Pratima Cerpen Agus Darmita Wirawan
By Agus Darmita Wirawan- 19 Oktober 2025
Kulkul bulus kayu jati
Mapinda karang Cina
Cai tulus ngemasin mati
Mabekel surudan pratima
SUDAH dapat dipastikan, yang melantunkan lagu itu, seorang lelaki brewok. Wajahnya kering. Rambutnya yang lusuh disanggul di atas kepala terbungkus kain putih seputih brewoknya. Tak seorang pun penduduk Desa Umakaang peduli ketika ia lewat dan bernyanyi-nyanyi dengan riangnya di sepanjang jalan. Hingga orang-orang desa, terutama anak-anak kecil hapal benar bait-bait syair lagu itu dan dapat menyanyikan dengan baik. Hanya satu-satunya penyair di desa itu telah mengorbankan perhatian penuh, mencermati prilaku lelaki itu dari waktu ke waktu. Penyair yang satu ini, sejak awal telah menguntit perjalanan lelaki yang tak lagi melakukan fungsi pokoknya yang dulu sebagai Pamangku Pura Pesimpangan Gunung Siku.
Lelaki itu berhenti di suatu tempat. Pandangannya nanap menatap gundukan tanah yang mulai kering. Sanggah Cukcuk dari bambu masih tegak dan kokoh berdiri di hulu gundukan sepanjang dua meter itu. Hiasan janur persembahan pitara di atas kelatkat itu tampak layu sekali. Dan di sebelah teben terpancang papan dari triplek tipis 2 mili bertuliskan “Di sini telah disemayamkan Wayan Tanu, Sahabat Karibku,” yang pernah ditulis sendiri dengan kapur gamping. Ia menghaturkan sesajen ala kadarnya di atas gundukan itu. Mulutnya komat-kamit. Kemudian dari dua kelopak matanya mengalir cairan bening, meleleh di kedua bidang pipinya yang cekung. Didekapnya gundukan tanah itu erat-erat seperti tidak ingin kehilangan sesuatu. Dari mulutnya terdengar irama pantun yang dinyanyikan lembut.
Wayan Tanu Wayan Tanu
Maluan cai ka umah wayah
Pratimana due Gunung Siku
Marurub ban saput putih
Seandainya kentongan di balai desa tidak jadi dipukul, malam naas itu pasti tidak pernah terjadi. Waktu itu, Buda Kliwon Uwudan, pintu jaba Pura Pesimpangan Gunung Siku baru saja ditutup oleh pamangku itu. Tiba-tiba saja dilihatnya dua bayangan berkelebat di jaba tengah. Kemudian dengan cepat bayangan itu menghilang. Ditilik lagi dengan cermat tanda-tanda aneh sebagaimana firasat buruknya bekerja. Ia sangsi dengan pandangan sepasang matanya meski ia tahu kalau dirinya sudah rabun. Ia bengong dan belum mau beranjak.
“Pratima berwujud Wisnumurti, Brahmakumara, Ciwagandhu di Gedong Pesimpenan memang lumayan nilainya. Lebih-lebih harga emas mencuat beberapa bulan terakhir ini. Jangan-jangan pratima itu akan jadi sasaran maling,” pikirnya dalam-dalam. Ia masih cermat mengamati bayang-bayang aneh itu. Benar juga, bayangan itu tampak bergerak memanjat tembok jeroan pura menuju arah Gedong Pesimpenan.
Ia masih bengong bahkan hampir kehilangan akal sehat, apa yang mesti dilakukan. Pikirannya sempat kacau, darahnya terasa meluap, dan detak jantungya sudah tak teratur lagi. Ia pikir, tak mungkin bisa membela diri dengan kekuatan yang rapuh seperti ini. Lalu, diputuskan untuk segera pergi ke balai desa dan memukul kentongan sekuat sisa tenaganya. Mendengar kukkul bulus, krama desa mengalir bagai anak-anak tawon yang kebakaran rumah. Pedang, linggis, golok, parang, pentong, dan alat-alat sejenisnya berseliweran di genggaman penduduk desa. Secepat cerita ini pula Wayan Tanu dihabisi massa yang sedang kalap, panik, dan emosi. Beruntung yang seorang lagi mampu menyelamatkan dirinya. Ia hilang di tikungan jalan desa dilumat malam.
Sejak kematian Wayan Tanu, ia telah merasa kehilangan orang yang paling berjasa dalam hidupnya. Sama sekali tidak disangka kalau akhirnya yang diamuk massa malam itu adalah sehabat karibnya – orang yang pernah menyelamatkan hidupnya di masa revolusi fisik tahun 1965. Ia cemas sekali dan merasa paling berdosa di muka bumi ini, bahkan telah memvonis dirinya sebagai penyebab kematian Wayan Tanu. Dia merasa benar-benar khilaf telah menyulut kemarahan warga desa dengan
memukul kentongan dengan hebatnya di balai desa. Penyesalan memang selalu muncul kemudian.
Itulah sebabnya, tanda-tanda aneh mulai muncul pada perilaku Mangku Pura Pesimpangan Gunung Siku. Ia mulai menyepi. Sering kali bicara dan bergumam sendiri. Tertawa sendiri. Dan anehnya, setiap hari ia menghaturkan sesajen di atas gundukan kuburan Wayan Tanu yang sudah kering. Sepanjang jalan mulutnya komat-kamit, bahkan ia telah meninggalkan fungsi pokoknya sebagai pamangku. Ia telah menemukan kebebasannya sendiri. Perubahan sikap Pak Mangku akhir-akhir ini dicermati sebagai suatu gejala kelainan jiwa. Pak Mangku telah mengalami depresi. Di jalan-jalan, di setiap tempat, di mana saja, ia selalu bernyanyi dan tak peduli dengan orang-orang sekelilingnya.
Ketika lagu itu sayup terdengar di sepanjang jalan, sudah dapat dipastikan, yang melantunkannya, seorang lelaki brewok. Wajahnya kering. Rambutnya yang lusuh disanggul di atas kepala terbungkus kain seputih kapan. Tak juga orang mau peduli, kecuali seorang penyair yang diam-diam memberi makna yang dalam terhadap keberadaan itu.
Waktu sudah surup ketika berhenti di sebuah gundukan tanah yang sudah kering. Ia menghaturkan sesajen ala kadarnya di atas gundukan itu. Mulutnya komat-kamit. Kemudian dari kedua kelopak matanya mengalir cairan bening, meleleh di kedua bidang pipinya yang cekung. Didekapnya gundukan itu erat-erat seperti tidak ingin kehilangan sesuatu. Seorang penyair menyapanya dengan santun meski ia tahu kalau lelaki itu dalam depresi berat.
“Pak Mangku, pulanglah. Hari telah surup, besok bisa dilanjutkan.”
“Seandainya malam itu kulkul bulus tidak lantang berbunyi. Pasti nyawa Wayan Tanu bisa diselamatkan,” ucap lelaki itu berapi-api.
“Mari, pulang Pak Mangku!”
“Bagaimana mungkin pura yang kita sucikan dan punya kekuatan magis, bisa bobol oleh pencuri.”
“Sudahlah jangan pikirkan itu lagi. Ayo!”
“Itu bertanda kekuatan magis pura telah luntur. Bentengnya pasti sudah rapuh. Ya ndak, ya ndak?”
“Ya ya, saya mengerti,” penyair itu berpura-pura sabar.
“Wayan Tanu, sehabat karibku telah mati, hii… hiii,” lelaki itu menangis sesengukan.
“Sudahlah, Pak. Mari kita pulang saja. Tinggalkan tempat ini.”
“Ini teguran dari Hyang Embang bagi kita untuk eling, eling, elingngngng!”
“Ya, segera akan dilaksanakan ruwatan desa. Saya tahu itu. Yang penting Bapak kembali dalam sediakala.”
Lelaki dengan wajah kering itu menyanyi lagi. Suaranya agak serak. Setelah itu, Ia menatap tajam wajah penyair itu dari ujung kaki terus merambat ke ujung rambut. Takut juga penyair itu. Tapi ia yakin jika Tuhan selalu melindungi umatnya.
Tiba-tiba saja penduduk Desa Umakaang kembali heboh. Pratima Pesimpangan Pura Gunung Siku benar-benar telah raib dari Gedong Pesimpenan. Tidak ada tanda-tanda mencurigakan sebelumnya, bahkan warga desa telah kehilangan narasumber untuk melacak keberadaan benda keramat itu, yang terlanjur diyakini oleh segenap penduduk desa, mampu memberikan kesejahteraan jagat Umakaang.
Pak Mangku sudah tidak mampu lagi dipercaya sebagai narasumber tentang seluk-beluk raibnya pretima itu. Dari mulutnya hanya terlontar senandung dan syair lagu ciptaannya.
Kabar yang lebih menyedihkannya lagi, Pak Mangku telah tertelungkup kaku dengan wajah yang mengenaskan di atas gundukan tanah kuburan Wayan Tanu. Kini Desa Umakaang benar-benar telah jatuh dihimpit tangga. Ketika kabar kematian Pak Mangku tersiar seantero desa, penyair itu ternyata telah dapat merampungkan dua bentuk karya sastra: sebuah puisi berjudul “Nyanyian Jero Mangku: Sebuah Pergulatan Batin” dan satu lagi cerpennya bertajuk “Pratima Gunung Siku.”
Dicermatinya kembali syair-syair Pak Mangku oleh penyair yang konon terdampar di Bali dari Swarna Dwipa, hingga orang-orang menyebut namanya Putra Dhamparan. Entah apa maunya penyair yang dengan cermat menilik syair-syair lagu Pak Mangku, gayanya persis filosof atau psikolog. Ia merasa telah menemukan sesuatu dalam bait syair-syair itu, tetapi sebagaimana sifat penyair pada umumnya selalu tidak yakin dan tidak puas dengan hasil pencapaiannya. Ia tampak terus mencari sampai ke tulang sumsum.
Dalam kepanikan warga desa untuk mengupayakan kembali pratima yang hilang, Kelihan Adat dalam dialog yang tak terancana dengan penyair ini di sebuah Pos Kamling di ujung desa, memeroleh petunjuk yang cerdas.
“Saya hanya ingin memberi usulan saja, Pak. Barang kali ada manfaatnya bagi warga
desa. Bukankah kita sedang berupaya untuk menemukan pratima itu kembali, Pak? Usulan saya ini hanya sebuah ikhtiar yang sama dengan usulan-usulan lainnya, maksud saya mungkin akan gagal juga.”
“Jadi, Adik diam-diam juga tahu upaya kami?”
“Ya, Pak. Saya mengikuti terus perkembangan. Semuanya itu saya dengar dari orang-orang di seputar desa. Tapi entah, saya punya firasat lain. Justru saya ingin membuktikannya.”
“Adik, yakin itu?”
“Yakin, sih tidak. Tapi naluri kepenyairan saya mengatakan begitu!”
“O, jadi anda penyair, ya?”
“Terserah Bapak menilai. Karena penyair itu hanya istilah yang merujuk satu makna dan datangnya dari orang lain, bukan dari saya.”
“Pendapatmu bagaimana?”
“Begini, Pak! Bertolak dari bait-bait syair yang sering dinyanyikan Pak Mangku semasih hidup, saya berkeyakinan, Pratima Pura Persimpangan Gunung Siku, ada di kuburan Wayan Tanu.”
Penyair itu mulai menyanyikan syair lagu itu perlahan-lahan. “Secara psikologis, ada perasaan berdosa Pak Mangku atas kematian Wayan Tanu. Jadi, ia sengaja memindahkan kepemilikan pratima itu dengan cara menanamnya di kuburan Wayan Tanu. Itu berarti, ia rela kalau hanya emas dalam wujud pratima yang ingin dimiliki oleh Wayan Tanu untuk dibawa mati. Cobalah digali kuburan Wayan Tanu itu, Pak.”
Pak Kelihan tercenung, keningnya mengkerut dan tampak berpikir serius sekali. Ide baru ini terasa telah memberi pencerahan bagi dirinya. Sambil mengangguk-anggukan kepalanya, ia berkata perlahan, “Baik, baik! Besok pagi ada dewasa bagus. Besok saya akan gali Bersama para prajuru adat,” ucap Pak Kelihan serius.
Kini ia pun dapat menyanyikan bait-bait syair lagu almarhum Pak Mangku dengan komplit. Ia nyanyikan lagu itu berkali-kali meski terdengar agak sumbang sambil sesekali memberi makna pada setiap baitnya sebagaimana maksud awalnya ketika diciptakan oleh Pamangku Pura Pesimpangan Gunung Siku.
Tabanan, 9 Juli 1998


Komentar