KEPERGIAN RANI

Koleksi pribadi

Malam yang dingin sisa hujan di Tulungagung, melukis bayangan ketakutan akan masa depan. Masa depan yang penuh misteri, sebab masa depan di luar kuasa manusia. Kita tidak berhak mengorek-ngorek masa depan, bahkan dalam pikiran sekalipun.

Ketakutan itu telah terurai menjadi kekhawatiran sehingga aku seolah kehilangan keberanian diri. Hujan kali ini terasa lebih dingin daripada biasanya, mungkin karena suasana hatiku yang sedang kacau. Aku duduk termangu di dalam bus sembari menggigil, menatap aspal jalanan yang cemerlang dan pohon-pohon yang basah melalui jendela bus yang kutumpangi. Pohon dan aspal itu tampak berkilau karena air hujan yang tersorot oleh lampu-lampu di jalanan. Bus yang kutumpangi ini sedang menuju Jogja, kota yang istimewa itu.

Beberapa kali ponselku berdering ketika aku tengah memikirkan teman-teman yang mengantarku ke terminal tadi. Aku membayangkan pengalaman yang begitu akrab, dan menyenangkan yang telah kami lalui bersama selama ini. Aku membayangkan setiap karakter dari mereka. Setiap karakter manusia selalu menarik perhatianku. Kurenungkan wajah dan karakter mereka satu persatu. Dalam relasi pertemanan itu aku belajar tentang hidup yang mahal nilainya.

Ponselku berdering lagi, pesan dari orang yang sama, kali ini pesannya bernada perpisahan yang sendu, “Rani yang manis. Aku sayang padamu. Jaga dirimu baik-baik!”. Aku membalasnya, lengkap dengan emotikon peluk dan gambar hati. Aku meyakinkannya bahwa aku akan kembali suatu hari nanti.

Aku membayangkan setiap peristiwa yang pernah kulalui, setiap peristiwa yang selalu menawarkan makna. Makna itulah yang menjadi bahan pelajaran, belajar dari masa lalu kita sendiri dan membuat kita semakin dewasa.

Langit tiada berbintang malam ini. Bus menderu melaju, merangkak pada aspal yang licin dan dingin. Ban-ban pun berderit tanpa mengepulkan debu, dan tetesan air hujan menghapus langsung asap kenalpot. Pohon-pohon berjajar berbaris di sepanjang tepi jalan raya, mengucapkan selamat jalan.

Tadi sore kami pergi ke Pantai Popoh, salah satu pantai yang ada di Tulungagung. Momen itu dimaksudkan sebagai perpisahan dengan teman-temanku. Perpisahan yang dimanjakan dengan pemandangan pantai yang indah karena letaknya di ceruk dan diapit oleh gunung-gunung yang pendek dan hijau. Permukaan laut yang rata itu ibarat karpet biru luas yang baru dicuci. Pantainya putih bersih membingkai karpet biru. Pemandangan sempurna untuk dikenang. Hujan sore tadi dan hujan malam ini adalah hujan yang sama. Hujan yang dimaksudkan untuk melepas kepergianku dari Tulungagung, kota kecil nan nyaman.

Waktu begitu cepat berlalu, bagitu cepat membawa perubahan. Waktu yang membawa malam lebih sepi dan lebih dingin lagi mengantarkan perasaan sunyi dalam hati. Bus yang semakin cepat meninggalkan Jawa Timur sama seperti waktu seolah-olah tanpa rem dan melaju tak henti, tanpa mau kembali.

Begitu banyak rasa yang tersimpan dalam hati malam ini. Melankolis barangkali. Rasa bercampur asa mengaduk adonan cita-cita. Layaknya es oyen yang tadi sore kami nikmati di pantai. Rasa paling dominan pada es oyen adalah rasa susu dan buah alpukat, tetapi rasa yang mendominasi hatiku malam ini adalah rasa takut kehilangan. Kehilangan yang tak akan pernah ditemukan obatnya.

Tetapi bagaimana seseorang terbebas dari rasa kehilangan? “Jika takut kehilangan maka jangan memiliki” jawabku dalam hati. Jawaban hasil imaji menggapai nurani, “Semakin kita banyak memiliki semakin banyak kehilangan.”. Nuraniku menghibur diriku. Selalu begitu ketika aku menganggap diri tidak memiliki apa pun.

Ponselku berdering lagi. Kali ini mungkin yang terakhir kali sebab waktu telah menunujuk 02:47 dini hari. Mungkin aku akan tidur sebentar sebelum bangun dan melihat kota-kota di Jawa Tengah.

***

Mataku terbuka ketika bus ini berhenti di sebuah terminal: Madiun. Itu artinya aku masih di Jawa Timur dan dari tadi tidak bisa tidur. “Nasi liwet anget! Nasi liwet anget!” Terdengar suara pedagang asong menyerbu bus yang kutumpangi.

Kulihat ponselku, ada dua pesan dari orang yang sama. Pesan itu bernada doa dan dukungan. Apakah pesan itu juga bernada harapan? Entahlah. Aku tidak tahu dan hanya dia dan Tuhan yang tahu. Aku tidak ingin begitu berharap. Aku tidak ingin tarlalu berhasrat untuk memilikinya. “Semakin besar rasa memiliki, semakin besar pula rasa takut kehilangan,” pikirku.

Bus ini kembali melaju setelah para penumpang istirahat untuk sarapan dan shalat subuh. Aku tidak membeli makanan, karena bagiku terlalu pagi untuk sarapan. Aku hanya membeli kopi panas yang dijual ibu-ibu berbaju kebaya bermotif buga melati. Kopi tak berhasil mengusir hawa dingin. Kaca jendela bus kelabu oleh embun yang mengagetkanku sendiri ketika pipiku menempel kaca. Perlahan bus mendekati Seragen kemudian Solo. Perlahan hati ini belajar tegar dan ikhlas meski pikiran tak mau dan tak pernah selaras.

Apa yang menjadi tujuan utama sekarang adalah belajar untuk masa depan. Lagi-lagi masa depan. Masa depan seolah-olah menjadi ukuran, suatu keharusan. Seorang bijak, yang pernah kubaca dalam bukunya, berkata “Masa depan ditentukan oleh masa kini.” Mungkin ada benarnya, pengorbananku ini pun aku tunjukkan untuk harapan dan cita-citaku di masa depan.

Sampai di Jogja pukul 09:21, aku berhenti di Jalan Layang Janti. Udara menghangat oleh matahari dan kepulan asap bercampur debu mulai nampak setelah semalam absen. Suasana kota Jogja pagi ini sangat sibuk. Aku baru pertama kali datang di kota ini.

Aku berusaha mengamati tempat baru ini. Aku melihat beberapa pengendara motor yang lalu-lalang, para tukang becak yang selalu tersenyum menawarkan jasanya, bus-bus hijau trans Jogja yang sesak oleh penumpang, para pedagang makanan berbaris di pinggir jalan, serta beberapa mahasiswa yang menuju kampus dengan mengendarai sepeda motor, para siswa-siswi SMP yang mengayuh sepeda dengan penuh semangat menuntut ilmu.

Ketika kulihat lagi ponselku, tidak ada pesan masuk. Baterainya nyaris nol persen. Sama seperti tubuh dan pikiran ini yang lelah sejak semalam. Kini aku rasai diri seorang diri, benar-benar sendiri. Di dalam kesendirian ini aku menyiapkan diri untuk meresapi segala peristiwa dan pendidikan yang akan kujalani. Dalam hati aku berkata, “Aku siap!”

Kini hatiku sudah siap, siap berkomitmen dan berjuang empat tahun saja. Empat tahun untuk mencerna ilmu yang akan diberikan kepadaku. Empat tahun untuk belajar karakter dan belajar budaya di Jogja.

Perasaan bangga merekah ketika menemukan sesuatu yang telah lama dicar-cari. Di Tulungagung aku berhasil menemukan yang kucari, menemukan diriku sendiri. Di Jogja aku kehilangan segala yang kumiliki itu, tetapi hatiku tetap tinngal di Tulungagung. Di kantongku ada KTP untuk pengingat diri, ada juga fotonya ukuran empat kali enam. Dan Tuhan kubawa dalam untaian tasbih yang tergantung di leherku.

Di Jogja aku akan berusaha mencari diriku kembali, memaknai keberadaan Tuhan setiap hari. Sementara hatiku akan kututup rapat-rapat dan kubuka hanya untuknya saja kelak. Masa depan, ramalan, imaji-imaji tidak akan menakutkan seperti sebelumnya. Malahan mereka adalah kekuatan sekaligus harapan untuk menjalani hari demi hari seorang diri.


TAGS :

Pitrus Puspito

Pitrus Puspito adalah guru dan penulis. Karyanya berupa puisi, cerpen dan esai pernah dimuat di media cetak maupun digital. Buku tunggalnya yakni kumpulan puisi berjudul Yang Hilang (2018) dan Menyayangi Ingatan (2019). Dapat disapa melalui akun instagram: @pitruspiet.

Komentar