Kesahira I Gusti Tegeh Kori Maring Pengastulan
By I Made Sugianto- 16 Agustus 2025
Diceritakan pada jaman dahulu, setelah wafatnya raja Bedahulu oleh Sri Aji Kalagemet, yang berkuasa di kerajaan Majapahit, disebabkan tipu muslihat Rakrian Patih Gajah Mada dan kesaktian Kyayi Damar, junjungan di Palembang, ksatria berdua menyebabkan hancurnya Bedahulu sehingga sepi pulau Bali. Itulah yang menyebabkan Rakrian Patih Mada sedih, melihat kerajaan Bali tanpa aturan, karena tidak ada yang memimpin. Diceritakan adalah seorang brahmana, Danghyang Kresna Kepakisan nama beliau, pendeta agung, yang telah menguasai 8 macam ilmu kebatinan, beliau adalah permatanya Rakrian Patih Gajah Mada. Beliau mempunyai putra laki-laki tiga orang, perempuan seorang. Para putra Danghyang Kepakisan itu dimohonkan oleh Krian Mada sebagai senapati. Yang tertua sebagai senapati di Brangbangan, adik beliau di Pasuruan, adik yang perempuan di Sumbawa, dan yang bungsu sebagai penguasa wilayah Bali. Rakrian Mada memberikan perangkat keraton, baju kebesaran serta tombak bernama Ki Ganja Dungkul kepada Adipati Bali, yang bergelar Sri Aji Kresna Kepakisan, didampingi oleh para Arya di antaranya: Arya Kanuruhan, Arya Kenceng, Arya Wangbang, Arya Damar, Arya Dalancang, Arya Kutawaringin, Arya Belog, banyak lagi para Arya mengabdi di kerajaan Bali, juga Pasek Gelgel bakti kepada Sri Aji Bali, tidak ada yang berani menentang, karena beliau bagaikan pejelmaan Wisnu. Tatkala memerintah jagat Bali, Sri Aji Kresna Kepakisan mengikuti tata cara kerajaan Majapahit. Kemudian datang juga ke Bali Arya Gajah Para, disertai adik beliau Kyayi Getas, terakhir juga datang Arya Kutawaringin. Beliau tinggal di Toya Anyar, beserta anaknya Arya Getas. Arya Pamacekan tinggal di Bondalem, Arya Tumenggung di Ularan, Arya Sentong di Carangsari. Demikianlah dahulu keberadaan golongan ksatria dari Kepakisan datang ke Bali. Juga ada kasta Wesia tiga bersaudara dari Majapahit bernama Si Tankober, Si Tankaur dan Si Tanmundur datang ke Bali.


Komentar