Bali Terendam, Pariwisata Terguncang: Saatnya Bangkit dengan Ekonomi Hijau

  • By Desak Gede Pratiwi Wijayanti
  • 20 September 2025
Banjir yang melanda Denpasar. Sumber foto: NusaBali

Banjir besar mengguncang Pulau Dewata. Saatnya berbenah lewat regulasi dan transformasi ekonomi hijau agar pariwisata Bali tetap lestari.

Banjir besar yang kembali melanda Bali pada pertengahan 2025 menyadarkan kita akan satu kenyataan pahit: pulau yang indah ini berdiri di atas fondasi ekonomi yang rapuh. Dalam beberapa hari, air bah bukan hanya merendam rumah dan fasilitas umum, tetapi juga merusak citra Bali sebagai destinasi pariwisata dunia. Pertanyaannya: sampai kapan Bali bisa menggantungkan masa depannya hanya pada sektor pariwisata?

Secara statistik, Bali memang masih menunjukkan daya tarik luar biasa. Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali mencatat jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) pada Juli 2025 mencapai 697.107 kunjungan, meningkat 11,42% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Secara kumulatif, periode Januari-Juli 2025 mencatat 3,98 juta kunjungan asing, menandai tren pemulihan pasca pandemi yang signifikan.

Namun, di balik angka-angka tersebut, Bali menyimpan kerentanan serius.

Pandemi Covid-19 menjadi pelajaran mahal: ketika pariwisata lumpuh, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Bali terkontraksi hingga -9,31% pada 2020 (BPS Bali, 2021) terburuk di Indonesia. Kini, Bali menghadapi ancaman lingkungan yang terus membayangi: banjir, abrasi pantai, krisis air bersih, serta alih fungsi lahan.

BPBD Bali melaporkan 80 titik kejadian banjir dan tanah longsor sepanjang 2023, mayoritas terjadi di kawasan padat wisata seperti Kuta, Ubud, dan Canggu. Sementara itu, menurut data Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali, lebih dari 10 ribu hektare lahan sawah hilang dalam sepuluh tahun terakhir, sebagian besar beralih fungsi menjadi akomodasi wisata.

Bonus Demografi: Peluang atau Ancaman?

Bali saat ini tengah memasuki fase bonus demografi, dengan sekitar 70% penduduk berusia produktif (15–64 tahun) (BPS Bali, 2024). Secara teori, ini adalah peluang emas untuk pertumbuhan ekonomi. Namun kenyataan di lapangan menunjukkan hal sebaliknya. Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) BPS Agustus 2024 mencatat tingkat pengangguran terbuka di Bali sebesar 2,34%, lebih rendah dari rata-rata nasional (4,8%). Namun, pengangguran justru lebih tinggi pada kelompok usia muda (15–24 tahun). Ini mengindikasikan bahwa anak muda kesulitan masuk pasar kerja karena minimnya sektor alternatif selain pariwisata.

Tri Hita Karana: Falsafah Lokal, Solusi Global

Dalam menghadapi krisis ini, Bali sesungguhnya telah memiliki warisan kearifan lokal yang sangat relevan: Tri Hita Karana adalah tiga penyebab terciptanya kebahagiaan dan keharmonisan hidup, yakni: Parahyangan (hubungan harmonis manusia dengan Tuhan), Pawongan (hubungan harmonis antar-manusia), dan Palemahan (hubungan harmonis manusia dengan alam). Tri Hita Karana bukan hanya filosofi hidup, tetapi juga bisa menjadi dasar pembangunan ekonomi hijau. Dengan menempatkan alam sebagai bagian integral dari keseimbangan hidup, masyarakat Bali memiliki landasan spiritual dan budaya untuk memelopori transformasi menuju ekonomi yang lebih berkelanjutan.

Ekonomi Hijau: Alternatif Rasional, Bukan Sekadar Ideal

Krisis multidimensi yang dihadapi Bali menuntut solusi struktural, bukan tambal sulam. Salah satu pendekatan yang semakin relevan adalah transisi ke ekonomi hijau, yaitu pembangunan yang menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi, keadilan sosial, dan keberlanjutan lingkungan. United Nations Environment Programme (UNEP) mendefinisikannya sebagai “an economy that improves human well-being and social equity, while significantly reducing environmental risks and ecological scarcities.”

Untuk Bali, setidaknya ada tiga sektor strategis yang sangat potensial dikembangkan:

1.      Pertanian Organik dan Agroforestri.

Sistem irigasi tradisional subak yang telah diakui sebagai warisan dunia oleh UNESCO (2012) bisa dihidupkan kembali melalui pertanian organik berbasis komunitas. Ini bukan hanya menjaga ketahanan pangan, tetapi juga menjadi daya tarik wisata edukatif.

2.      Energi Terbarukan

Bali memiliki potensi energi surya yang besar. Menurut Kementerian ESDM, tingkat penyinaran matahari di Bali berada di kisaran 4,5–5,1 kWh/m²/hari, sangat ideal untuk pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).

3.      Ekowisata dan Budaya Berkelanjutan

Laporan dari Booking.com Sustainable Travel Report (2023) menyebut bahwa 76% wisatawan global ingin melakukan perjalanan yang lebih berkelanjutan. Bali memiliki keunggulan budaya dan komunitas lokal yang bisa menjadi tulang punggung ekowisata berbasis desa.

Kebijakan dan Kepemimpinan Dibutuhkan

Transformasi ini tidak akan berjalan tanpa dorongan kebijakan yang progresif. Pemerintah daerah perlu menyusun Peraturan Gubernur tentang Ekonomi Hijau yang mencakup: insentif fiskal bagi UMKM berbasis ramah lingkungan, pelatihan tenaga kerja ramah lingkungan, perlindungan kawasan pertanian dan hutan, serta skema pembiayaan untuk inovasi generasi muda.

Data adalah Fondasi: Sensus Ekonomi 2026

Dalam upaya membangun ekonomi yang lebih kuat dan berkelanjutan, data yang akurat dan lengkap sangat dibutuhkan. Oleh karena itu, Sensus Ekonomi 2026 yang dilaksanakan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) menjadi momentum penting bagi seluruh pelaku ekonomi, termasuk di Bali. Sensus ini akan mendata seluruh kegiatan ekonomi non-pertanian, dari usaha mikro hingga besar, termasuk UMKM yang menjadi tulang punggung ekonomi lokal.

Ayo Berpartisipasi!

Mari sukseskan Sensus Ekonomi 2026 dengan memberikan data yang jujur dan lengkap saat petugas BPS datang ke tempat usaha atau tempat tinggal Anda. Partisipasi Anda bukan hanya sekadar kewajiban, ini adalah kontribusi nyata untuk membangun ekonomi Bali dan Indonesia yang lebih tangguh, inklusif, dan berkelanjutan.

Saatnya Memilih Jalan Hijau

Bali sedang berdiri di persimpangan sejarah. Jalan lama, mengandalkan pariwisata massal, terbukti tidak tahan krisis. Jalan baru, ekonomi hijau, mungkin lebih menantang, tapi menjanjikan masa depan yang tangguh, adil, dan lestari.

Jika kita gagal berubah sekarang, kita sedang mempertaruhkan masa depan generasi berikutnya. Sebaliknya, jika transisi ini dimulai hari ini, Bali tak hanya akan tetap menjadi destinasi wisata dunia, tapi juga contoh sukses pembangunan berkelanjutan bagi seluruh Indonesia.


TAGS :

Desak Gede Pratiwi Wijayanti

Lahir di Tabanan pada tanggal 26 Juli 1995. Saat ini mengabdi sebagai ASN di Badan Pusat Statistik Kabupaten Tabanan.

Komentar