CERITA TANPA JUDUL | Cerpen Anton Chekhov

  • By Ketut Sugiartha
  • 07 November 2021
Foto: Tut Sugi

~Terjemahan Ketut Sugiartha~

Pada abad kelima, sama seperti sekarang, matahari terbit setiap pagi dan setiap malam mengundurkan diri untuk istirahat. Di pagi hari, ketika cahaya pertama mencium embun, bumi berdegup kembali, udara dipenuhi suara ceria dan harapan; sementara di malam hari bumi yang sama bergeming dan gelap gulita. Demikian terus berulang. Dari waktu ke waktu, awan badai bertiup kencang dan guntur menggelegar, atau bintang jatuh dari langit, atau seorang rahib berlari dengan wajah pucat untuk memberitahu persaudaraan bahwa tidak jauh dari biara ia melihat seekor harimau - itu saja, dan kemudian setiap hari begitu-begitu saja.

Para rahib bekerja dan berdoa, dan Bapa Biara bermain organ, membuat ayat-ayat Latin, dan menggubah lagu. Orang tua luar biasa yang punya karisma luar biasa. Ia memainkan organ dengan sentuhan seni yang begitu memikat sehingga bahkan para rahib sepuh, yang pendengarannya sudah tumpul menjelang akhir hidup mereka, tidak dapat menahan air mata ketika suara organ mengalun dari ruangannya. Bila ia bicara tentang apa pun, bahkan hal-hal yang paling biasa - misalnya pohon, binatang buas, atau laut - mereka tidak dapat mendengarkannya tanpa senyum atau air mata, dan tampaknya akord yang sama bergetar dalam jiwanya seperti dalam organ. Jika ia tergerak untuk marah atau menenggelamkan dirinya dalam kegembiraan, atau mulai bicara tentang sesuatu yang mengerikan atau menakjubkan, maka hatinya bergejolak, air mata mengalir dari matanya yang berkedip, wajahnya memerah, suaranya bergetar dan ketika para rahib mendengarkannya, mereka merasa bahwa jiwa mereka terikat oleh gagasannya; pada saat-saat yang begitu menakjubkan dan luar biasa, kuasanya atas diri mereka tidak terbatas, dan seandainya ia minta para sepuh untuk melemparkan diri mereka ke laut, mereka semua, masing-masing dari mereka, akan bergegas untuk menuruti keinginannya.

Musiknya, suaranya, puisinya di mana ia memuliakan Tuhan, langit dan bumi, adalah sumber kegembiraan abadi bagi para rahib. Menjalani kehidupan yang monoton terkadang membuat mereka jadi bosan dengan pepohonan, bunga, musim semi, musim gugur, telinga mereka lelah dengan suara laut, dan nyanyian burung-burung terdengar menjemukan, tetapi talenta Bapa Biara sama pentingnya dengan roti mereka sehari-hari.

Puluhan tahun berlalu, dan setiap hari sama seperti hari yang lain, setiap malam sama seperti malam sebelumnya. Kecuali burung dan binatang buas, tidak ada satu kehidupan pun yang muncul di dekat biara. Tempat tinggal manusia terdekat sangat jauh, dan untuk mencapainya dari biara, atau untuk mencapai biara dari tempat itu, berarti perjalanan lebih dari tujuh puluh mil melintasi padang pasir. Hanya orang-orang yang membenci kehidupan, yang telah meninggalkannya, dan yang datang ke biara seperti ke makam, memberanikan diri untuk menyeberangi padang pasir.

Yang membuat takjub para rahib, karenanya, adalah ketika suatu malam ada yang mengetuk pintu mereka. Ia seorang pria yang ternyata berasal dari kota, dan pendosa naif yang mencintai kehidupan. Sebelum mengucapkan doa-doanya dan meminta restu Bapa Biara, pria ini meminta anggur dan makanan. Saat ditanya bagaimana ia datang dari kota ke padang pasir, dia menjawab dengan cerita panjang tentang perburuan; dia pergi berburu, terlalu mabuk, dan tersesat. Ketika ia disarankan masuk biara untuk menyelamatkan jiwanya, ia menjawab sambil tersenyum: "Saya bukan teman yang cocok buat kalian!"

Ketika ia makan dan minum, ia memandangi para rahib yang melayaninya, menggelengkan kepalanya dengan sinis, dan berkata:

"Kalian tidak melakukan apa-apa, para rahib. Kalian sama sekali tidak berguna selain makan dan minum. Apakah itu cara untuk menyelamatkan jiwa seseorang? Coba pikir, saat kalian duduk di sini dengan tenang, makan dan minum dan memimpikan kebahagiaan, tetangga kalian mampus dan pergi ke neraka. Kalian harus melihat apa yang terjadi di kota! Sebagian meninggal karena kelaparan, yang lain, tidak tahu apa yang harus mereka lakukan dengan emas mereka, tenggelam dalam pemborosan dan binasa seperti lalat terjebak dalam madu. Tidak ada iman, tidak ada kebenaran dalam diri manusia. Tugas siapa untuk menyelamatkan mereka? Pekerjaan siapa untuk berkhotbah kepada mereka? Bukan orang seperti saya, yang mabuk dari pagi sampai malam. Dapatkah jiwa lemah lembut, hati pengasih, dan iman kepada Tuhan yang telah diberikan kepada kalian, hanya duduk di sini terkurung dalam dinding tanpa melakukan apa-apa?”

Kata-kata mabuk pria dari kota itu kurang ajar dan tidak pantas, tetapi secara ajaib mempengaruhi Bapa Biara. Lelaki tua itu bertukar pandang dengan para rahibnya, menjadi pucat, dan berkata:

"Saudaraku, ia mengatakan yang sebenarnya, kalian tahu. Memang, orang-orang miskin dalam kelemahan dan ketidaktahuan mereka, terpuruk dalam keburukan dan kebodohan, sementara kita diam, seolah-olah itu bukan urusan kita. Mengapa aku tidak pergi dan mengingatkan mereka akan Kristus yang telah mereka lupakan?"

Ucapan pria dari kota itu telah membuat lelaki tua itu memutuskan untuk pergi. Hari berikutnya ia mengambil tongkatnya, mengucapkan selamat tinggal pada persaudaraan, dan berangkat ke kota. Dan para rahib ditinggalkannya tanpa musik, tanpa khotbah dan syairnya. Mereka melewati sebulan dengan suram, lalu sedetik, tetapi lelaki tua itu tidak kembali. Akhirnya setelah tiga bulan berlalu, suara ketukan tongkatnya yang sudah sangat dikenal terdengar. Para rahib terburu-buru menemuinya dan melontarkan pertanyaan kepadanya, tetapi ia bukannya senang melihat mereka, ia menangis sedih dan tidak mengucapkan sepatah kata pun. Para rahib memperhatikan bahwa ia terlihat sangat tua dan semakin kurus; wajahnya tampak letih dan memberi kesan sangat menyedihkan, dan ketika ia menangis, ia merasakan suasana hati seorang lelaki yang marah.

Para rahib juga menangis, dan dengan perasaan prihatin bertanya kepadanya mengapa ia menangis, mengapa wajahnya begitu muram, tetapi ia mengunci diri di ruangannya tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Selama tujuh hari ia duduk di situ, tanpa makan dan minum, menangis dan tidak memainkan organnya. Ketukan di pintunya dan permohonan para rahib agar ia keluar dan berbagi kesedihan dengan mereka ia jawab dengan kebisuan yang panjang.

Akhirnya ia keluar. Mengumpulkan semua rahib di sekitarnya, dengan wajah bersimbah air mata dan dengan ekspresi sedih dan marah, ia mulai memberi tahu mereka tentang apa yang menimpa dirinya selama tiga bulan itu. Suaranya tenang dan matanya berbinar ketika ia menggambarkan perjalanannya dari biara ke kota. Di jalan, ia memberi tahu mereka, burung-burung bernyanyi untuknya, anak-anak sungai besuara gemericik, dan impian masa muda yang manis membuat jiwanya gelisah; ia terus melangkah dan merasa seperti seorang prajurit yang akan berperang dan yakin akan menang; ia berjalan seakan bermimpi, menggubah puisi dan syair pujian, dan mencapai akhir perjalanan tanpa ia sadari.

Tetapi suaranya menggelegar, matanya bersinar, dan ia penuh amarah ketika ia bicara tentang kota dan orang-orang di dalamnya. Tak pernah dalam hidupnya ia melihat atau bahkan berani membayangkan apa yang ia temui ketika ia pergi ke kota. Untuk pertama kali dalam hidupnya, di usia tuanya, ia melihat dan paham betapa hebatnya iblis, betapa jelasnya kejahatan dan betapa lemahnya hati serta tidak berharganya manusia. Kebetulan yang tidak menyenangkan, yang pertama dimasukinya adalah tempat yang tidak bermoral. Sekitar lima puluh orang yang punya banyak uang sedang makan dan minum anggur tanpa batas. Karena mabuk anggur, mereka menyanyikan lagu-lagu dan dengan berani mengucapkan kata-kata yang mengerikan dan menjijikkan sepertinya orang yang takut akan Tuhan tidak bisa bicara; bebas tanpa batas, percaya diri, dan bahagia, mereka tidak takut pada Tuhan atau iblis, atau kematian, tetapi mengucapkan dan melakukan apa yang mereka sukai, dan pergi ke mana nafsu menuntun mereka. Dan anggur itu, jernih seperti ratna cempaka, dipenuhi percikan emas, pasti sangat manis dan wangi, karena setiap orang yang meminumnya tersenyum bahagia dan ingin minum lebih banyak. Terhadap senyum pria itu, minuman itu merespons dengan senyum dan berbinar-binar penuh sukacita ketika mereka meminumnya, seolah-olah ia tahu pesona jahat yang ia sembunyikan dalam kemanisannya.

Lelaki tua itu, yang semakin geram dan menangis karena marah, melanjutkan untuk menggambarkan apa yang telah dilihatnya. Di atas meja di tengah-tengah orang yang bersuka ria, katanya, berdirilah seorang wanita jalang setengah telanjang. Sulit membayangkan atau menemukan sesuatu yang lebih indah dan menarik di alam. Reptil ini, muda, berambut panjang, berkulit gelap, dengan mata hitam dan bibir sempurna, tak tahu malu dan kurang ajar, menunjukkan giginya yang seputih salju dan tersenyum seolah berkata: "Lihat betapa tak tahu malu, betapa cantiknya aku." Sutra dan brokat menggelantung dalam lipatan yang indah dari pundaknya, tetapi kecantikannya tidak akan bersembunyi di balik pakaiannya, namun dengan penuh gairah menerobos lipatan itu, seperti rumput muda yang menembus tanah di musim semi. Wanita tak tahu malu itu minum anggur, menyanyikan lagu, dan menyerahkan dirinya kepada siapa saja yang menginginkannya.

Kemudian lelaki tua itu, dengan marah mengacungkan lengannya, menggambarkan pacuan kuda, pertarungan banteng, teater, studio para seniman tempat mereka melukis wanita telanjang atau membentuknya dari tanah liat. Ia bicara dengan penuh penghayatan, dengan keindahan tiada tara, seolah-olah dia sedang memainkan akord yang tak terlihat, sementara para rahib yang membatu, dengan penuh minat menyimak kata-katanya dan terengah-engah. . . .

Setelah menggambarkan semua pesona iblis, dan keanggunan yang menarik dari tubuh perempuan yang mengerikan, lelaki tua itu mengutuk iblis, berbalik dan mengurung diri di ruangannya. . . .

Ketika ia keluar di pagi hari, tidak ada rahib tersisa di biara; mereka semua menghambur ke kota. (*)

__________________

Anton P. Chekhov lahir pada 29 Januari 1860 di Taganrog, Rusia. Ia menamatkan perguruan tinggi di Moskow. Ia sudah tertarik pada sastra sejak usia 14 tahun. Karena tergila-gila pada seni drama ia tinggalkan dunia kedokteran yang ia tekuni selama di perguruan tinggi. Ia meninggal pada 2 Juli 1904 karena TBC.


TAGS :

Ketut Sugiartha

Ketut Sugiartha tinggal Tabanan, Bali. Menulis esai, puisi, cerpen dan novel. Tulisan-tulisannya telah tersebar di berbagai media cetak dan daring. Telah menerbitkan 10 buku fiksi meliputi kumpulan cerpen dan novel. Novel terbarunya: Kembali ke Bali.

Komentar

Berita Lainnya