Telanjur Galbay Esai-esai Angga Wijaya

Pustaka Ekspresi

Menaklukkan Dunia Cara Angga Wijaya

 

Belum lama ini, saya dan Angga tersentak. Musababnya, akun Facebook (FB) kami ternyata tak tertaut satu dengan yang lainnya. Saya yang sedang ingin melakukan tagging untuk berbagi link tulisannya di kanalbali.id justru menemukan akun FB lamanya yang sudah tidak aktif dan dibuatnya saat masih berstatus mahasiswa Universitas Udayana.

Usut punya usut, entah karena sebab apa, saya telah memblokir akun miliknya. Persahabatan saya dengannya memang terus mengalami pasang surut. Begitulah, sewaktu Angga menjadi mahasiswa sepertinya kami telah saling mengenal, karena dia adalah salah satu anak didik Bali Gandhi Vidyapith Ashram, Denpasar, milik tokoh perempuan Bali Alm. Gedong Bagoes Oka.

Hanya pada waktu itu bisa jadi kami saling sekadar berada dalam perlintasan yang sama karena pekerjaan saya sebagai wartawan yang sering meliput di ashram, sementara dia pun dipenuhi oleh tugas-tugas sebagai mahasiswa.

Bertahun-tahun kemudian, pada sekitar tahun 2010, nama Angga mulai kembali terngiang di telinga saya. Itu karena polahnya yang menjadi pembicaraan di kalangan wartawan, mengenai seorang kawan yang mengalami skizofrenia. Istilah itu belum cukup akrab di telinga kami semua sehingga isitilah “sakit jiwa” menjadi penyebutan yang umum digunakan.

Angga disebut-sebut sering mengalami halusinasi dan waham. Seolah-olah dia adalah orang suci yang suka berjalan kemana-mana. Kadang memberikan nasihat yang tak jelas kepada rekan-rekannya sesama karyawan yang ada di kantornya. Kabar itu kemudian menghilang cukup lama. Hanya terdengar bahwa dia menjalani pengobatan kemudian pulang kampung ke Jembrana, Bali barat, untuk menenangkan diri.

Nama Angga muncul kembali ketika gerakan kreatif di Bali menggeliat dengan munculnya berbagai kantong kegiatan. Di Denpasar misalnya, muncul komunitas Dapur Olah Kreatif yang berpusat di Warung Tresni. Kemudian di Jembrana muncul Komunitas Kertas Budaya yang diinisiasi oleh Nanoq da Kansas (Wayan Udiana).

Disitulah rupanya Angga Wijaya menjalani tempaan untuk menjadi seorang penyair. Bagi dia, proses itu juga merupakan sebuah terapi untuk menenangkan diri bila kembali mengalami masalah kejiwaan. Bekal dia sebenarnya sangat cukup karena pernah menamatkan kuliah program D1 Bahasa Inggris Lab Bahasa Universitas Udayana. Pergaulannya di lingkungan ashram dan masa kuliah di jurusan Antropologi Budaya, Fakultas Sastra Universitas Udayana pun memberinya pengetahuan yang luas mengenai dinamika antar budaya yang terbaca lewat karya sastra.

Angga saya lihat kemudian memang menemukan kesempatan di jalan ini. Pergaulan dengan para penyintas dan aktivis kesehatan mental memberinya nilai plus. Buku kumpulan puisi pertamanya, Catatan Pulang, dinilai dalam banyak hal mewakili perasaan dan harapan mereka. Karya itu pun kemudian bergema bahkan melintasi batas-batas antar bangsa ketika diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris.

Bersamaan dengan itu, Angga kemudian memiliki keberanian untuk mempertaruhkan diri kembali ke Denpasar dan menjajal hidup sebagai wartawan. Satu hal yang menurut saya berisiko tinggi karena kondisi kesehatan yang belum pulih sepenuhnya, sementara penghidupan sebagai wartawan pemula cukup berat untuk mencapai standar yang layak.

Belakangan saya baru tahu. Di balik keberanian itu, ada seorang perempuan yang menginspirasinya sekaligus menjadi pengagumnya. Keduanya saling menguatkan meski berada dalam masalah yang serius karena adanya perbedaan dalam hal iman dan hingga hari ini belum menemukan jalan keluarnya.

Energi kreatif dan semangat hidup Angga sejatinya terus meluap-luap. Karya puisi dan esai terus ditekuninya. Sejumlah buku pun diterbitkan. Ia seperti sudah tak peduli, apakah karya-karya itu bisa memenuhi kebutuhan hidupnya.

Soal ini memang masih terus mendera. Dalam beberapa kali kesempatan, saya sering menggoda dengan menyatakan, “Fakir miskin dan penyair terlantar (mestinya) dipelihara oleh negara.” Orang-orang seperti Angga mestinya dibiayai hidupnya dengan uang pajak agar dia tetap fokus memikirkan puisi dan esai sebagai produk kebudayaan. Jika bukan oleh negara, orang-orang seperti Angga membutuhkan seorang impresario, yakni seorang tokoh yang peduli dan mau membiayai hidup seorang seniman.

Sayangnya kita semua tahu, peradaban kita masih belum sampai di tahap itu. Seorang seniman mau tak mau harus bergelut dengan kenyataan untuk bekerja keras agar bisa makan. Bahkan jika dia telah mengalami luka batin yang begitu berat sehingga mempengaruhi kesehatan mentalnya.

Begitulah yang dijalani Angga hingga saat ini. Bisa dibilang bahwa dia bahkan harus menjalani gali lobang tutup lobang. Sampai suatu saat ikut terjerat dengan pinjaman online sehingga kemudian menuntunnya untuk lebih mengamati secara detail fenomena itu dan menjadikannya sebagai sebuah tulisan.

“Semua kepahitan dalam hidupmu setidaknya bisa menjadi bahan tulisanmu,” kata saya untuk memberi penghiburan kepadanya. Hal itu juga mengingatkan pada kredo yang samar bahwa kesengsaraan sering kali bisa menjadi inspirasi untuk penulisan karya sastra yang brilian.

Tentu kata-kata saya itu sungguh kurang bermutu. Apalagi sebagai seorang pemilik media online, saya pun sering memuat karya-karya Angga dengan honor yang kurang sepadan.

Sejauh ini, saya hanya bisa mengapresiasi karya Angga dengan kekaguman sepenuhnya atas energi untuk terus bertahan hidup. Ia bahkan berusaha menemukan nada dan irama keindahan, kegembiraan serta harapan yang dinyatakan kembali dalam puisi dan esai-esainya seperti terlihat dalam buku ini.

Suatu hal yang menurut saya sulit dilakukan oleh banyak orang, bahkan oleh mereka yang hidup berkecukupan tapi terjebak oleh rutinitas belaka. Di sisi lain kepahitan hidup bahkan menjadi alasan untuk melakukan aksi bunuh diri yang kini sering terjadi di Bali. 


TAGS :

Rofiqi Hasan

Rofiqi Hasan adalah wartawan senior Bali, Pemimpin Redaksi media online KanalBali.

Komentar