Lovina di Mata Sastrawan

  • By Ketut Sugiartha
  • 04 April 2021
Foto: Tut Sugi

Lovina awalnya adalah nama tempat peristirahatan A.A. Pandji Tisna, salah seorang sastrawan lawas asal Singaraja yang menulis sejumlah novel dengan warna lokal Bali, antara lain Ni Rawit Ceti Penjula Orang, I Swasta Setahun di Bedahulu dan Sukreni Gadis Bali yang diterbitkan Balai Pustaka. Setelah ia mendirikan penginapan di situ dengan nama yang sama, kawasan itu kemudian dikenal sebagai Pantai Lovina dan sampai sekarang berkembang menjadi salah satu tujuan wisata terkenal di Bali Utara. Kata Lovina sendiri konon merupakan akronim dari Love Indonesia yang mencerminkan kecintaan sang sastrawan pada Indonesia.

Meskipun tidak seperti pantai-pantai di bagian selatan Bali yang umumnya berpasir putih, Pantai Lovina tidak kalah menarik karena tergolong unik dengan kehadiran serombongan ikan lumba-lumba di pagi hari. Tidak hanya wisatawan yang datang berkunjung ke sana tetapi pengarang pun tertarik mengabadikannya lewat karya sastra. Selain Yvonne De Fretes pernah menerbitkan kumpulan cerpen Bulan Di Atas Lovina, sastrawan Sunaryono Basuki Ks telah berkali-kali menggunakan pantai itu sebagai latar tempat karya sastranya, di antaranya Maut di Pantai Lovina dan Aku Cinta Lovina..

Yang disebut terakhir kiranya menarik untuk diulas sekilas. Kendati judulnya mengandung kata cinta, novel ini tidak hanya bicara tentang cinta dalam konteks jalinan asmara antara laki-laki dan perempuan, tetapi juga mendedah indahnya cinta tak bersyarat (unconditional love).

Putu Suarcaya, pelaku utama dalam novel ini, adalah anak muda lulusan diploma pariwisata yang bekerja di sebuah hotel di Lovina. Sebagai staf front office ia menjalankan tugas yang berhubungan langsung dengan para tamu yang menginap di hotel. Suatu hari hotelnya kedatangan tamu dari Inggris, sebuah keluarga yang terdiri dari Mr. dan Mrs. Watson serta anak gadisnya yang bernama Caroline. Meski mereka check in lewat tengah malam, Putu tetap memberikan pelayanan dengan sebaik-baiknya. Rupanya Caroline sangat terkesan, sehingga kelelahan yang dia rasakan setelah terbang lintas benua selama tiga belas jam hilang begitu saja. Ia bahkan menyempatkan diri ngobrol dengan Putu.

Ternyata Caroline jatuh cinta pada Putu. Pada suatu kesempatan ia mengajak Putu bercinta di kamarnya. Namun Putu, pemuda desa yang dibesarkan di tengah keluarga tak berada yang berpegang teguh pada norma agama yang dianutnya, tidak mau meladeni Caroline lebih jauh bukan saja karena sedang bertugas, tetapi juga karena ia ingat pada Kadek Citra, adik kandung yang ia cintai melebihi dirinya sendiri.

Ia tidak ingin obsesinya untuk mengangkat taraf hidup keluarganya jadi berantakan gara-gara nafsu sesaat. Ia tidak ingin adik perempuannya kena karma akibat tabu yang ia langgar. Ia telah berjanji akan menanggung biaya pendidikan Citra ke jenjang yang lebih tinggi. Untuk itu ia rela membanting tulang dan juga mengabaikan godaan yang datang dari perempuan cantik adik atasannya di hotel. Ia bahkan tidak menyesal kehilangan jabatannya sebagai Front Office Manager yang baru disandangnya demi adiknya.

Ia bersyukur dengan keputusan yang telah ia ambil, karena keputusan itu membukakan peluang yang yang lebih baik baginya. Tak lama setelah itu ia diterima bekerja di hotel yang lebih besar dan tentu saja dengan gaji yang lebih besar pula.

Kebaikan lain juga datang tanpa diduga. Caroline tiba-tiba datang ke rumahnya di desa dan bilang pada orangtuanya akan mengajak Citra ke Inggris untuk melanjutkan studinya dan semua biaya ditanggung oleh keluarga Watson. Putu percaya, apa yang dilakukan Caroline bukanlah untuk membeli cintanya. Seperti dirinya, Caroline melakukan semua itu karena cinta lain: cinta tak bersyarat. Karena itu Putu tidak keberatan. Alhasil Kadek Citra punya kesempatan mengenyam pendidikan di luar negeri dan kemudian pulang dengan membawa gelar Ph.D.

Seperti Maut di Pantai Lovina, pengarang menggarap Aku Cinta Lovina dengan pendekatan bertutur sederhana, tidak ada pretensi untuk berindah-indah dengan bahasa. Itulah ciri khas sastrawan dari Bali Utara yang mengaku hanya sebagai tukang ketik dari cerita-ceritanya. Namun demikian kita tidak hanya disuguhi lanskap Bali yang demikian rinci tetapi juga keluasan wawasan dan pengalaman hidupnya.

Mengingat ia telah menulis tak kurang dari lima buku dengan judul mengandung kata Lovina, tak diragukan betapa dekatnya ia pada tempat itu baik dalam arti sesungguhnya maupun kiasan. Barangkali akan timbul pertanyaan, ada apa di balik kegetolan pengarang menulis buku dengan judul-judul seperti itu? Apakah semata-mata karena perasaan kagumnya pada kawasan itu atau alasan lainnya? Apa pun itu, lewat buku-bukunya, paling tidak pengarang sudah turut berbagi informasi dan semoga dapat menjadi sumbangan berharga bagi kawasan yang merupakan salah satu destinasi wisata penting di negeri kita.


TAGS :

Ketut Sugiartha

Ketut Sugiartha tinggal Tabanan, Bali. Menulis esai, puisi, cerpen dan novel. Tulisan-tulisannya telah tersebar di berbagai media cetak dan daring. Telah menerbitkan 10 buku fiksi meliputi kumpulan cerpen dan novel. Novel terbarunya: Kembali ke Bali.

Komentar