasuk kelas Suci. Ini berarti kembali berlama-lama menanti bis kota arah rumahnya, kembali berpanas-panas serta bercampur baur dengan beragam bau badan para penumpang, serta kembali melewati semua itu dengan rasa perih di perutnya karena tak terganjal makanan. Hal yang tak pernah ia alami dulu, bersekolah seraya diasingkan temannya, berpanas terik saat pulang sambil menahan lapar. Membayangkannya pun dulu ia tak pernah.
Rasanya baru saja kemarin ia sering berkumpul di parkiran sekolah. Merencanakan akan pergi ke mana setelah jam belajar usai. Kadang malah mobil yang akan digunakan terlalu banyak untuk mereka saling berdekatan dalam satu kendaraan karena hampir setiap orang dari teman-temannya membawa mobil sendiri. Sekarang ini ia hanya dibekali sekadar ongkos naik bis saja. Itu pun kadang didapat setelah ibu menjual beberapa sisa barang di rumah.
Setelah ayahnya ditahan karena perkara korupsi segalanya menjadi tak karuan. Padahal kejadiannya belum genap satu bulan. Sekarang ia, ibunya serta adik lelakinya, merasa begitu berat beban ditimpakan pada pundak mereka. Rumah, meskipun masih tetap bisa ditempati dan belum disita, keadaannya seperti kuburan saja. Masing-masing tenggelam dengan kesedihannya. Pintu gerbangnya pun selalu saja tertutup seakan menolak kedatangan tamu, siapa pun itu. Ibu bilang seringkali tambah stres jika didatangi wartawan dan LSM, sebab sebagian dari mereka mempunyai tujuan tertentu, selain mencari berita, saat mendatangi rumah mereka.
Kadang begitu gelapnya terlihat wajah ibu dalam keseharian. Selain harus pontang-panting menjual barang yang layak dijual, mencari pinjaman guna menutupi kebutuhan sehari-hari, bolak-balik ke pengadilan menghadiri sidang suami, menengoknya di LP. Begitu banyak hal menodong untuk segera dikerjakan, namun begitu jauh pula rasanya menuju keadaan lebih baik. Ibu kulihat amat sangat kurus dan layu. Pada satu kesempatan, Suci bersama ibu dan adiknya menengok sang ayah di LP. Sebenarnya ia tidak tega memperhatikan wajah-wajah orang tuanya saat itu, namun entah kenapa ada sebersit kebahagiaan sewaktu keduanya duduk sangat berdekatan, bahkan sesekali disertai genggaman tangan dan kecupan kening. Sesaat Suci dan adiknya merasa sangat bahagia melihatnya, seperti lupa bahwa mereka semua sedang mengalami masa teramat sulit. Seandainya hal ini berlangsung setiap hari dan tidak dalam LP melainkan di rumah mereka.
Sungguh anak perempuan ini sebenarnya tak ingin hidup berlebihan seperti masa-masa lalu. Ia hanya ingin sederhana saja selama dalam arti tidak serba kekurangan. Sejak kecil pun Suci telah terbiasa hidup sederhana. Ibu kerap menasihatinya bahwa materi bukanlah tujuan utama kita dalam hidup. Itu hanya alat mencapai tujuan. Dengan materi setidaknya memperpendek jarak kita dengan sebuah tujuan lebih mulia. Kemudian ayah memberi kami di luar batas yang mampu mereka terima dalam soal materi. Sepertinya ayah pun tidak siap menerima perubahan secepat itu. Dengan jalan semudah itu.
Sekarang keluarga ini malah merasa jauh lebih miskin dibanding sebelum sang ayah menjejali semua penghuni rumah dengan banyak kemewahan. Ibu seringkali tak sanggup menerima perlakuan para tetangga. Dan Suci merasa pergi ke sekolah dalam keadaan telanjang. Semua terasa menatapnya tajam dan enggan berdekatan. Sebagian guru, yang dulu biasanya kerap bertukar sapa dengannya kini bahkan memalingkan wajah saat beradu pandang. Suci masih bisa menerima bila teman sekolah memperlakukannya seperti saat ini. “Tapi bapak, ibu guru,” hati kecil gadis ini mengungkapkan kepedihan. “Saya tidak habis mengerti bagaimana bisa kalian yang sering mengajariku tentang moral dan etika di sekolah ini, juga malah menafikan ajaran tersebut. Membuatku makin tersudut barada di sekolah ini. Sungguh, teman-temanku, bapak dan ibu guru, bukan salahku bila ayah seorang koruptor…..”
Cianjur, 25 Maret 2010


Komentar