JALAN CAHAYA Cerpen Moch Satrio Welang

  • By Moch Satrio Welang
  • 23 Oktober 2025
ilustrasi Chat GPT

DI MATAKU kulihat kuburan. Dulu mungkin tanahnya lembap. Tapi tanah retak dengan hiasan bunga-bunga kamboja yang mengering seperti bercerita lain. Hening. Aroma kedukaan yang tak terwakili oleh sajak manapun sepanjang zaman.

Kutemukan diriku menjadi seorang yang puluhan kali lebih tua di cermin. Ini kutukan. Tanganku berdarah. Cermin itu hancur di tanganku. Ingin kutuang saja darah Jawa yang mengalir di tubuhku. Agar habis kuperas tak tersisa setetes pun.

Aku yang sudah menginjakkan tanah ini ketika berumur 5 tahun, hanya bisa meringis sedih. Seandainya saja aku memiliki darah Bali mungkin tak akan begini perlakuan yang aku dapatkan. Ya sedikit rasis memang perlakuan yang aku hirup sedari kecil. Apalagi citra kota kelahiranku. Siapa yang tak mengenal kota panas yang berjejal-jejalan, dan sarang para pencopet berkumpul. Siapa yang tak tahu Surabaya?

“Sudah tidak usah kau hiraukan ejekan mereka!” ujar Anak Agung Ketut Oka Astawa, seraya mengambilkan sapu tangan untuk membasuh tanganku yang luka. “Benar, nih obat merahnya,” imbuh Nengah Pardika, seraya membubuhkan beberapa tetes ke lukaku yang menganga. Hari ini kami menonton sepakbola. Dan tanganku robek terjaring pagar pembatas. Mereka adalah sahabatku sedari kecil. Oh, iya. Namaku Ipin. Tak usahlah kusebutkan nama panjangku. Tapi dugaanmu benar bahwa nama itu merupakan penggalan dari kata Arifin.

Berusia 14 tahun memang masa-masa menyenangkan seharusnya. Bermain dengan teman-teman, memanjat pohon dan berenang. Tapi lupakan saja, aku tak seperti itu. Bekas luka di dahiku adalah saksi bagaimana bahwa pisau itu tajam. Waktu itu dititipkan selama enam bulan di sebuah pondokan kecil milik nenek tiriku yang terletak di rumah kompleks para pelacur kota Surabaya. “Matamu kalau lagi Nggoreng dibuka! Jangan kayak orang buta! Nggoreng gini aja pakek gosong! Kamu pikir gampang hidup di kota ini, hah? Kamu lihat jutaan orang di luar sana mengorek ngorek sampah untuk makan!” teriakannya mewarnai hari-hariku selama enam bulan aku dititipkan padanya. Hidup di kota besar memang tidak gampang. Aku yang masih berumur 11 tahun waktu itu sudah harus bangun pukul empat pagi untuk menggoreng martabak buat dititip ke sekolah–sekolah dan dijual di tempat–tempat yang menggelar maksiat di kala malam. Lulus SD aku diboyong kembali ke Bali. Semua ini lebih mengikuti skenario orang tuaku yang sedang gunjang ganjing perihal rumah tangga. Proses yang biasa terjadi di kehidupan rumah tangga mana pun.

Ayahku seorang preman di masa mudanya. Aku ingat sekali bagaimana aku jarang mendapat belaian tangannya, yang kubayangkan mengusap rambutku di kala aku ingin tidur, saat badai berpesta menghajar rumah kami. Belaian ayah adalah barang mahal bagiku. Aku ingat bagaimana aku merangkak menyapu lantai melewati kaki kaki dewasa untuk memburu nafas dan canda ayahku di saat aku masih berusia dua tahun. Yang kuingat hanya cerita dari paman dan bibi-bibiku tentang perempuan–perempuan simpanannya dan kekalahannya di meja-meja judi.

 

Dari kecil aku disusui ketiak-ketiak pelacur dan para pemain sabung ayam yang juga meneriakiku seperti aku ini sapi yang tak punya telinga.

***

Tirai hitam itu turun. Kulihat tangan ibu sudah keriput. Tapi matanya yang hitam legam bersaksi akan sejarah panjang kekuatan seorang wanita menghadapi terjangan badai dan cakaran biadab kaum lelaki. Terutama ayahku. Entah dosa apa yang diperbuat leluhur kami, atau setan apa yang merasukinya. Tak pernah sedetik pun kulihat dia berusaha membuat ibu bahagia. Aku jarang melihat senyum tersembul dari bibir ibuku yang selalu terlihat kering. Bukan karena tak ada air, tapi batinnya yang dihancurkan dan jiwanya yang ditumbuk halus oleh merekalah yang membuat itu tampak demikian.

Dari kecil, ibuku hidup dengan makan batu. Bahkan orang tuanya sendiri meninggalkannya kala ia masih sangat kecil. Sebenarnya Ibuku di masa mudanya adalah orang yang begitu periang dan sedikit aktif. Pernah dia memotongi leher ayam-ayam kecil milik mbah buyutnya karena ayam-ayam itu begitu berisik. Hihi aku saja terpingkal-pingkal mendengar kisah itu. Tak kubayangkan wajah si mbah buyut itu. Pasti kaku mengeras bak beton Jembatan Merah Surabaya.

Masa-masa itu sungguh singkat, sampai ibu menikah dengan ayahku, dan menjadi bulan-bulanan mereka. Mereka yang kumaksud di sini adalah nenek, paman dan bibi-bibiku. Nenekku adalah seorang tiran di keluarga besar ayahku. Setiap perkataannya adalah sabda. Setiap orang di keluarga ini boleh mengambil nafas, atas seizinnya. Dan ibuku adalah sasaran empuk baginya. Karena sebagai menantu, ibu bukanlah orang yang memiliki harta menumpuk, atau jabatan terhormat di pemerintahan maupun di masyarakat.

Nenekku selalu mengamini setiap hasutan bibi-bibiku yang selalu iri akan usaha dagang yang sedang dirintis ibu. Satu hal di benak mereka adalah bagaimana melihat ibu jatuh dan berakhir di tempat tidur dengan buraian air mata. Pemandangan yang biasa kulihat di kala kanak-kanak. Aku pendam bara ini. Tenanglah Bu, jika Kau tak membalas, biar aku saja yang melakukannya.

Sampai suatu saat, telingaku dibisiki seseorang. “Ini enak. Kau akan bisa terbang.” Aku yang tak mengerti apa itu kenikmatan mulai belajar. Sehisap dua hisap. Oh Tuhan, punggungku mulai tumbuh sayap. Dan benar kata mereka, aku benar-benar terbang! Kugapai langit, kutelanjang di antara awan-awan. Hahaha aku lihat manusia-manusia di bawahku bergulat bertubrukan seperti tikus-tikus yang mengendus-ngendus mencari jalan keluar yang memang tidak pernah ada. Jalan itu telah lama buntu. Itu karena hati mereka terlalu gelap tersiram aspal yang mereka tuang sendiri. Setan selalu berhasil atas perjanjiannya dengan Tuhan. Dulu aku pun melakukan perjanjian dengan burung-burung agar mau meminjami aku sayap untuk terbang. Tapi sekarang sudah tidak perlu lagi. Aku bisa melakukannya sendiri. Hanya dengan ini. Jarum, rel dan korek api.

***

Ibu menjengukku di sel E. Hari ini aku tidak ikut olahraga bersama. Biarlah toh sipir-sipir penjara akan bosan memukuli ragaku. Bahkan ini belum apa-apa dibandingkan dengan apa yang diterima ibu dalam hidupnya. Orang melemparinya duri dan menyiramnya air panas. Dan anehnya dia selalu saja bisa tersenyum seraya berkata “Le, hidup itu cuma numpang minum. Biarlah tiap orang membuka jalannya masing-masing. Dan ibu percaya bahwa ini adalah jalan cahaya yang diberkati Tuhan. Kamu harus ingat sembahyang Le, karena hanya itu yang bisa menolongmu kelak di akherat. Bukan siapa-siapa Le, dan ibu hanya punya kamu Le, anak laki-laki ibu. Dari doa-doa yang meluncur di bibirmulah maka jalan cahaya yang menjemput ibu akan semakin terang ....”

Aku semakin tak mengerti ibu. Aku bukan termasuk orang yang agamis, walau sebenarnya aku dimasukkan ke sekolah yang berbasis agama. Tapi aku merasa Tuhan tak pernah adil pada kami. Terutama pada ibu. Bertahun-tahun aku memburu dan menuntut pertanggung jawaban dari-Nya. Atas luka menganga dan irisan tak berhati serta suara jahat mereka yang selalu menaburi luka ibu dengan garam.

Lagi, sel yang angkuh ini dengan dinginnya mencibiriku yang meringkuk lapar. Dua hari aku tak menyentuh nasi. Bagaimana mungkin aku makan sekepal nasi keras dengan potongan tempe kaku anyir dan bulu-bulu tikus bertebaran di mana-mana. Aku masih melihat diriku ini berbadan, berkepala, mata, juga tangan dan kaki. Ya aku ini masih manusia. Mengapa mereka tidak memperlakukan aku sebagai manusia? Vonis yang diberikan pengadilan bahwa aku pembunuh berantai atas sekeluarga besar yang bertahun-tahun kuanggap tiran membuatku ramai dibicarakan di semua surat kabar. Remaja penjagal kota Denpasar. Begitu koran-koran menjulukiku.

“Dasar manusia berhati batu! Kenapa kau tega mendorong nenekmu sendiri ke jurang!”

“Dan mengapa kau ikat bibi-bibimu lalu kau siram minyak tanah, dan kau bakar hidup-hidup!?”

“Apa kau tak dididik agama, hah? Berani sekali kau bubuhi arsenik dalam kopi yang kau sajikan untuk paman–pamanmu, dan mayat mereka kau cacah untuk kau jadikan makanan anjing?”

Suara – suara mereka berputar di kepalaku.

“Ya! Aku memang dilahirkan sebagai mesin pembunuh. Mereka pantas mati atas apa yang mereka rajah di tubuh ibuku selama bertahun-tahun. Oh Tuhan, Ternyata begitu mahal harga seuntai senyuman.”

Tiang gantungan yang kokoh dan sinis itu menjulang di depan mataku. Regu penembak dengan mata tertutup, sudah siap menarik pelatuknya. Aku tahu mereka pun gugup. Pertentangan batin mereka sampai di telingaku. Aku pun menutup mata. “Kau harus mati! Cepat katakan apa permintaan terakhirmu! Bumi ini harus bersih dari orang- orang sepertimu bangsat! Pasukan siaaaaaaap! Satu ........ Dua ......... Ti..........”

“Maka dari itu Le, Tole, kamu harus rajin sembahyang...” Suara ibu membuyarkan lamunan liarku. Astagfirrullah, untung saja tak benar-benar ada regu penembak. Aku merenungi kejadian besar yang menimpaku. Saat aku bersayap, aku terbang, riang dan ringan. Kurasakan samar sekelompok orang datang. Menghadiahiku gelang dingin dan membawaku sampai kemari. Menjadi napi kasus obat-obatan psikotropika tidaklah semewah menjadi pembunuh sekeluarga besar tiran. Huh, andai saja bisa kupatahkan leher mereka. Tentu aku akan sangat berbahagia.

Ibu memegang erat tanganku. “Sekarang kamu di sini. Sudah tak ada lagi yang membantu ibu membayar uang kontrakan, Le. Kamu tahu sendirikan bahwa ayahmu sudah lama tenggelam dalam pelukan istri barunya. Kamu kok malah mau niru dia Le, apa kamu gak ingin ngelihat ibumu ini bahagia?”

Ibu salah. Justru akulah orang yang sangat ingin melihat dia tersenyum. Aku sampai di sini, di sel dingin ini, karena aku tak tahan melihat bagaimana tubuhnya dicacah habis oleh lidah-lidah tajam mereka.

 

 

Ayahku memang tidak pernah tahu bagaimana memperlakukan wanita. Terutama ibuku. Pernah suatu hari sepulang aku dan ibu dari Surabaya. Rumah dan tetangga sudah gempar! Berita tak sedap sampai juga ke telingaku. Kulihat ibu mengambil secarik kertas yang diselipkan di pintu. Dari sana bisa kubaca dengan jelas pesan dari seorang sahabatnya. Suamimu kawin lagi. Dan parahnya lagi dengan pembantumu sendiri, Komang!

Pembantuku bernama Komang, wanita muda yang membantu ayah dan ibuku berjualan di tempat sabung ayam. Berjualan tahu dan tempe. Di antara hiruk pikuk para penjudi yang berteriak teriak mengacungkan uang-uang haram mereka, kami mengadu nasib. Berjualan penganan buat mereka di saat jeda pertandingan. Ayam-ayam itu selalu menggerutu di telingaku. Seperti mengutuki nasib mereka yang sungguh sial terlahir menjadi mesin pengeruk uang para preman. Kini setelah resmi aku punya ibu tiri, tempat dagangan kami terpisah. Tinggal aku dan ibuku. Wanita itu dan ayahku yang murtad itu menjadi saingan baru kami dalam memunguti sekeping logam para pengunjung dan pemain sabung ayam di arena terkutuk ini. Hari–hari berikutnya sungguh menyita air mata melihat mereka bercengkerama di depan mata. Ingin rasanya kusiramkan minyak panas ini ke muka mereka berdua yang tak lelah menyakiti hati ibu. Bahkan ingin kubuat telinga kami tuli selamanya sehingga tak kudengar cibiran dan bisik-bisik tetangga yang seolah bersorak sorai atas apa yang menimpa aku dan ibu.

***

Ibu memang wanita berhati karang. Sudah sepantasnya ia mendapat hadiah nobel atas perjuangannya menyelamatkanku, anaknya, dalam mengarungi pusaran nasib yang membebat nadi kami. Seperti saat dia tergeletak lemah, terbaring tak berdaya di pembaringan. Ibuku terserang kanker. Kanker ganas payudara. Sel ganas itu telah menggerogoti tubuhnya yang kini kurus berbalut kulit tipis. Mungkin karena masih bernafas saja, ibuku masih dikategorikan manusia. Tanpa itu aku tak tahu harus menyebut apa untuk menggambarkan hasil dari sayatan dan hisapan sel ganas tersebut.

Kau tahu apa hukuman bagi orang miskin yang berani mengidap penyakit orang kaya? Pertama kalinya kulihat nyawa diperjualbelikan. Ibuku yang terseok-seok oleh kerasnya laju zaman ini gigih memperjuangkan nyawa.

“Dokter tolonglah saya dokter! Selamatkan nyawa saya!”

“Ibu, negara sudah menanggung sebesar 80 juta rupiah untuk pengobatan ibu selama ini dan ini sudah di luar tanggung jawab kami.”

Kau dengar nyawa ibuku dihargai 80 juta rupiah? Angka yang sangat fantastik dan pastinya banyak sekali. Tapi seandainya aku boleh memilih aku tidak mau uang apapun di dunia ini. Aku hanya ingin ibuku. Permintaanku sangat sederhana. Tapi kenapa begitu mahal? “Karena kita orang miskin!” umpatku. Bagi orang miskin, mimpi adalah barang yang begitu mahal. Apalagi di zaman seperti ini, mimpi pun diperjualbelikan. Dan kita orang yang tak punya, tak boleh bahagia walau lewat mimpi sekalipun.

Tekadku sudah bulat. Akan kujual seluruh lintingan yang ada di genggaman ini. Pastilah dompetku akan menggelembung berjejalan uang. Aku pun akan lepas dari kategori miskin. Aku akan menjadi calon jutawan baru di kota ini. Hanya dengan lintingan ini. Ya benda yang sanggup membawaku ke udara. Benda yang akan membawaku bertemu Tuhan. Aku akan berdebat sengit dengannya.

 

“Jangan menyalahkan Tuhan, Anakku. Beliau memiliki rencana indah sendiri yang tak seorang pun bisa menduganya. Cobalah kau dekati Dia, Peluk Dia hangat-hangat, Anakku. Rasakan indahnya jalan cahaya yang diberikannya. Temukan bahwa tak ada materi apapun di dunia ini yang bisa mengalahkan kekayaan-Nya, dan tak ada kekuatan apapun di dunia ini, yang bisa melawan ganasnya penyakit terganas selain kekuatan-Nya. Dan atas izin-Nyalah, kita bisa menikmati apa yang orang-orang sering lupakan. Kita memiliki nafas. Anakku. Ini pemberian dari-Nya yang tak terhingga. Dari nafas ini kita bisa lakukan begitu banyak hal yang bisa bermanfaat bagi orang lain.”

“Bagaimana mungkin kita yang miskin ini bisa menolong orang lain, Ibu? Kumohon janganlah mengada-ada.”

“Ada anakku. Doa. Yang bisa kita lakukan adalah mengirimkan doa agar seluruh penghuni dunia saling mencintai, menyayangi dan saling menjaga akan satu-satunya bumi yang kita miliki. Sampai kita temukan jalan cahaya itu, Anakku. Ingatlah selalu pesan ibumu ini.” Bagiku itu seperti pesan terakhir dari ibu.

Kulihat kerumuman itu memutari kuburan. Hujan menyanyikan kidung sendu mengantarkan tanah pekuburan yang baru ditimbun dan dihiasi kamboja segar. Senja merunduk. Langit meneteskan air mata. Aku meraung. Kulihat ibu menangis di liang kuburku. “Ibu! Maafkan aku ibu, seharusnya kutinggalkan saja benda pemberi sayap di punggungku. Siapa nanti yang akan melindungimu dari mereka manusia jahat yang berserakan di muka bumi ini? Ibu kuatkan dirimu. Aku menunggumu di sini!”

***

“Ya, Anak-anak! Itulah tadi cerita Jalan Cahaya karya sastrawan muda Moch Satrio Welang. Setelah ini ujian mengenai cerpen itu akan kita mulai. Kalian sudah siap, bukan? Pertanyaan nanti akan ibu ambil dari unsur intrinsik maupun ekstrinsik dari karya sastra yang menginspirasi banyak orang tersebut. Sebelum itu, Ibu akan mengambil soal ujian dulu di kantor. Kalian duduk tenang saja di sini. Baca–baca lagi selagi ada waktu.”

“Baik, Bu!” jawab mereka yang diajak bicara serempak. Seketika di luar sana langit mendadak gelap. Awan hitam bergulung-gulung. Ketika sang Guru membuka pintu hendak keluar, dia menjerit histeris, “Aaaaaaaakkkhhh!” Matanya pucat nanar melihat apa yang berada di hadapannya. Seonggok tanah kuburan menganga dengan bunga-bunga kamboja kering. Seorang anak kecil berdiri dengan tatapan nanar berkata, “Di mana Ibuku?”


TAGS :

Moch Satrio Welang

Penggiat sastra dan seni, aktor teater, penulis yang lahir di Surabaya, 14 April 1982. Tahun 2008, meraih gelar Sarjana Sastra di Fakultas Sastra Universitas Udayana. Moch Satrio Welang lahir di teater Orok Universitas Udayana, kemudian melanglang buana secara solo bersentuhan proses dengan kelompok SatuKosongDelapan, Teater Bumi, Sanggar Purbatjcaraka, Teater Lajose, Teater Topeng. Pelaut yang jago MC.

Komentar