Pertemuan di Pujungan, Cerpen Tudekamatra
By Tudekamatra- 22 Oktober 2025
MALAM ini angin terasa sedikit lebih dingin dari pada malam kemarin. Di langit bulan dan bintang-bintang menampakkan cerah cahayanya. Malam yang mengagumkan. Perlahan kurasakan masa dua tahun yang lalu kembali hadir malam ini. Hanyutkan pikiranku kepada sesosok yang penuh misteri. Dia yang hadir dari sebuah pertemuan yang penuh misteri pula.
Sudah tidurkah engkau malam ini? Jika sudah, semoga cerita ini hadir dalam mimpimu. Mimpi akan masa lalu guna membangun mimpi masa depan. Ya! Tentu masa depan kita berdua, kau dan aku. Bila malam ini dirimu ada di sebelahku, ingin kuceritakan ini padamu. Berjalan-jalan ke masa pertemuan yang tak pernah terduga dan tak pernah terencana sedikit pun. Sebuah petemuan di luar kuasaku.
Pertemuan di Pujungan yang kian hari tampak semakin nyata menjadi ujung pencarianku sebagai seorang lelaki. Meski kesadaran hati aku tak pernah sengaja untuk mencari, namun waktu telah menujumkan diriku kepada ujung pencarian. Barangkali sang waktu tak ingin aku menyia-nyiakan banyak waktu lagi untuk pencarian yang sia-sia. Oleh karenanya ujung segera dihadirkannya pada awal pertemuan itu sehingga tak menjadi kesia-siaan atas waktu.
Sekali lagi ingin kujelaskan. Kedatanganku ke sana bukan sesuatu yang kurencanakan. Tak ada maksud apa pun juga. Aku hanya menggantikan teman yang tak bisa tugas ke sana untuk mendampingi dosen. Dua orang dosen punya tugas mengajar ke sana. Satu orang berangkat dari Denpasar dan satu orang lainnya berangkat dari Tabanan.
“Raka, aku tak bisa mengantar dosen ke Pupuan hari ini. Aku masih di tempat main futsal. Tolong kamu yang berangkat ke sana ya. Tolong gantikan aku ke sana…” masih jelas di ingatanku ucapan temanku, Sutresna, melalui ponsel.
Waktu terus melaju sementara sopir sudah menunggu di kampus sejak 30 menit yang lalu. Kudapatkan kabar dosen yang dari Denpasar tidak bisa ikut ke Pupuan karena ada kepentingan pribadi. Akhirnya aku pun berangkat hanya dengan sopir kampus. Dengan sebuah Kijang kami berdua melaju dari Denpasar menuju arah Jalan Raya Denpasar-Gilimanuk. Mobil melaju sedikit kencang. Takut terlalu sore tiba di tempat tujuan. Apalagi mengingat sang sopir dan juga aku belum pernah mengantar dosen ke tempat yang dimaksud.
Setelah sempat singgah di sebuah pompa bensin di Kota Tabanan, mobil kembali melaju ke arah barat. Speedometer mengukur laju kendaraan di atas Jalan Raya Bypass Kediri. Melewati beberapa tanjakan dan tikungan tajam di Jalur Tengkorak. Terasa begitu lama perjalanan ini. Barangkali karena terlalu sedikit hasratku untuk ikut dalam perjalanan ini. Keikutanku hanya sekadar menggantikan temanku yang tak bisa ke sana. Hanya itu saja!
Sudah lebih dari 30 menit mobil melaju. Setelah melewati wilayah Kecamatan Kediri, maka tibalah di wilayah Kecamatan Kerambitan. Akhirnya perjalanan tiba di sebuah desa bernama Desa Samsam. Di sana seorang dosen yang akan ikut berangkat ke Pupuan, katanya telah menunggu di pinggir jalan raya.
Sopir mengurangi laju kendaraan. Aku memandang ke depan menengok posisi di mana sang dosen menunggu. Dari kejauhan, pada sebuah poskamling tampak seorang lelaki setengah baya berdiri. Berpakaian resmi lengkap dengan sebuah tas laptop di lengannya. Mobil berhenti tepat di depan dosen itu. Sang dosen pun beranjak naik ke dalam mobil.
“Raka… tumben ikut?” dosen itu mendahului percakapan.
“Nggih Pak. Sudah lama menunggu Pak?” tanyaku sedikit basa basi.
“Tidak kok. Bapak baru keluar ke jalan raya setelah Raka menelepon.”
Dosen duduk di sebelah sopir. Sementara aku pindah ke belakang. Perjalanan pun dilanjutkan. Melewati beberapa tanjakan dan tikungan menuju daerah sisi barat Kabupaten Tabanan, tepatnya di Kecamatan Selemadeg Barat. Setelah tiba di wilayah Desa Antosari, pada sebuah pertigaan, mobil menikung ke kanan, menuju arah Pupuan. Dari sini kurang lebih butuh waktu 45 menit untuk sampai di Kecamatan Pupuan.
Melewati jalanan yang dipenuhi pemandangan elok bentang sawah hijau. Sejuknya hawa yang terasa jauh berbeda dengan keadaan tadi di kota. Terkadang dalam pikiranku ada gejolak. Gelisah itu timbul tatkala kubertanya pada diri sendiri, hingga kapankah bentangan indah sawah-sawah itu akan bisa kita lihat? Bayanganku terlalu mudah untuk jatuh ke wilayah Denpasar, tempat di mana aku tinggal beberapa tahun belakangan. Di Denpasar sawah-sawah telah berganti rumah. Kekokohan beton bangunan telah mengalahkan kesederhanaan bentang sawah di Ibu Kota Provisi Bali ini.
Seketika saja pikiranku membayangkan sebuah slogan “Tabanan, Lumbung Beras Bali”. Sebuah slogan yang telah terkenal, setidaknya di Bali. Ketika berbicara lumbung beras tentu kita harus berbicara padi. Ketika berbicara padi maka kita harus berbicara tentang sawah. Sawah. Sawah. Sawah… Ya, kata ini menjadi kecamuk sendiri dalam pikiranku.
Sampai kapankah sawah-sawah ini akan bertahta di Bumi Lumbung Beras? Aku tak tahu, pertanyaan ini harus kulayangkan kepada siapa. Entahlah! Ini seperti membaca sebuah teka-teki. Seperti membaca jejak-jejak kelenyapan. Terlalu berlebihankah? Melihat situasi seperti sekarang di mana beton-beton menjarah sawah-sawah, kurasa kelenyapan sawah menjadi nasib yang harus diterima. Namun aku tak pernah bisa terima!
Gerimis turun dari langit. Hawa terasa kian dingin. Tiada terasa, laju mobil telah memasuki wilayah Kecamatan Pupuan. Sampai pada sebuah tikungan di sebuah desa yang bernama Desa Pujungan, mobil menikung ke kanan menuju SMA Negeri 1 Pupuan. Mobil berhenti di dalam halaman parkir sekolah. Sopir, dosen, dan aku pun turun. Di luar tampak beberapa orang telah menunggu kedatangan kami. Mereka adalah mahasiswa di kampus tempatku bernaung yang ikut dalam kelompok belajar di wilayah ini.
Tak banyak membuang-buang waktu, kegiatan belajar-mengajar pun segera dimulai. Dosen telah lengkap dengan laptop dan proyektor di depan kelas. Sementara mahasiswa telah bersiap dengan buku dan alat tulis mereka. Aku menunggu di luar kelas. Sembari membuka-buka halaman sebuah buku yang sengaja kubawa dari Denpasar. Makin sore dingin terasa makin menguasai tubuhku. Terutama di kedua telapak jemari tangan terasa amat dingin.
Pukul 17.00 Wita, perkuliahan itu berakhir. Kami bersiap-siap untuk balik ke Denpasar. Dingin yang kurasakan membuat aku tak ingin berlama-lama berada di luar. Segera masuk ke dalam Kijang. Aku dan sopir sudah bersiap di dalam mobil, lalu dosen datang dengan diikuti seorang perempuan di belakangnya. Perempuan itu, mungkin lebih tepat kukatakan gadis, berperawakan kecil, kurus, dan rambut melewati bahu mengenakan kemeja putih dan celana panjang hitam.
“Ini mahasiswinya mau ikut. Kasihan dia dari jauh. Rumahnya dekat Antosari. Sudah sering saya ajak menumpang di mobil kampus….” begitu kata sang dosen.
Pak dosen duduk di depan bersama sopir. Sementara gadis itu duduk di belakang bersamaku. Perkenalan singkat terjadi antara aku dan dia. Saling menyebut nama. Raka dan Rina. Singkat. Hanya dua patah kata itu yang mampu membelah kesunyian yang telah menjadi bekal perjalananku semenjak berangkat dari Denpasar.
Sopir kembali tancap gas. Perjalanan ke selatan tak jauh beda dengan perjalanan ke arah utara tadi. Meski ada yang menemaniku duduk di belakang, kesunyian masih bertumbuh di sini. Sementara di bagian depan sopir dan dosen asyik berbagi cerita dan pengalaman mereka. Banyak hal yang mereka bicarakan, mulai dari masa muda hingga berumah tangga, tentang pekerjaan, tentang masalah-masalah di kota, tema politik pun masuk ke dalam perbincangan mereka.
“Adik, sudah punya pacar? Dari mana pacarnya?” sebuah pertanyaan dari sopir tiba-tiba dilayangkan kepada gadis yang duduk di sebelahku. Pertanyaan itu terasa mencairkan kebekuan yang menyelimuti dari tadi, di antara kau dan aku.
Dengan lembut kau pun menyahut “Jangankan pacar. Ke mana-mana pun diantar oleh orang tua.”
“Ah! Tidak mungkin. Masak gadis secantik adik belum punya pacar?” Pak sopir bertanya heran.
“Benar Pak,” jawabmu pendek sembari tersenyum.
Lalu sedikit percakapan mencair dari bibirku dan bibirmu. Saling bertanya tentang beberapa hal mengenai kampus. Tentang mahasiswa, perkuliahan, serta kegiatan-kegiatan kampus. Juga perbincangan ringan saling bertanya asal sekolah waktu SMA dulu. Kukira engkau alumni SMA Negeri 1 Pupuan, sekolah yang tadi. Ternyata dugaanku salah. Seperti tuturmu, dulu engkau bersekolah di SMA Negeri 1 Selemadeg.
Aku masih ingat, di sela-sela perbincangan itu, aku minta nomor ponselmu. Yang terlintas dalam pikiranku ketika itu, siapa tahu sewaktu-waktu aku perlu menghubungimu. Begitu pun sebaliknya, engkau perlu menghubungiku untuk menanyakan sesuatu terkait kuliah. Hanya sebatas itu saja. Kurasa obrolan hanya seputar itu. Tak ada obrolan apa pun lagi.
Tiada terasa jarak yang ditempuh Kijang yang kita tumpangi telah mencapai wilayah Desa Belimbing. Pada sebuah pura yang bernama Pura Mekori, ketika awal berangkat tadi, beberapa ekor monyet ekor panjang tampak berkeliaran di area pura hingga di pinggir jalan raya. Namun kini ketika kembali ke selatan, gerombolan monyet ekor panjang itu tak tampak lagi berkeliaran seperti tadi.
Barangkali malam telah memanggil mereka untuk kembali ke tempatnya beristirahat setelah seharian beraktivitas. Berbeda dengan halnya manusia, yang tampak mulai melupakan malam sebagai waktu untuk mengistirahatkan diri. Dalam kehidupan kita, siang dan malam tak banyak berbeda lagi. Kita selalu hiruk pikuk dengan segala macam kerja dan aktivitas yang terus dikejar. Entahlah untuk apa semua ini.
Tak lama berselang, tibalah di wilayah Desa Tiying Gading, yang tepatnya berada di sebelah selatan Banjar Ampadan dan di sebelah utara Banjar Umaseka. Di depan sebuah rumah bersebelah sawah dan berdampingan dengan sekolah TK, mobil pun berhenti. Tepat di bawah pohon buah kersen di depan gerbang rumah itu, kau bersiap turun dari mobil.
“Bli, saya duluan..” terdengar samar suaramu namun tajam menghujam telingaku. Kutatap dengan cermat ketika engkau turun dari mobil. Sampai di bawah kau mengucapkan terima kasih dan tersenyum kepada kami yang masih akan melanjutkan perjalanan ke Denpasar.
Kini aku kembali duduk sendiri. Semua tampak tak ada apa-apa yang perlu kucurigai dari diriku. Barangkali engkau tak menangkap apa pun juga dari diriku selain kedinginan seorang lelaki ketika berhadapan dengan seorang gadis. Barangkali engkau akan mengatakan ini sebagai sesuatu yang jarang terjadi. Bagaimana seorang lelaki duduk denganmu, namun tak banyak kata terlontar dari bibirnya.
Selepas engkau turun memasuki gerbang rumahmu, senyummu terasa masih duduk di sebelahku. Menemaniku menuju arah selatan, arah kota. Bagaimana bisa ini terjadi? Masih sebuah misteri bagiku yang tak pernah menyadari bahwa semua akan mewujud ke dalam kerumitan pengertianku. Tentang hati bagiku sebelum pertemuan itu adalah kesunyian kisah, warna abu-abu yang sama sekali belum ingin kuwarnai dengan warna semerah mawar, seputih melati, maupun sebiru langit.
Tak ada kuasa yang bisa kukatakan sebagai milikku, ketika akhirnya cahaya yang terpancar dari senyummu memberi warna pada dadaku. Lewat hening tatap matamu, tak sengaja, ternyata diriku telah memasuki taman hatimu. Ada musim semi yang selalu membangkitkan gairahku untuk bertandang ke sana. Bercengkerama bersama batinmu. Menghirupi harum mawar dan melati yang tumbuh di tengah-tengahnya. Memandang langit biru yang penuh damai. Sepertinya pagi yang hangat tak pernah beranjak dari sana.
Malam semakin larut. Kantuk merambat masuk. Mataku kian terasa perih. Jam telah menunjukkan pukul 24:00. Cerita ini masih panjang akan tetapi aku tak bisa melanjutkannya malam ini. Sebuah kalimat merambat di telinga. Rangkaian kata yang sering kau ucapkan padaku “Bli, malam ini jangan begadang lagi ya!”
Pujungan. Pertemuan denganmu menjadi ujung pencarianku…
Denpasar, 26 Oktober 2013


Komentar