Jeruji Tikus

  • By IBW Widiasa Keniten
  • 23 Januari 2021
Pexels.com

           “Tikus memang rakus. Akalnya bulus. Hahahahahahaha! Jago mengerat beragam modus. Gerombolan rakus. Hahahaahahahaha! Kepala tikus memang khusus. Hahahahahaha! Dibesuk kalau ada bau busuk.  Hahahahahahaha! Jika berhasil kutangkap,  akan kularung ke laut. Hahahahahahaha!” Laki-laki itu seperti pemain drama yang sedang menghafalkan teks. Tikus diutak-atik.

            Ia memang teramat mangkel, mungkin lagi stres. Sudah beberapa kali ganti jeruji tikus belum juga mempan menjinakkan tikus sampai-sampai ia memesan secara khusus jeruji tikus agar sekali tangkap mampus itu tikus. Jeruji yang satu ini akan membuat gerombolan tikus itu mati kutu. Harapannya agar tikus-tikus itu tidak lagi bersosialisasi.

Penjual sekaligus pembuat jeruji tak mau kalah. Mungkin tahu peluang bisnis. Ia mempromosikan jerujinya di medsos. Bahkan ada yang memberikan testimoni bahwa jeruji tikus buatannya itu memang kuat dan tahan karat. Artinya, tidak akan keropos termakan waktu.

“Meskipun raja tikus, akan terkurung tiada ampun. Ini jeruji tak terbuat dari kawat biasa. Kawat-kawat ini terbuat dari serbuk ruang angkasa dari planet biar tahan karat dan berurat besi.”

 Penjual jeruji tikus mengaku sudah berkali-kali mengujicobakan. Katanya, setiap uji coba selalu berhasil. Tak pernah gagal. Jerujinya dipasangi sensor. Gerakan tikus terdeteksi dengan jelas. Gaya mengeratnya bisa terpantau. Kamera pemantau dibuat secara tersembunyi hingga tikus tidak bisa mengeratnya. Walau ada yang mau mengerat secara terbuka maupun pelan-pelan, dipastikan akan gagal. Benar-benar bagus jeruji ini. Sebagai orang yang percaya dengan mantra-mantra, beberapa mantra dirapalkan. Bisa dibayangkan berlapis-lapis penjagaannya hanya untuk tikus.

            “Jeruji ini tak akan bisa kau dobrak. Hai para tikus.” Laki-laki itu memuntahkan unek-uneknya. “Kau memang ditakdirkan tak pernah kenyang. Tikuuuuuuuuuuuuuuuuuus! Mampuuuuuuuuuuuuuuuuus kau sekarang ini.”

            Aku senyum-senyum saja saat mendengarkan ocehannya. Aku menyadari sekarang ini banyak yang stres karena lapangan pekerjaan tidak semudah tahun-tahun sebelumnya. Aku anggap sebagai orang yang baru bangun dan mengigau. Setiap melihat tikus di rumahnya, ia seperti itu. Keseimbangan pikirannya terganggu.

“Coba bayangkan. Siapa yang tidak marah? Sudah beragam lem tikus. Sudah beragam racun tikus tidak juga mempan. Masih saja bacot tikus itu bersuara cuit-cuit. Tidurku terganggu. Pesingnya minta ampun.” Ia berusaha memancingku.

            “Aku juga tidak mengerti,” sahutku. “Burung hantu sebagai pemangsa tikus seperti kewalahan memangsanya, saking banyak yang gede-gede, mungkin juga susah memilihnya, si burung hantu malas memangsa tikus lagi. Bisa jadi si burung hantu jerih, takut diserang bersama-sama. Si burung hantu hanya mematuk tikus-tikus yang masih merah bahkan ada yang masih buta.”

            “Makanya kupesan jeruji yang satu ini. Sudah terbukti.”

            “Gimana hasilnya?”

            “Lumayan bagus. Tidak rugi aku membelinya lewat on line. Terbukti kuat. Itu lihat! Kepala tikus sudah kumasukkan ke dalam jeruji. Ia memang belut. Susah ditangkap. Setiap akan ditangkap ada saja yang membocorkannya.”

            “Kok mirip seperti menangkap buronan saja?”

            “Memang benar. Tikus itu mengenal bau kita. Ia tahu mana bau menangkap mana bau bersepakat.”

            “Terus. Kenapa tikus-tikus itu bisa tertangkap?”

            “Ia lagi apes. Entah kenapa, tiba-tiba tebersit, aku beri umpan udang. Eh malah ia mau memangsanya bersama-sama. Jaringan tikus kuat dan solid. Jangan mengira tikus tidak pintar bersosilisasi.”

            “Ah, ada-ada saja.”

            “Bisa dibuktikan. Jangan main-main dengan tikus.”

            Aku tidak melayani lagi igauannya. Aku anggap bahwa itu kesenangan barunya saja karena tak ada pekerjaan yang membuatnya tenang. Kutinggalkan temanku ini. Hampir sebulan, aku tak pernah bertemu muka dengannya. Termasuk tidak mau melayani setiap ada FB-nya yang menyatakan bahwa jeruji tikusnya memang bagus. Saat dikirimi WA pun, aku tak mau membalasnya. Aku ingin tenang bulan-bulan ini. Ingin menikmati kesendirian. Ternyata enak juga menyendiri.

            Mungkin ia gelisah karena tak pernah sekalipun, aku membalas WA maupun mengomentarinya di FB, ia datang ke rumahku. Ia bawakan sekeranjang tikus. Aku geli melihatnya. “Ini buktinya. Jerujiku memang pilihan.” Kulihat tikus-tikus itu ada yang masih liar. Ada yang pasrah menunggu nasibnya. Ada yang menunduk lesu.

            “Kau sengaja mengumpulkan tikus-tikus itu lantas dibawa kemari?” tanyaku.

            “Hahahahahaha! Mungkin Ya. Mungkin tidak! Tikus-tikus ini masuk bersama-sama. Mungkin ia mau mendobrak jerujinya dari dalam. Ternyata duluan tertangkap. Inilah karma.”
Ia tertawa lebar. Pertanda kemenangan sudah diperolehnya.

            “Artinya, satu gerbong masuk ke jerujimu?”

            “Benar sekaliiiiiiiiiiiiiiiiii. Tikus bisa kukalahkan. Biar kapok. Terus saja bersembunyi di rumahku. Seperti janjiku dulu akan kularung ke laut.”

            “Maksudku begini.Tikus-tikus yang masih bersembunyi atau masih ragu bisa kita pantau lebih dini.”

            Ia tersenyum saat aku mengatakan kalimat itu. “Kau seperti pemantau gunung berapi saja. Sudahlah ini akan aku unggah di medsos agar semakin was-was tikus-tikus itu. Ada jeruji bersensor susah untuk dierat.”

            Ia buat video “Cara Mudah Menangkap Tikus” Ia tayangkan dari awal gerombolan tikus itu terseret ke jerujinya. Beragam komentar datang. Ada yang menyatakan mantap. Ada yang suka. Ada yang menyatakan keren. Ada juga yang menanyakan tempat membeli jeruji tikus.

            “Jika berminat hubungi nomor di bawah ini.” Ramailah ia mendapatkan pesanan jeruji tikus. “Syukur-syukur! Akhirnya aku tak jadi penganguran. Paling tidak bisa buat beli nasi jinggo.” Ia perlihatkan pesanan jeruji tikus.

            “Lumayan banyak yang suka jeruji tikus. Berarti di rumahnya banyak tikus juga?” Ia perlihatkan list permintaan jeruji tikus padaku.

            “Benar! Ini peluang bisnis. Tikus bisa dimanfaatkan dalam situasi seperti ini.” Tiba-tiba seekor tikus keluar dari jerujinya. Ia kaget. Matanya melotot.


TAGS :

IBW Widiasa Keniten

Ida Bagus Wayan Widiasa Keniten lahir di Giriya Gelumpang, Karangasem. 20 Januari 1967. Lulus Cum Laude di Prodi Linguistik, S-2 Unud 2012. Tulisan-tulisannya tersebar di berbagai media massa berupa esai, karya sastra maupun kajian bahasa dan sastra baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Bali. Cerpen-cerpennya pernah memenangkan lomba tingkat Nasional maupun provinsi.

Komentar