PUISI DAN KESANTUNAN BERBAHASA

  • By Pitrus Puspito
  • 09 Mei 2025
Pexels

Melalui puisi kita belajar tentang cara berkomunikasi yang proporsional, santun dan elegan. Berpuisi berarti memilih diksi, memadatkan arti, dan meninggalkan kesan yang menyenangkan (keindahan). Dalam konteks berkomunikasi, puisi memiliki peranan penting untuk meningkatkan mutu tuturan dalam kehidupan sehari-hari.

Berlangsungnya komunikasi setidaknya membutuhkan beberapa syarat, di antaranya adanya partisipan atau pelaku komunikasi. Pelaku komunikasi yaitu penutur dan mitra tutur. Syarat kedua adalah topik pembicaraan yang sama-sama diminati oleh kedua partisipan tersebut. Dengan demikian, komunikasi dapat dipahami sebagai hubungan timbal balik antara dua partisipan atau lebih yang terlibat percakapan.

Peristiwa komunikasi dapat diukur dengan sampainya suatu pesan atau informasi yang disampaikan oleh seorang penutur kepada mitra tuturnya secara efektif dan efisien. Baik itu komunikasi lisan maupun komunikasi secara tulis. Namun demikian, seringkali asas efektivitas dan efisiensi ini tidak sesuai dengan apa yang disebut etika komunikasi, seperti kesantunan berbahasa.

Jika kita berbicara tetang kesantunan berbahasa, satu hal yang dapat kita garis bawahi, yakni membuat mitra tutur yang diajak berkomunikasi merasa dihormati. Komunikasi yang baik dan santun terjadi jika kedua partisipan merasa dihargai dan terhibur. Pada prinsipnya, selain pemilihan kata, kesantunan berbahasa juga perlu didukung dengan gerak tubuh, khususnya dalam bahasa lisan. Dalam komunikasi tulis, kesantunan berbahasa didukung dengan tanda baca, emotikon bahkan stiker.

Puisi dan Komunikasi

Dalam dunia sastra, kesantunan berbahasa telah tercakup dalam salah satu jenis karya sastra, yaitu puisi. Pada hakikatnya, puisi merupakan salah satu bentuk komunikasi yang tidak hanya mengandung aspek keindahan saja melainkan juga aspek kesantunan. Dalam menulis puisi, penyair memilih kata-kata, menyusun kalimat, mempertimbankan rima dan imaji (efek bahasa) agar menarik dan memberi kesan keindahan bagi pembaca.

Pada awal saya menjadi guru dan mengajar di sebuah sekolah menengah atas, saya diberi kebebasan memilih materi perdana saya mengajar. Saya memilih meteri puisi. Materi puisi merupakan salah satu materi yang diajarkan pada kelas X. Ada dua pertanyaan yang saya ajukan untuk bahan diskusi pembelajaran hari itu. Pertama, mengapa kita perlu mempelajari puisi? Secara umum jawaban siswa adalah karena materi puisi wajib dalam buku paket. Jawaban itu memang tidak salah, namun lebih dari itu: belajar puisi agar kita bisa memilih dan memanfaatkan bahasa dalam komunikasi yang lebih baik. Kita melakukan komunikasi dengan bahasa yang tertata dan tepat dalam segala konteks komunikasi.

Pertanyaan kedua yang saya ajukan ialah, apa manfaat puisi bagi hidup kita? Jawaban dari siswa lebih variatif akibat hasil diskusi dari pertanyaan pertama. Semua siswa mulai mengaitkan puisi dengan kehidupan dan pengalaman mereka masing-masing. Misalnya sebagai sarana berekspresi, sarana untuk curhat, sarana untuk buku diary, sarana untuk meditasi, sarana untuk terapi dan lain sebagainya. Di akhir sesi sharing, saya mengutarakan fungsi sastra secara umum dengan mengutip pendapat Horace tentang fungsi sastra, yakni dulce et utile yang artinya sastra itu indah dan bermanfaat. Begitu pun dengan puisi, yakni sarana yang dapat digunakan untuk mengolah rasa dan berkomunikasi secara estetik. Puisi adalah praktik berbahasa secara indah.

Puisi dan Olah Emosi

Mengolah rasa dalam hal komunikasi, adalah memikirkan dampak dari ucapan, porsi dalam berkomunikasi dan lain sebagainya. Dalam puisi, olah rasa terjadi ketika diksi, imaji dan amanat yang ada dalam puisi membuat orang tersentuh hatinya, sehingga orang akan cenderung reflektif, empati, dan memiliki kepekaan emosional. Dengan demikian orang secara tidak langsung belajar untuk mengolah emosinya agar tidak mudah marah dan tempramen. Sebaliknya orang yang belajar dan berpuisi akan lebih menghendaki cara-cara manusiawi dan elegan dalam berkomunikasi. Bahkan ketika menyelesaikan suatu masalah akan cenderung menghindari cara-cara kekerasan.

Sedangkan berbahasa secara estetik dan santun berguna untuk menghibur mitra tutur sekaligus menghormatinya. Mitra tutur akan mendapat kenyamanan dan kenikmatan saat diajak berkomunikasi. Sementara berbahasa secara santun, membuat mitra tutur merasa dihargai keberadaannya.

Dari cerita di atas, ada satu poin yang bisa disimpulkan, bahwa sastra masih berguna dalam kehidupan, secara khusus puisi. Kita dapat berkomunikasi lebih indah dan dengan keindahan tersebut, mitra tutur yang kita ajak berbicara akan merasa terhibur dan dihargai sebagai manusia, makhluk yang memiliki makna sekaligus memberi makna bagi kehidupan. Lalu bagaimana dengan komunikasi para pejabat akhir-akhir ini, apakah mereka perlu belajar puisi agar komunikasinya tidak nirempati?


TAGS :

Pitrus Puspito

Pitrus Puspito adalah guru dan penulis. Karyanya berupa puisi, cerpen dan esai pernah dimuat di media cetak maupun digital. Buku tunggalnya yakni kumpulan puisi berjudul Yang Hilang (2018) dan Menyayangi Ingatan (2019). Dapat disapa melalui akun instagram: @pitruspiet.

Komentar