Angin Malam Cerpen Ngurah Parsua
By Ngurah Parsua- 21 Oktober 2025
“MAS, jadi pulang?” Aku bertanya dengan sedikit terkejut. Kemarin ia menyatakan mau pulang sore itu. Sedangkan malam ini, masih berada di sini. Aku bertanya sedikit terkejut.
“Tidak! Pak Wayan sopir truk yang sering kutumpangi, tidak jadi berangkat ke Jakarta sore itu. Ia lagi sakit. Katanya, besok berangkat. Biarlah pulang besok saja. Menumpang truk Pak Wayan.”
Kami sama-sama diam. Ia tunduk lesu. Wajahnya nampak murung menggugah rasa belas kasihan. Aku melayani seorang pembeli rokok. Beberapa kendaraan lewat di depanku. Terpaksa aku berbicara agak keras kepada pembeli rokok agar didengarnya. Sedangkan tak jauh di seberang jalan tempatku berjualan, terdapat Pasar Senggol cukup ramai.
Tempatku berjualan mudah dilihat orang, lalu lalang. Mungkin karena itulah, orang berbelanja ke tempatku cukup banyak. Aku berjualan hanya di waktu malam hari. Itu pun karena belas kasihan pemilik toko, Ia tidak sampai hati mengusirku agar tidak berjualan di emper tokonya.
Ia batuk terkekeh. Kepalanya ditundukkan. Duduk ia di pinggir teras toko, sambil menjambak rambutnya, kusut dan sudah berwarna dua. Sedang tangan lain, bertumpu pada tiang bangunan toko yang kokoh. Nampak ia sangat menderita karena batuknya itu. Aku berjualan di deretan paling ujung dari toko.
Ia datang ke tempatku berjualan, biasanya menjelang tengah malam. Ia tidur sepanjang malam di sana, sampai orang-orang ramai membuka warungnya di Pasar Senggol untuk berjualan di waktu subuh.
“Batuk lagi Mas?”
Batuknya sudah dari dulu tak henti-hentinya. Ia sudah menganggap batuknya itu merupakan penderitaan rutin. Akhir-akhir ini, batuknya cukup membuat ia lebih menderita dari biasanya. Wajahnya semakin pucat, kondisi tubuhnya nampak melemah.
“Ya Dik! Wah, batuk akan kubawa mati.”
“Ah. Mas, harus pergi berobat. Berobat saja ke Rumah Sakit Umum. Biayanya tidak mahal. Daripada memelihara sakit, apa untungnya?” kataku menganjurkan.
Aku terdiam karena beberapa orang berbelanja ke tempatku. Setelah itu, ia berkata perlahan.
“Dik, aku sudah bosan sakit. Sakit melulu sepanjang hidup.”
“Lho, siapa yang mau sakit? Makanya, berobatlah! Kalau tak mau ke dokter, ke Rumah Sakit Umum saja. He ya, ke Puskesmas juga boleh.”
“Malas Dik, enggan untuk pergi berobat.”
“Maunya apa?”
Ia diam saja mendengar kata-kataku.
“Orang ini jadi aneh. Sakit dianggap jadi kebiasaan rutin. Aneh! Betul-betul aneh,” kataku dalam hati.
Sebuah truk lewat, muatannya gamelan Bali, penabuhnya berpakaian adat sedang berdiri berdesakan. Setelah lewat, aku kembali menatap pengemis di hadapanku. Aku mematikan radio yang sedang mengalunkan tembang Wargasari.
“He Mas, saya pernah batuk begitu. Mas tahu, bukan? Berjualan rokok begini kadang-kadang sampai larut malam. Angin malam jahat. Membuat sakit batuk dan badan kurus karena masuk angin. Seperti keadaan Mas sekarang itu.”
Batuknya datang terkekeh-kekeh, Ia tersengal-sengal tak mampu menahan batuknya.
“Angin malam itu jahat. Apa lagi kalau begadang, seperti kata orang, mengurangi jumlah darah merah. Badan jadi lemas dan mudah kena penyakit. Itu kan pesan lagu yang berjudul Begadang, bukan?”
Ia tak sempat menjawab. Aku terdiam karena melayani seorang pembeli rokok. Sedangkan ia disibukkan oleh batuknya. Setelah pembeli pergi, ia berkata terbata-bata.
“Dik, apakah mengemis itu termasuk pekerjaan berdosa?”
Pernyataan itu menyentak hatiku. Aku ragu menjawabnya.
“O. Begitu....” Aku terdiam sejenak. “Bagi saya, semua pekerjaan yang dilakukan tanpa memaksa dan merugikan orang adalah baik. Jadi tak berdosa....”
Sebenarnya aku ragu mengenai pendapatku itu. Aku sendiri tak tahu jawaban paling tepat.
“Jadi, apakah mengemis itu baik?”
“Kupikir ya! Mengemis itu, meminta menurut kerelaan orang. Daripada mencuri, jauh lebih baik mengemis. O ya, orang menyerah begitu saja kepada nasib, juga rasanya kurang baik. Ya.... sulit juga.”
Aku tak lagi melanjutkan percakapan. Takut ia merasa tersinggung. Kami berdiam diri cukup lama. Untuk mencegah kekikukan aku mulai berkata.
“Mas tahu, saya setiap malam memakai jaket ini. Jaket bekas ini saya beli dari seorang mahasiswa, kebetulan perokok berat. Barangkali ia kehabisan bekal. Ya, jaket ini saya tukar dengan rokok secara mencicil. Memakai ini di waktu malam hari, rasanya cukup hangat.”
Ia diam saja. Hanya menunduk sedih. Napasnya agak tersengal-sengal. Matanya merem melek seperti sangat mengantuk.
“Ini lagi Mas. Setiap siang, usahakan dapat tidur siang. Sedikit, tak apa-apa. Tidur siang, menyehatkan badan. Kalau sudah tidur siang, malamnya kuat melawan angin malam.”
Ia hanya mengangguk. Matanya tetap merem melek. Tubuhnya bersandar pada tiang emper-emper toko. Napasnya masih tersengal-sengal. Tiba-tiba aku sadar bahwa ia hanya seorang pengemis.
“Banggaku, kebanggaan konyol. Dasar aku goblog.”
Aku menyesal menasehati terlalu berlebihan. Menyuruh membeli obat dan sebagainya. Menunjuk jaket, aku beli dari mencicil, hanya lima batang rokok sehari, selama dua puluh hari. Aku sadar, aku merasa bersalah berbuat seperti itu. Mana mungkin ia mampu membeli obat, pikirku. Aku merasa menyakiti hatinya dan mengejeknya. Cepat-cepat aku mau meralat kata-kataku itu.
“Siapa tahu, hasil mengemisnya sebulan lebih besar dari pendapatanku berjualan sebulan. Aku pernah mendengar tentang seorang pengemis berpenghasilan sampai ratusan ribu sebulan di Jakarta.”
Tiba-tiba pikiran seperti itu muncul. Kata yang mau meralat kebanggaanku, tentang jaket dan nasehatku, tak jadi aku keluarkan.
“Dik... Dik!”
“Ya, ada apa?” Aku kaget dan sadar dari pergulatan pikiranku sendiri.
“Dik pernah pergi ke Banyuwangi?”
“Ya pernah. Sewaktu saya belum menikah pernah jadi kernet. Apalagi wilayah kota Banyuwangi sudah hafal betul.”
“Saya berasal dari Banyuwangi.”
Lalu ia berkata terus seperti mengigau. Aku meladeni, mendengar ocehannya. Sekali-sekali aku bertanya juga tentang keluarganya. Ia menjawab terus terang. Membuka rahasia hidupnya sendiri tanpa rasa curiga. Akhirnya kulihat ia tertidur lelap.
Tengah malam, aku menutup gerobak jualanku. Sebelum menyimpan gerobak tempat jualan ke rumah teman, kulihat ia tertidur pulas di emperan toko. Tidur tanpa alas apa pun. Tertidur sangat tenang. Tidak menderita batuk lagi. Sampai di rumah aku lihat istriku belum tidur. Ia masih asyik menjahit baju anak dengan tangan. Dua orang anakku tertidur lelap di tempat tidur lebar, terbuat dari bambu.
“Belum tidur, Bu?” Aku duduk di atas tempat tidur, di sebelah anak-anak.
“Belum. Tumben malam ini tidak bisa tidur. Angin malam cukup dingin, ya?”
“Besok dinding rumah mau saya ganti. Uangnya sudah terkumpul. Kasihan anak-anak batuk terus. Angin malam masih merajalela di kamar kita,” kataku sambil merebahkan diri. Suara kentongan di Bale Banjar dipukul dua kali.
“Ya, barangkali begitu.”
Pikiranku tiba-tiba melayang kepada pengemis yang tidur di emper-emper toko. Ia pasrah kepada nasibnya. Waktu masa kanak-kanak, hidupnya dimanjakan dan setelah tua didera nasib malang.
“Bagaimana jualanmu, Pak?”
“Biasa, cukup banyak yang laku.”
Aku bangkit dari tempat tidur. Pikiranku masih saja teringat kepada pengemis itu.
“Kisah hidupnya cukup menyedihkan. Ia sangat menderita di hari tuanya sekarang
ini. Tak mampu bekerja karena sakit-sakitan. Keluarganya, tak ada yang hidup dalam keadaan mampu. Ia sangat perasa. Ia tak mau membebani keluarganya yang tak mampu. Lalu menjadi pengemis, kasihan sekali.”
Pikiran seperti itu membuat hatiku sedikit gelisah.
“Mengapa gelisah, Pak?” Diam-diam ia memperhatikan diriku.
“Teringat pengemis yang sering aku ceritakan itu. Ia sedang sakit. Tadi ia tidur di emper-emper toko, tempatku berjualan. Batuknya keras sekali,” kataku berterus terang.
“Kalau kita tolong, mau kau suruh tidur di mana, Pak? Kamar kita cuma ini dan dindingnya sudah berlubangan. Mungkin sama saja seperti tidur di emper-emper toko.”
Malam semakin larut. Deru mobil terdengar sayup di kejauhan.
“Ternyata ia bekas keluarga kaya. Ayahnya pernah menjadi orang kaya. Sekarang semua kekayaannya telah habis tak karuan. Tadi ia bercerita tentang keadaan seluruh hidup dan keluarganya. Rupanya setelah bercerita, ia menjadi tenang. Tidurnya lelap ketika aku tinggalkan.”
“Orang kaya? Jangan percaya omongan pengemis, Pak! Pak... Pak... Pak. Orang seperti itu dipercaya. Kalau kaya, mengapa ia menjadi pengemis?” Istriku menggerutu.
“Bukan begitu maksudku. Dahulu ia keluarga kaya. Kekayaannya diperoleh tidak dengan baik. Akhirnya habis tidak karuan. Itu pengakuan dia.”
Kami berdua membisu sejenak.
“Sekarang ia dibenci menantunya. Punya anak dua orang hidupnya juga menderita. Katanya, ia mengaku lebih suka hidup di jalanan daripada di rumah anak-anaknya.”
“Mungkin itu cuma alasan. Orang kalau malas ada saja alasannya.”
“Saya kira tidak begitu. Ini orangnya... maksudku.... nampaknya jujur sekali,” kataku membela.
“Ya, mana ada orang mengaku diri tidak baik. Menilai orang, bukan dari pengakuannya. Saya bisa mengaku ini dan itu, apalagi yang baik-baik,” kata istriku ketus.
“Ah, kamu ini. Bu... Bu, saya tahu cara membedakan orang.”
Kami sama-sama diam. Lalu istriku bangkit dari duduknya. Ia pergi ke dekatku, seraya membaringkan tubuhnya. Wajahnya lama menatap langit-langit rumah. Rupanya ia sedang berpikir tentang sesuatu. Setelah itu ia membalikkan tubuh, selimut yang ada di kaki ditarik ke atas. Badannya diselimuti tanpa berkata apa-apa. Aku juga diam saja. Takut kalau persoalan itu menjadi percakapan semakin keras. Pertengkaran sia-sia, seperti anjing berebut tulang, kataku dalam hati. Aku berusaha menghapus bayangan pengemis yang tidur di emper toko.
“Lalu, mengapa tidak memberi uang saja? Suruh ia membeli obat batuk atau dibelikan saja obat batuk,” kata istriku perlahan.
Aku diam sejenak. Badan aku balikkan, sambil berkata perlahan.
“Kamu sungguh-sungguh atau menyindir sinis, Bu?”
“Mana saya berani mengejek orang menderita seperti itu, Pak. Saya takut pada balasan perbuatan buruk karena mengejek orang menderita. Tuhan berdiri di semua hati manusia. Miskin atau kaya, yang penting kesucian pikirannya.”
“Kesucian perbuatan juga.”
“Pokoknya saya takut Tuhan.”
“Ya, kalau begitu besok akan saya belikan obat batuk.”
Suara kokok ayam bersahutan di kejauhan, malam semakin senyap. Akhirnya kami tertidur lelap. Besok paginya, aku dikagetkan oleh goncangan tangan istriku.
“Pak.... Pak!”
“Ada apa?”
Rupanya matahari telah meninggi dan istriku sudah pulang dari pasar.
“Itu... di pasar... he, di toko.”
“Ada apa? Cobalah berkata tenang.”
“Itu, itu... di tempat Bapak berjualan, di emper toko sana. Ada orang meninggal.”
“Apa?” Tanpa sadar aku melompat dari tempat tidur.
“Ada mayat. Ada orang mati. Tadi banyak orang berkerumun di sana. Katanya pengemis. Apakah bukan pengemis yang Pak, ceritakan itu?”
Tiba-tiba dadaku gemetar.
“Lalu sekarang bagaimana?”
Ya, mati! Menurut orang-orang mayatnya sudah kaku. Polisi sedang mencari tahu siapa sebenarnya keluarga pengemis itu? Sebab di pakaiannya tidak ditemukan apa-apa.”
“O ya, ya!” Tanpa pikir panjang aku bergegas mencuci muka. Setelah menyisir rambut, pergi meninggalkan istriku yang sedang ke dapur dengan bawaannya dari pasar.
Di hatiku masih tercatat jelas, siapa dan di mana alamat keluarga pengemis itu. Langkahku bergegas ringan seperti ada yang mendorong dari belakang.
Aku ingin menyelamatkan mayat pengemis itu. Karena ia minta tolong agar mayatnya dikirimkan kepada keluarganya.


Komentar